Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Masih kepikiran omongan Buklik


__ADS_3

Lola seketika menghembus nafas kasar. Jangan sampai ucapan Buklik Risma barusan malah membuatnya kembali meragukan sang suami seperti apa dulu pernah ia lakukan.


Tapi walau begitu mengapa perasaan cemas dan takut kini perlahan malah menggelayutinya?


***


Arvi masuk kedalam rumah setelah mengambil kunci yang tersimpan di dalam pot. Belum ada tanda-tanda kalau istrinya itu ada dirumah. Terlebih saat menengok garasi, Arvi sama sekali tidak melihat mini Cooper kepunyaan Lola berada disana seperti biasa.


Arvi berhenti sebentar di depan kulkas untuk mengambil minum sebelum akhirnya beralih ke meja makan, dia mengerutkan dahi saat disana ternyata tidak ada makanan apa-apa. Apa sebelum pergi Lola tidak memasak terlebih dahulu?


Arvi menghela nafas panjang, segera ia mencari ponselnya agar bisa menelepon Lola. Menanyai dimanakah keberadaan istrinya itu saat ini, apakah masih ada dirumah Buklik Risma atau sedang berada di perjalanan.


" Halo, sayang."


" Halo?" Balas Lola di ujung sana.


" Kamu dimana? Kok belum pulang?" Tanya Arvi sambil melirik jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. " Udah jam segini lho."


" Aku lagi dirumah mami, rencananya Tu mau nginep sehari atau dua hari."


" Hah?" Kaget Arvi karena saat berpamitan Lola tak bilang kalau dia akan menginap. " Mau nginep? Kenapa tiba-tiba?"


" Ya, tadi aku...."


" Tadi apa?" Mendengar nada bicara Lola langsung berfirasat telah terjadi sesuatu pada istrinya itu. " Kamu kenapa, sayang?"


" Mobilnya."


" Kenapa sama mobilnya?"


" Mobilnya pas aku di jalan tadi tiba-tiba mogok."  Sahut Lola membuat Arvi sontak memijit pelipisnya tak habis pikir. " Terus pas aku coba check malah keluar asap."

__ADS_1


Arvi menghela nafas berat sambil terus memijit dahi dan pelipisnya. " Ini akibatnya kalau kamu itu gak nurut apa kata suami, Mas kan udah bilang kalau mobil kamu itu gak bisa dipakai." Ujar pria itu tepat sasaran.


" Mas udah ya? Aku ini lagi pusing banget lho. Memang Mas pikir aku mau mobilnya kayak gitu. Ini tuh musibah." Balas Lola membela diri.


" Musibah yang harusnya bisa dihindari kalau kamu gak egois dan keras kepala."


" Stop ya labelin aku pakai kata egois dan keras kepala." Sahut Lola tak terima. " Kalau Mas nelpon aku cuma bisa misuh-misuh begini mending telponnya ditutup aja deh. Aku lagi dak mood buat berantem."


Arvi menghembuskan nafas panjang, dia berusaha untuk tidak memperkeruh masalah yang ada di antara mereka berdua. " Yaudah besok kita sambung lagi. Sekarang kamu istirahat, pasti kamu capek kan?"


" Okey, telponnya aku tutup dulu. Ngantuk."


Arvi berdehem sekali lagi. " Tidur yang nyenyak." Pesannya.


Arvi pikir Lola akan menjadi orang pertama yang akan mematikan sambungan telpon tersebut, tapi sayangnya tidak. Setelah beberapa menit keheningan di antara mereka  berlalu, sambungan tersebut masih saja terhubung satu sama lain.


" Masih ada yang mau kamu bicarakan?" Tanya Arvi sembari menebak-nebak.


" Ya?"


" Jangan lupa makan." Ingat Lola membuat Arvi lantas terdiam dan terpaku di tempat. " Sebelum pergi tadi aku bikin rendang pakai bumbu instan, enak gak enak makan aja daripada perutnya kosong pas tidur."


Arvi memejamkan mata sambil mendengar suara Lola.


" Mas denger gak?"


" Iya sayang."


" Rendangnya ada di dalam kuali. Kalau mau makan panasin dulu." Pesan wanita itu memberi instruksi.


" Iya sayang." Ulang Arvi lagi.

__ADS_1


" Jangan iya-iya mulu, sana makan." Suruh Lola. " Nanti perutnya sakit."


