Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
ANNIVERSARY


__ADS_3

Lola mengulum senyum. " Serius Lo gak ada pasangan? Masa sih?"


" Ya kan gue nungguin Lo. Eh taunya Lo udah main aja, tega ya Lo, Lo ninggalin gue."


" Enggar, gue serius!" Seru Lola sambil memasang wajah lelahnya.


Enggar tertawa hingga matanya menyipit seketika. " Bercanda."


" Jadi, gimana mau pergi gak?" Enggar kembali mengulang pertanyaan yang sama.


" Gue gak bisa janji ya, Enggar. Liat nanti deh. Lagian gue juga  belum izin sama suami."


" Apa perlu gue yang minta izin ke suami Lo, sama seperti gue apa yang dulu pernah gue lakuin pas minta izin sama orangtua Lo pas acara study tour?"


" Lo masih ingat ternyata."


" Ya kali gue lupa. Butuh perjuangan banget buat yakinin Mami Papi Lo." Jelasnya membuat Lola lagi-lagi terkekeh. Dia akui perjuangan Enggar demi bisa meyakinkan orangtuanya waktu itu patut di acungi jempol.


" Kalau Lo jadi nanti hubungi gue ya. Biar nanti gue yang jemput sekalian minta izin sama suami Lo. Kira-kira dia cemburu gak ya?"


" Maybe." Balas Lola.


" Lo tahu kan bikin orang cemburu adalah keahlian gue." Timpal Enggar.


" Kebiasaan!"


Enggar terkekeh geli. " Ini kok gak dimakan?" Tanyanya menunjuk cup gelato Lola yang masih penuh.


" Udah kenyang." Lola beralibi dengan raut wajah begitu meyakinkan.


" Gue habisin ya, greentea disini gak enak ternyata."


Bahkan sebelum Lola sempat mengatakan iya atau tidak, Enggar sudah lebih dulu mengambil cup gelato miliknya dan memakannya. Lola mengerjakanbmata berulang kali. Merasa janggal dengan apa yang dilakukan  Enggar namun disisi lain ia juga tak enak hati jika harus menegur pria itu.


***


Lola punya beribu alasan kenapa dia sangat mencintai rumah yang Oma sebut kecil dan pengap ini. Selain sejarahnya yang lumayan banyak karena disinilah awal dimana pertemuannya dengan Arvi, sang suami. Lola juga menyadari betul kalau lingkungan diperumahan ini sangatlah cocok dengannya.

__ADS_1


Semua yang ia butuhkan bisa dibilang ada di sini. Mulai dari tetangga yang baik dan ramah, suasana yang aman dan nyaman serta alasan-alasan lainnya yang membuat betah untuk tinggal disini walau Oma selalu mengatakan kalau rumah ini terlalu kecil untuk mereka tempati.


Padahal tidak bisa dibilang kecil juga. Karena rumah ini mempunyai tiga kamar yang berukuran lumayan, satu ruang tamu  yang terhubung dengan ruang keluarga, dua akmar mandi, satu dapur, teras dan juga pekarangan yang sangat luas. Lola sangat menyukai tiap detail yang ada di rumah ini. Bahkan jika bisa memilih ia ingin tinggal disini selamanya.


" Siapa yang mau Snack?" Tawar Lola membuat beberapa anak yang sedang bermain sepeda dipekarangan ya sontak berebutan ingin mendekat kearahnya. " Jangan berebutan ya. Semua kebagian kok."


" Tante boleh Ifdal ambil dua?" Pinta seorang anak dengan badan gembul dan pipi tembem.


" Boleh, ambil aja."


" Tante, aku juga mau ya!" Seru yang lain lalu mulai memasukkan tangannya ke dalam kardus berisi Snack yang Lola bawa.


" Iya, iya boleh tapi jangan rebutan ya." Ulang Lola karena anak-anak itu terlihat begitu antusias.


" Tante lain kali boleh gak cikinya diganti jelly aja?" Tanya Nisa, di gadis manis dengan rambut kuncir kuda yang sedikit mengingatnya pada gaya rambut andalan Michel Platini.


" Jelly? Nisa suka jelly?"


Nisa mengangguk keras. " Suka banget, Tante."


" Besok Tante beli ya jelly- nya, sekarang ambil cikinya dulu atau coklatnya juga boleh."


