
Hari selanjutnya di lalui Lola dengan perasaan hampa. Dia pikir masalah dengan Arvi berakhir malam itu sehingga keesokan paginya mereka bisa berbaikan seperti semula. Tapi nyatanya tidak, suaminya itu masih tetap mengabaikannya. Walau Lola sudah berulang kali meminta maaf.
Tidak masalah kalau misalnya pria itu ingin memarahinya seperti tadi malam, Lola akan terima. Tapi tidak dengan bersikap dingin seperti ini. Jujur ia tidak bisa jika kehadirannya seolah-olah dianggap bagaikan makhluk yang tak kasat mata oleh sang suami.
Sambil menggendong Gembul, Lola pun mulai berjalan masuk ke dalam kamar. Terlihat Arvi sedang sibuk merapikan pakaiannya di depan cermin. Ya hari ini mereka memang ada acara untuk kumpul keluarga di kediaman keluarga Arvi. Semua orang yang ada disana. Mulai dari keluarga Galih, Yazid dan juga Michelle.
"Kenapa kamu diam disitu?"
Pertanyaan itu membuat Lola lantas tersentak dan buru-buru menggelengkan kepala. Rasanya asing saat beberapa hari ini Arvi tampak memanggilnya dengan panggilan kamu alih-alih sayang. Terlalu formal dan kaku, Lola tidak suka.
"Gak papa," ujarnya tanpa sadar mulai meneliti penampilan Arvi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Walaupun masih diam-diaman Lola merasa lega karena pria itu masih mau memakai pakaian yang ia pilihkan.
"Kamu gak mau ganti pakaian?" Tanya Arvi pada Lola yang masih berdiri menatapnya sambil menggendong Gembul.
"Oh iya. Pegangin bentar, Mas." Segera Lola menyerahkan Gembul pada sang suami. Kebetulan setelah mandi tadi dia hanya memakai kaus dan celana pendek karena harus memberi makan Gembul terlebih dahulu.
Lola mulai berjalan menuju lemari pakaian, di tangannya kini sudah ada dua buah gantungan berisikan dress berwarna maroon dan juga navy.
"Yang maroon aja."
Lola seketika menoleh saat suara sang suami kembali terdengar. Walaupun terlihat acuh saat mengatakannya. Lola menyadari betul kalau sedari tadi Arvi tampak terus memperhatikan gerak geriknya Yang kebingungan dalam memilih pakaian.
Tanpa peduli banyak Lola pun memutuskan untuk segera memakai dress maroon yang tadi telah Arvi pilih. Hal yang tentu saja tak luput dari perhatian pria itu, dia menatap Lola lekat saat sang istri kini mulai kesulitan memakai dress-nya.
"Kok resletingnya susah di naikin sih?" Gerutu Lola pelan sambil mencoba menaik turunkan resletingnya di depan cermin.
"Kalau gak bisa itu minta tolong bukannya marah-marah," Arvi berujar sambil mendekat ke arah Lola untuk membantu istrinya itu. "Sini."
"Siapa juga yang mulai marah-marah duluan," cibir Lola walau akhirnya pasrah saat Arvi kini mulai membantunya menaikkan resleting yang ada di bagian punggungnya.
"Resletingnya macet, sebentar Mas ambilin lilin dulu."
__ADS_1
Bola mata Lola kini mulai mengikuti kemana arah Arvi pergi. Setelah menemukan sebuah lilin di dalam lemari, pria itu pun mendekat ke arah Lola dan menggosokkan batang lilin tersebut ke arah resletingnya yang macet. Hanya butuh beberapa kali percobaan hingga akhirnya resleting itu berhasil di naikkan.
"Selesai," ujar Arvi lalu kembali mengurai rambut Lola ke belakang.
Lewat kaca rias Lola mulai mengamati penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, semuanya tampak baik-baik saja. Tapi entah kenapa ia merasa ada yang berbeda.
"Kok aku gendutan ya pakai ini?" Lola bergumam pelan sambil menatap tubuhnya di cermin. Dia baru menyadari kalau ternyata tubuhnya sedikit lebih berisi di banding sebelumya. "Jelek ih, mau ganti aja."
"Mau ganti yang mana lagi, kita udah telat loh." Ujar Arvi tak habis pikir.
