
Entah kenapa atmosfernya terasa berbeda, seakan penyebab dari sakitnya Arvi adalah karena dirinya. Padahal Lola sama sekali tidak pernah meminta Arvi untuk membantunya mengurus pekerjaan rumah, pria itu yabg menawarkan diri. Dia bilang pekerjaan rumah harus dilakukan oleh orang-orang yang menempati rumah itu.
Menyadari kecanggungan Lola bersuara, "aku baru ingat kalau dry food Gembul hari ini mau habis. Sebentar ya Ma, Oma. Lola pergi ke minimarket depan dulu."
"Pergi sama apa, La?"
"Biar Mas antar." Lola baru saja akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya itu saat Arvi tiba-tiba menawarkan diri.
"Antar gimana kamu kan masih sakit?" Seru Oma lalu menggeleng keras, "gak. Kamu belum boleh kemana-mana!"
"Gak usah Mas, aku bisa jalan kaki kok, kan deket." Kata Lola, entah kenapa ia merasa butuh waktu untuk sendiri, "maaf ya Ma, Oma. Lola tinggal dulu."
"Hati-hati ya, La. Mau Mama temanin gak?" Tawar sang Mama mertua.
Lola menggeleng sambil tersenyum. "Gak papa kok Ma, deket kok. Gak nyampe lima menit juga paling udah sampai." Ucapnya sebelum kembali berpamitan. "Kalau gitu Lola pergi dulu ya."
"Sayang, hati-hati." Arvi tampak melepas Lola dengan berat hati, dia tak mengerti kenapa wanita itu tiba-tiba malah kepikiran untuk membeli dry food, bukannya apa-apa Arvi jelas tahu kalau Lola pasti masih memiliki banyak stok makanan untuk Gembul. Mulai dari dry food hingga Snack sekalipun.
"Bahkan disaat suaminya lagi sakit sekalipun dia tetap saja masih memprioritaskan peliharaannya itu." Sahut Oma tak lama setelah kepergian Lola.
"Oma jangan begitu," tegur Mira.
"Jangan-jangan dia malah lebih khawatir sama kucingnya yang belum makan dibanding sama penyakit kamu, Ar?"
Perkataan Oma barusan membuat Arvi sontak menghela nafas, Lola jelas tidak seperti apa yang Omanya itu duga. Arvi masih ingat saat malam dimana panasnya masih memuncak, Lola harus terbangun setiap lima belas menit sekali untuk mengganti kompresannya. Bahkan saking khawatirnya sang istri padanya, wanita itu sampai menahan diri untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah seharian karena mau menemani dan menjaga Arvi selama dua puluh empat jam.
__ADS_1
Menurutnya, sikap Oma tadi terlalu berlebihan. Mungkin wanita itu tidak sadar kalau apa yang ia lakukan barusan nantinya malah akan berdampak pada merenggangkannya hubungan antara ia dan Lola. Dan Arvi jelas sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
Masa ia mereka yang baru saja berbaikan bertengkar lagi hanya gara-gara Oma?
***
Dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lain, Lola dapat menyimpulkan kalau suaminya itu adalah cucu kesayangannya Oma. Bagaiman tidak? Sedari tadi yang Oma lakukan adalah duduk disebelah Arvi sambil menyuapinya makan. Walau Arvi tampak harus menahan malu karena pria umur di atas tiga puluhan mana yang mau di suapu seperti itu saat kondisinya jelas baik-baik saja untuk mengangkat sendok sendiri.
"Oma memang begitu, kalau denger Arvi Lagi sakit ia langsung panik. Karena dulu waktu kecil Arvi sering kami titipin di rumah Oma. Makanya di antara anak Mama yang lain, Oma tuh lebih sayang sama Arvi. Habisnya dari kecil dia yang urus terus."