" Boleh tapi makannya jangan banyak-banyak ya. Nanti kalo kebanyakan bisa sakit gigi. Okey?"


" Yes," Andre bersorak senang. " Makasih, Tante. Tante cantik deh."


Lola geleng-geleng kepala mendengarnya. Anak zaman sekarang benar-benar selalu berhasil membuatnya terkejut. Setelah kejadian dimana Nisa mengaku di beri surat cinta oleh teman sekelasnya. Lola harus dibuat terkejut dengan pengakuan Andre yang memujinya dengan sebutan cantik. Padahal umur mereka baru enam tahun alias baru masuk SD. Tapi kosa kata yang ia gunakan sudah seperti orang dewasa.


" Sekarang pulang ya. Udah mau Maghrib nanti Mama Papa pada cariin."


" Okeee Tante."


Dengan patuh mereka pun mulai naik ke atas sepeda masing-masing dan mengayuhnya pulang. Sebelum masuk ke dalam rumah, Lola menyempatkan diri untuk balas melambaikan tangan.


" Pulangnya hati-hati ya." Pesannya.


Usai anak-anak itu tak terlihat lagi, Lola pun kembali masuk ke dalam rumah. Dia mulai menutup pintu dan tiap jendela yang ada disana. Seperti sebuah kebiasaan karena Arvi selalu berpesan begitu padanya.

__ADS_1


[ Mas, udah makan?]


[ Pulang jam berapa nanti?]


[ Lola tunggu ya?]


[ Semangat syutingnya]


Menatap pesannya yang tak kunjung dibaca oleh sang suami. Membuat Lola lantas menghembuskan nafas kasar. Dia tidak lupa kan hari ini hari apa? Atau jangan-jangan memang lupa seperti dia yang tak mengingat hari ulang tahun Oma.


Lola menghempaskan tubuhnya di kasur. Entah kenapa rencana yang sudah ia persiapkan hingga berhari-hari lalu kini terasa hambar.


Padahal tadi pagi Lola sudah mencoba untuk memberi kode pada suaminya itu. Tapi sayangnya mungkin kode itu tidak tersampaikan dengan baik.


Lola hanya berharap semoga Arvi masih mengingat kalau hari ini adalah hari dimana umur pernikahan mereka menginjak angka dua tahun.


***


Lola berdiri di teras rumah sambil memeluk tubuhnya yang berbalutkan piyama keluaran brand mereka. Malam sudah larut tapi suaminya itu belum pulang juga. Ya Lola tahu kalau hari ini Arvi akan pulang terlambat. Tapi apa dia tidak menyadari kalau hari ini adalah hari anniversary pernikahan mereka yang ke dua tahun.


Lola sudah menyiapkan kue dengan lilin angka dua sejak tadi. Anggaplah ia kekanakkan karena masih merayakannya seperti anak kecil begini. Tapi itu jelas jauh lebih baik dari pada harus menyewa tempat umum seperti hotel berbintang lima dan sebagainya. Iya, kan? Sudah Lola bilang kalau ada setelah menikah ia jadi lebih perhitungan.


Lantaran putus asa karena telponnya tak kunjung diangkat, Lola pun memutuskan untuk menelpon Boss, Manajer Arvi.


" Hallo, Boss. Ini Lola."


" Hallo? Iya kenapa Lola?" Tanya pemilik suara dia seberang sana.


" Gini Boss." Lola mulai duduk di kursi teras. " Aku mau tanya. Mas Arvi masih di lokasi syuting ya? Atau udah pulang? Soalnya aku coba hubungi dari tadi handphone-nya gak aktif. Kira-kira kamu tahu gak dia dimana?"


" Arvi sudah pulang dari tadi, La. Cuma mungkin....?" Boss tampak menjeda membuat Lola lantas mengerutkan kening.


" Mungkin apa?"


" Nyampe rumahnya agak lama. Karena dia harus nganterin Yasmin dulu ke apartemennya."


Lola tak bisa menahan keterkejutannya. " Hah, nganterin Yasmin? Gimana maksudnya?" Ucap wanita itu minta penjelasan.

__ADS_1


" Santai La, santai. Cuma nganterin biasa aja, kok. Lo jangan marah dulu. Arvi juga gak bisa nolak karena sutradaranya yang minta langsung." Boss mencoba untuk menjelaskan.


__ADS_2