Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Pulang ke rumah Mami


__ADS_3

Pria itu tampak menghela nafas. "Masalahnya kamu itu istriku," ucapnya menekankan. "Apa yang nanti akan dipikirkan Mami Papi saat Mas antarkan kamu kesana dengan koper sebesar ini? Bisa-bisa mereka akan mengira kalau kalah kita sedang kisah ranjang."


Gerakan tangan Lola tampak berhenti seketika sebelum akhirnya kepalanya berputar lurus menatap sang suami dengan tatapan sengit. "Kenapa kamu harus pedulikan apa yang nanti orangtuaku pikirkan sementara kamu sendiri gak pernah memikirkan perasaanku?"


"Aku gak mikirin perasaan kamu?" Arvi mengerutkan dahi tak mengerti.


"Selama ini saat Oma dengan santainya mencampuri urusan rumah tangga kita, kapan kamu pernah berpihak kepadaku? Kapan kanu belain aku di depan Oma, Mas?" Lola menunjuk diri sendiri dengan jari bergetar. Rahangnya mengetat seolah sedang menahan amarah. "Jangan bertingkah seolah-olah cuma kamu yang tersakiti disini. Karena faktanya yang selalu saja mengalah, mengalah dan mengalah diantara kita berdua itu aku! Selama ini aku mungkin masih bisa menahan diri tapi tidak dengan sekarang. Kamu tahu kan kalau kesabaran seseorang itu ada batasnya. Dan sekarang aku udah benar-benar muak!"


Saat Lola menatap ke kedua bola mata Arvi, dia dapat melihat ada pancaran keterkejutannya di sana. Mungkin pria itu tak menyangka kalau Lola akan mengatakan hal seperti ini. "Aku minta maaf. Mewakili semua luka yang udah aku dan keluargaku kasih ke kamu. Aku benar-benar minta maaf." Arvi berucap tulus dengan sorot mata penuh penyesalan. "Tolong jangan pergi kemana-mana, Mas mohon. Tetap disini, dirumah kita."


Lola menggeleng keras saat Arvi kini mulai berdiri dihadapannya sambil memohon-mohon. Dia sudah cukup lelah untuk menghadapi drama-drama lain yang akan terjadi jika ia tetap berada disini.


"Aku akan tetap pergi, kamu mungkin bisa nahan aku untuk gak pergi malam ini tapi besok apapun yang terjadi aku akan tetap pergi." Ujar Lola memberi tahu, "kamu gak perlu takut dengan apa yang dipikirkan orangtuaku nanti karena aku gak sejahat itu untuk memberitahu mereka apa-apa saja kebusukan yang udah keluargamu berikan ke aku."


Suasana mendadak hening dan mencekam saat Lola kembali sibuk mengemasi pakaiannya. Bahkan lemari pakaian mereka yang semula dipenuhi oleh pakaian Lola kini sudah kosong melompong.

__ADS_1


"Apa kalau aku memohon sambil berlutut seperti ini bisa menghentikan niatmu untuk tidak pergi?" Lola tersentak saat tiba-tiba Arvi mulai berlutut di hadapannya. Dapat ia lihat mata pria itu tampak berkaca-kaca sebelum akhirnya setetes air mata jatuh dari sana. Membuat nafas Lola merasa terhenti karena jujur ini pertama kalinya ia melihat sang suami menangis di depan mata kepalanya sendiri dan itu pun karena dia.


"Kamu bilang kamu menyesal menikah denganku. Kamu juga berandai kalau saja waktu itu gak menerima lamaranku. Apa itu berarti kamu gak bahagia dengan pernikahan ini? Apa itu artinya dua tahun ini gak berarti apa-apa buat kamu?"


Dapat Arvi lihat bola mata Lola berpencar saat pertanyaan itu ia ajukan padanya. Ia harap pertanyaan itu bisa membuat Lola kembali berpikir ulang tentang keputusannya untuk pergi. Merasa tak ada jawaban, Arvi pun mencoba meraih tangan sang istri. Dia benar-benar takut kalau Lola akan menyerah dengan rumah tangga mereka.