Penjelasan dari Mama mertua membuat Lola mengangguk paham, dia memang sudah mendengar dari mulut Arvi kalau dulu saat pria itu masih kecil ia cenderung lebih sering menghabiskan masa kecilnya dirumah Oma. Kata Arvi rumah Oma adalah tempat paling nyaman baginya, selain karena suasana yang sepi lantaran Oma hanya tinggal sendiri, sikap Oma yang selalu memanjakan dan menuruti apa pun keinginannya membuat Arvi betah berlama-lama disana.
Tidak heran kalau dulu wanita itu begitu pemilih dalam mencari wanita yang akan dijadikan istri oleh Arvi.
"Kalau Arvi lagi kerja, Lola ngapain aja dirumah?"
Pertanyaan dari Mama mertua datang saat Lola sedang sibuk merawat tanamannya di teras.
"Ya, paling cuma rapiin rumah, Ma. Beres-beres. Terus kalau lagi pengen ngobrol ya main kerumah tetangga, kebetulan disini tetangganya pada baik-baik." Balas Lola sambil menyirami tanamannya itu.
Anggun ber-oh ria sebelum kembali melanjutkan, "Mama minta maaf ya, sayang."
"Minta maaf kenapa, Ma?" Heran Lola, pasalnya mertuanya itu tidak berbuat kesalahan apapun.
"Kalau sekiranya ada perkataan Oma yang menyakiti hati kamu," ujar Anggun yang paham betul bagaimana perasaan Lola. "Padahal bukan salah kamu kalau Arvi gak mau ke dokter, memang dari dulu dia anaknya keras kepala."
__ADS_1
Lola mengulas senyum tipis, "gak papa kok, Ma. Lola juga salah. Harusnya Lola bisa lebih maksa Mas Arvi buat mau ke dok___"
"LOLA!"
Suara teriakan Oma dari dalam kamar membuat Lola dan Anggun lantas tersentak, bergegas keduanya masuk ke dalam rumah agar bisa mengetahui alasan kenapa Oma bisa berteriak dengan begitu kerasnya. Namun, saat memasuki kamar pemandangan yang ia lihat hanyalah Oma yang tampak ketakutan saat Gembul mulai mencoba naik ke atas kasur. Dengan Arvi disisinya mencoba menenangkan kalau tidak akan terjadi apa-apa.
Segera Lola menggendong Gembul dan membawanya menjauh dari tempat tidur, Lola tahu kalau Oma sangat anti dengan kucing. Bukannya anti tapi dia mungkin merasa geli melihat hewan gemuk yang di mata Lola terlihat amat menggemaskan itu.
"Bagaimana bisa kucing itu naik ke atas kasur?" Tanya Oma tak habis pikir..
Lola meringis, "ya bisa Oma kan dia tidurnya juga disana." Ujarnya dengan mata Oma membelalak seketika.
"Apa? Kalian berdua tidur sama kucing?"
Lola melirik Arvi cepat dengan dua alis terangkat, memang ada yang salah dengan tidur bersama kucing? Toh dia kan hewan kecil yang lucu, beda kasus kalau Lola tidur dengan paus biru yang merupakan mamalia terbesar di dunia. Mungkin jadi masalah, sampai Oma tampak sekaget itu.
***
"Oma pikir kucing itu tidur disini ada kandangnya sendiri tapi nyatanya dia malah bebas berkeliaran hingga tidur diatas kasur," ucap Oma pada Arvi saat Lola dan Anggun baru saja keluar untuk membeli sayur.
Arvi membuang nafas kasar, "kandangnya ada kok Oma cuma emang Gembul lebih suka tidur di atas kasur." Jelas pria itu.
"Ya larang dong, masa iya hewan di biarin tidur di atas kasur. Nanti kalau bulunya lengket di sprei gimana?"
"Gak kok Oma, tiap hari Lola selalu bersihin bulu yang menempel di sana pakai alat khusus. Selain itu juga tiga kali seminggu sprei rutin di ganti."
__ADS_1