"Tapi jelek, lengannya pendek lemak aku keliatan semua." Balas Lola sambil mengerucuti bibir. "Apalagi di pipi," kedua pipinya mengembung seketika.
"Mana?" Arvi membalik tubuh Lola agar berhadapan langsung dengannya, "enggak kok." Lanjutnya setelah meneliti tubuh wanita itu dari ujung kepala hingga kaki, "cuma di pipi doang."
"Apanya?"
"Lemak."
"Jangan pegang-pegang kalau sendirinya masih marah," ucap Lola sebelum kembali menghadap cermin dan merapikan rambutnya.
"Padahal mau gimana pun juga tetap cantik."
Gumaman itu membuat Lola lantas berbalik dan mengangkat alis, "Mas bilang apa?" Tanyanya dengan penuh selidik, "pasti ngeledekin aku ya?"
Arvi tampak tersenyum samar. Hal yang membuat kecurigaan Lola semakin membesar, "Mas tunggu di luar." Ucapnya lalu segera pergi membawa Gembul.
Lola mendelik seketika, "giliran ngeledekin aja baru mau ngomong." Sebalnya sebelum kembali menatap wajahnya di cermin.
***
Lola berdehem pelan saat merasakan suasana di mobil terasa sepi, tak ada yang mau bicara. Hanya suara Gembul yang sesekali mengeong memecah kebisuan. Menjadi bukti bahwa disini masih ada kehidupan dengan dua orang manusia dan satu kucing di dalamnya.
__ADS_1
Sejak tadi Lola mencoba menahan diri agar tidak banyak berceloteh seperti biasa. Alasannya karena dia ingin memancing Arvi agar bicara duluan. Tapi setelah setengah jam berselang yang di tunggu pun tak kunjung datang. Membuat mulut Lola jadi gatal ingin bicara karena jujur ia tak terbiasa dengan suasana hening seperti ini.
"Ekhem, ekhem."
Lola berdehem keras sambil memukul dadanya pelan, ujung matanya sesekali melirik ke arah sang suami yang masih fokus menyetir. Karena tak ada tanggapan Lola pun semakin menguatkan suaranya, berharap pria itu peka dan mau mengajaknya bicara.
"Kamu kenapa? Keselek?"
"Panas banget ya hari ini, jadi haus." Mengabaikan pertanyaan Arvi, Lola pun mulai mengipasi wajahnya dengan satu tangan.
"Kamu haus," tanya Arvi kembali melirik Lola.
"Gembul, aku haus!" Lola mulai mengangkat Gembul setinggi dadanya sebelum mencium kucingnya itu, "mau es krim. Kira-kira ada yang mau beliin gak ya?"
Lola kembali melirik Arvi dengan raut wajah tak berdosa. Berharap kode yang ia sampaikan barusan tersampaikan dengan baik. Walau sebenarnya ia tak terlalu ingin makan es krim hari ini. Tapi ya apa salahnya mencoba kan?
Lola lagi-lagi melirik Arvi yang hanya diam. Kenapa dia tidak kunjung peka? Apa kode yang Lola sampaikan tadi kurang keras? Lola menghembuskan nafas kasar. Segera ia alihkan pandangannya ke arah kaca. Hal yang tak berlangsung lama karena setelahnya ia di buat keheranan saat Arvi tiba-tiba memberhentikan mobil.
"Kok berhenti?"
"Katanya mau es krim," Arvi berujar sambil melepas sabuk pengaman. "Sebentar Mas belikan dulu."
"Serius?" Pupil mata Lola melebar seketika dengan kedua pipi mengembang senang.
Arvi berdehem pelan, "kamu tunggu di mobil sebentar."
Lola mengangguk dengan senang hati, di tatapnya Arvi yang kini mulai keluar dari mobil dan menyebrangi jalan agar bisa menuju minimarket depan. Ternyata pancingannya berhasil, sembari menunggu Arvi kembali. Lola pun memutuskan untuk mendengarkan musik dari ponselnya.
Tak lama Lola dapat melihat Arvi keluar dari minimarket dengan satu plastik besar di tangannya. Padahal kan Lola hanya minta es krim tapi kenapa plastik yang di bawa suaminya itu besar sekali.
"Ini," Arvi menyerahkan plastik besar itu pada Lola.
__ADS_1