Arvi tersentak saat Lola dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Arvi sebelum akhirnya menyerongkan badan dan bersidekap. "Aku gak tahu. Aku gak bisa jawab pertanyaan itu sekarang."


"Apa sesusah itu bagi kamu untuk memberikan jawaban?" Tanya Arvi.


Arvi sontak berdiri dan menatap Lola penuh tanya, "kamu gak berniat untuk pisah dari aku kan?"


Lola mengangkat bahu acuh, "kamu akan temukan jawabannya sendiri nanti." Ucapnya sebelum mengucapkan kalimat yang sukses membuat Arvi jadi semakin tak bisa berkata-kata. "Dan kalaupun misalnya nanti kita berpisah, mungkin memang keputusan yang terbaik untuk kita berdua."


***

__ADS_1


"Kamu benar-benar berniat bikin Mas kesepian ya?" Arvi memaksa diri untuk tertawa saat seluruh isi mobil mereka di penuhi oleh koper dan juga barang bawaan milik Lola. Tak hanya itu bahkan Gembul pun turut pergi bersamanya.


Lola tak menjawab apapun. Membuat perjalanan panjang menuju rumah Mami Papi jadi terasa hening. Tadi mereka berdua sempat bertengkar dirumah lantaran tindakan Lola yang nekat memesan taxi online untuk pulang ke rumah orangtuanya tanpa memberi tahu Arvi terlebih dahulu. Ya wanita itu berniat pergi tanpa berpamitan. Membuat Arvi yang memakai kaus dan celana pendek langsung aja mengemudikan mobilnya sebelum Lola berniat kabur dan mendorong kopernya menuju jalan raya. Ya Tuhan bahkan tadi ia hanya sempat mencuci muka dan menggosok gigi saja.


Menghabiskan sisa perjalanan dengan saling diam akhirnya mereka berdua pun sampai di kediaman orangtua Lola. Terlihat papi sedang sibuk berkebun di depan rumah bersama Mami yang tengah asik melakukan gerakan senam zumba. Mereka berdua sontak mengerutkan dahi ketika melihat sebuah mobil yang amat mereka kenali mulai masuk ke dalam pekarangan rumah. Tak sampai disitu keduanya semakin di buat heran dengan raut wajah masam bersama Arvi, sang menantu yang tampak begitu lusuh seperti orang yang baru bangun tidur.


"Waduh tumben anak kesayangan Papi pagi-pagi udah datang kemari." Melepas sarung tangannya yang dipenuhi tanah, Wijaya lantas menghampiri anak dan menantunya itu dengan langkah tergopoh-gopoh. Begitu juga dengan Puspa yang langsung mematikan speakernya dan bergegas kesana.


Lola segera menghambur ke pelukan sang Papi. Memeluk pria itu erat karena memang mereka sudah lama tidak bertemu, "Lola kangen Papi."


Wijaya terkekeh, kedua tangannya ia gunakan untuk menangkup kedua pipi Lola sebelum mencium dahinya lama. "Padahal baru tadi malam Papi bilang ke Mami pengen jengukin kamu. Eh besoknya malah kamu sendiri yang datang kemari."


Entah kenapa Lola merasa tersentuh mendengar kalimat itu. Memang benar ayah akan selalu menjadi cinta pertama bagi putrinya. Karena masih belum puas, ia kembali memeluk sang Papi. Teringat memori masa kecil dimana ia yang selalu mengadu tentang permasalahan yang biasa ia hadapi saat disekolah. Dan apa kalian tahu bagian favoritnya? Setelah mengadu biasanya ia akan langsung di ajak jalan-jalan naik motor dan ditraktir jajan sepuasnya.


Usai Lola melepas pelukan, gantian Arvi yang maju dan menyalami tangan Papi setelah tadi sempat berbicara sebentar dengan Mami.

__ADS_1


"Lah ini kenapa? Baru bangun?" Heran Wijaya saat melihat sang menantu yang biasanya selalu tampil rapi dan menawan dilayar kaca kini terlihat lusuh dengan kaus dan celana pendeknya. "Kayak udah bosen jadi artis aja." Lanjutnya berkelakar.


__ADS_2