Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Oma jadi Boomerang


__ADS_3

"Kesayangan Papi, ini suamimu mau pulang loh. Gak mau Salim dulu nak? Nanti kangen Papi gak tanggung jawab ya."


Sayup-sayup suara Papi terdengar membuat Lola yang sejak tadi memilih mendekam di kamar tersentak dan segera bangkit dari kasur. Kakinya perlahan beranjak dari sana dan berjalan menuju pintu. Dengan sedikit membungkuk dia pun mulai mendekatkan telinga disana, berusaha untuk menguping.


"Kayaknya lagi tidur, kamu masuk aja. Pintunya gak dikunci kok." Ucap Papi yang tentunya masih bisa didengar Lola dari dalam. Dia baru saja akan mengunci pintu saat suara sang suami terdengar.


"Gak usah, Pi. Arvi pulang aja. Lola pasti capek."


"Dibangunin aja juga gak papa. Nanti kan habis kamu pamitan dia bisa tidur lagi," saran Wijaya yang langsung di balas Arvi dengan senyum tipis. "Lagian emang gak papa kalau Lola gak dibangunin. Nanti kalau habis bangun dia nyariin kamu gimana?"


"Papi bilang aja, Arvi udah pulang. Nanti kalau udah sampai rumah Arvi langsung telpon."


Lola semakin mendekatkan telinganya ke pintu suara saat suara Papi dan Arvi semakin mengecil.


"Kamu yakin gak mau nginap disini aja?"


"Arvi masih ada kerjaan, Pi. Tapi Arvi janji besok-besok kalau udah ada waktu kesini lagi." Ujarnya memberi tahu, "tolong jagain Lola ya, Pi."


Wijaya spontan terkekeh mendengarnya, "kamu masih meragukan Papi. Papi udah jagain Lola selama dua puluh lima tahun sebelum akhirnya Papi menyerahkan tugas Papi itu ke kamu. Kamu gak usah khawatir, Lola aman disini." Pria itu menepuk bahu Lola pelan. "Papi gak tahu masalah apa yang terjadi di antara kalian berdua. Tapi Papi harap masalah itu bisa segera diatasi. Papi percaya sama kamu."


Arvi menarik sudut bibir tipis. "Arvi minta maaf, Pi."


"Minta maaf buat apa?"


"Karena belum bisa jadi suami yang baik untuk anak Papi," jawabnya membuat Lola yang mencuri-curi dengar sontak termangu. "Arvi benar-benar minta maaf."

__ADS_1


"Definisi suami yang baik menurut kamu itu seperti apa? Bagi Papi melihat Lola yang selalu bahagia dan tersenyum setelah menikah dengan kamu saja sudah lebih dari cukup." Ungkap Wijaya sambil menatap Arvi tulus, "pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa terjadi. Mami Papi aja yang udah tiga puluh lima tahun menikah masih sering bertengkar. Menyatukan dua isi kepala dalam satu atap itu semudah kelihatannya. Kalau ada masalah ada baiknya di bicarakan baik-baik. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut, apapun itu Papi percaya sama kamu."


Mendengar hal itu Lola lantas berbalik dan kembali ke atas kasur, entah kenapa air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir. Bersama dengan Arvi itu sakit, tapi jika tidak bersamanya Lola juga tak yakin bisa sebahagia sekarang. Menjadi istri seorang Arvi Tarada itu menyenangkan apabila keluarganya tak ikut campur.


Ponsel yang tiba-tiba bergetar membuat Lola sontak meraih benda pipih itu di atas nakas.


Sayang.


[Mas pamit pulang ya. Jaga diri baik-baik, jangan sampai sakit. Jangan sampai telat makan, jangan terlalu sering begadang]


[Take your time, kamu bisa tenangin diri kamu dulu selama disana. Sekali lagi maaf sudah membuat kamu terluka.]


[You know, I love you so much.]


Lola segera berlari menuju balkon lantai dua rumahnya, dia menatap nanar mobil Arvi yang sudah berlalu keluar dari pekarangan rumah mereka. Perasaannya saat ini campur aduk.