Arvi mengulum senyum, semarah dan sekesal apapun Lola padanya tetap saja wanita itu tak pernah gengsi untuk menunjukkan rasa khawatirnya. " Kamu juga jangan lupa makan," balas Arvi. " Maaf kalau malam ini tidur kamu gak nyenyak karena gak bisa peluk Mas."


" Dih pede, enakan tidur sendiri juga." Cibir Lola sebelum akhirnya benar-benar menutup telpon. Walau sebenarnya ia sendiri juga tak yakin apa bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


***


Menonton film kartun adalah salah satu cara yang Lola gunakan untuk mempertahankan diri agar tetap waras. Dia Syerin Lola Amaria Puspajaya, wanita berusia hampir dua puluh delapan tahun yang belum punya anak di usia pernikahannya sekitar ke dua tahun. Jelas sedikit banyak telah terkontaminasi oleh ucapan sang Buklik mengenai cerita wanita yang diceraikan suaminya karena belum bisa memberi keturunan.


Oke anggaplah Lola lebay dan terlalu berpikiran negatif terhadap apa yang belum terjadi, tapi tetap saja hal itu membuatnya ketar-ketir. Cinta sang suami padanya memang tak bisa di ragukan lagi, tapi apakah cukup hidup hanya dengan cinta? Sementara keluarga dari pihak suaminya itu selalu saja tak pernah absen menanyai mereka tentang anak, anak dan anak.


Tertawa di tengah masalah batin yang melandanya saat ini memanglah seperti sebuah ironi. Nyatanya kelucuan di kembar botak bersama teman-temannya di kampung durian runtuh tak bisa mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan yang kini mulai bermunculan dalam benaknya.


Apakah mungkin nasibnya akan sama seperti wanita yang diceritakan Buklik kemarin? Apa keluarga Arvi akan setega itu membuangnya saat mereka tahu ada kemungkinan bagi Lola untuk tidak memberikan keturunan bagi Arvi?


Niat hati untuk menenangkan diri malah berakhir dengan overthinking. Lola mendesah pelan sebelum akhirnya menggeliat di sofa. Sudah terhitung tiga hari dia ada disini demgan beralaskan ingin menemani sang Mami. Walau kenyataannya ia hanya ingin mencoba memberi pelajaran pada Arvi sekaligus menenangkan diri dari pemikiran-pemikiran negatif yang mulai timbul karena terkontaminasi perkataan Buklik Risma.


" Ya ampun ini anak belum pulang juga ternyata. Sana pulang! Liat kamu disini bikin Mami keinget zaman-zaman dimana kamu masih pengangguran." Usir sang Mami dengan tak berperikemanusiaannya saat melihat Lola rebahan di sofa bersama Gembul disampingnya.


" Nanti." Cibir Lola. " Mobilnya kan masih di bengkel." Alasan yang ia berikan tidak sepenuhnya salah. Memang kenyataannya mobilnya itu masih ada di bengkel.


" Ya kan bisa naik taksi, La?"


" Mami kenapa sih? Emang gak boleh ya kalau Lola lama-lama disini? Ini kan juga rumah Lola." Sahut Lola tak terima, padahal dia disini hanya tiga hari tapi Mami bertingkah seakan-akan dia sudah ada disini sejak berbulan-bulan.


" Bukan begitu, Mami gak pernah larang kalau kamu mau lama-lama disini. Tapi harus tetap ingat sama tugas dan kewajiban sebagai seorang istri. Kamu leha-leha disini memangnya gak mikirin Arvi?" Tanya sang Mami membuat Lola lantas mendengus pelan. " Tiga hari lho, La? Kalau sampai mertuamu tahu bisa habis kena omongan mereka gara-gara telantarin anaknya."


" Telantarin gimana? Emang Mas Arvi bocah umur lima tahun yang gak bisa bertahan hidup tanpa aku." Cibirnya sebelum kembali melanjutkan. " Mas Arvi itu mandiri tahu, Mi! Lebih mandiri dari Lola malah."


" Semandiri-mandirinya suami tetap aja dia butuh sosok istri di sampingnya." Puspa terdiam sejenak sambil memandang Lola dengan mata menyipit. " Atau jangan-jangan kalian lagi berantem ya makanya kamu milih kabur ke mari?"

__ADS_1


__ADS_2