"Siapa yang nyariin? Orang aku lagi cari udara segar kok." Kilah Lola pura-pura melihat langit.


"Mami kenal kamu bukan dari kemarin sore La, tapi dari kamu bayi yang kerjanya selalu nangis setiap mau nyusu. Sembilan bulan Mami bawa-bawa di perut kemana pun Mami pergi. Sebenarnya kalian berantem gara-gara apalagi sih? Sampai-sampai koper dan barang-barang yang kamu bawa udah kayak mau pindah rumah." Ucap Mami Puspa benar-benar tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Terlebih saat ia bertanya kepada Arvi, menantunya itu hanya diam dan tak menjawab apa-apa. Membuat rasa kecurigaannya semakin melebar kemana-mana.


"Gak papa, Mi. Emangnya gak boleh Lola nginep disini? Toh akhir-akhir ini Mas Arvi juga lagi sibuk syuting. Lola malas aja kalau sering sendirian di rumah." Lagi-lagi Lola berkilah. Menekan semua keinginan untuk menceritakan semuanya pada sang Mami. Lola yakin kalau sang Mami sampai tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, semua pasti akan runyam dan tak terkendali. Sementara alasan Lola sendiri ingin kemari adalah karena ia ingin menenangkan diri dan memikirkan ulang mengenai keputusan yang akan dia ambil mengenai rumah tangga mereka nanti.


"Lola masuk dulu, Mi. Capek pengen istirahat." Pamit Lola dengan tergesa-gesa berlari menuju kamarnya.


"Makan dulu!" Seru sang Mami mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, nanti." Balas Lola membuat kecurigaan Puspa pada anak dan menantunya itu semakin menjadi-jadi.


Kenapa tingkah keduanya berguru aneh?


***


"Puas Oma sekarang setelah berhasil menghancurkan rumah tanggaku!"


Semua orang disana lantas terkejut saat tiba-tiba Arvi memasuki rumah dengan penampilan kacau dan setengah berteriak.


"Arvi, kamu kenapa? Datang-datang kok malah marah-marah." Seru wanita itu tak terima dengan Michelle yang duduk disampingnya lantas terkejut.


"Arvi, begitu cara kamu bicara dengan orangtua?" Peringat Rendra pada sang anak sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Udah kayak orang gak punya etika aja."


Anggun yang menyadari betul jika Arvi terlihat sangat kacau dibanding biasanya sontak berjalan mendekat kearah pria itu. "Kamu kenapa, sayang? Lola mana?" Sejak kemarin dia memang sudah khawatir dengan keadaan menantunya itu.


"Lola pergi, Ma." Ada nada kesedihan yang Anggun tangkap dari suara itu.


"Pergi?" Tanya Anggun dengan pupil mata melebar. "Pergi kemana?"


"Dia pulang kerumah orangtuanya," balas Arvi membuat semua orang yang disana sontak terkejut.


Disela keterkejutan semua orang, ia pun kembali melanjutkan. "Selama dua tahun Arvi menikah dengan Lola baru kali ini ia kepikiran untuk menyerah dengan rumah tangga kami. Dan ini semua karena Oma, kenapa Oma gak bisa biarin Arvi hidup bahagia dengan Lola? Kenapa Oma selalu aja menuntut anak di setiap pertemuan? Kenapa Oma selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kami?"


"Arvi!" Seru Rendra sekali lagi. "Begitu cara kamu bicara dengan Oma yang udah merawat kamu sejak kecil," lanjutnya benar-benar tak habis pikir.

__ADS_1


Arvi mengepal kedua tangannya erat, ketakutannya akan nasib rumah tangga mereka yang berkemungkinan kandas membuat ia jadi punya keberanian untuk mengeluarkan semua keluh kesahnya. Walau Arvi tahu dia sudah terlalu lambat untuk memperingatkan Oma agar tidak perlu ikut campur lagi dengan urusan rumah tangga mereka.


__ADS_2