Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Menjadi Model Brand sendiri


__ADS_3

Arvi tampak menghela nafas sebelum beralih menatap Lola dan menarik tangannya agar menjauh dari Meta.


" Sayang, kita kesini bukan untuk pemotretan. Kamu ingat kan kalau hari ini kita sudah sepakat mau quality time berdua."


" Ya, terus kenapa, Mas?" Balas Lola.


" Aku tahu quality time itu penting tapi kan sekarang kondisinya lagi darurat."


" Meta bisa cari model lain untuk pemotretan itu."


" Emang Mas yakin kalau dia bisa mencari pengganti sebelum piayamanya dirilis? Kalau enggak gimana?" Tanya Lola. " Lagian apa masalahnya sih kalau kita jadi model brand sendiri? Lucu tahu, apalagi ini piyama couple Boleh ya?"


Arvi tampak menghela nafas. " Kamu yakin?"


" Emang kenapa? Mas gak percaya ya kalau aku bisa jadi model yang baik buat brand kita?" Lola menatap manik mata suaminya itu lekat. " Atau aku ini kurang fotogenik?"


" Kamu tahu kan bukan itu masalahnya?" Tanggap Arvi cepat. " Mas, cuma gak mau kamu kecapekan."


" Gak capek kok malah seru kalau difoto-foto begitu." Ujar Lola yang memang punya jiwa narsis. " Ayooo, kapan lagi coba kita jadi model _brand_ sendiri. Lagian bisa menghemat biaya, Mas. Jadi kita gak perlu ngeluarin duit buat cari model lain Ya, Ya?"


Arvi terdiam sambil menatap raut wajah Lola yang begitu antusias. Dia tak tahu kapan tepatnya ia menganggukkan kepalanya karena setelahnya Meta langsung mempersilakan mereka menuju kesebuah studio yang menjadi tempat dimana ia dan Lola akan menjadi model untuk pakaian yang mereka keluarkan sendiri.


Meta mengacungkan jempolnya dengan mulut setengah terbuka saat melihat kedua Bossnya itu kini sedang mengikuti instruksi fotografer dalam pengambilan gambar. Pemotretan kali ini entah kenapa terasa berbeda. Mungkin karena sang pemilik yang langsung turun tangan. Padahal mereka hanya sedang memakai piyama couple, tapi entah kenapa aura dan kharismanya tak terlihat main-main.


Benar-benar couple goals sekali. Walaupun keduanya jarang sekali memamerkan kemesraan dimedia sosial, tapi Meta tahu kalau kedua orang itu saling mencintai. Apalagi saat ia mengetahui kalau brand piyama itu didedikasikan Arvi khusus untuk istrinya.


Meta menatap takjub kearah kedua orang itu yang kini tengah berpose. Arvi duduk di sofa sementara Lola berdiri dibelakangnya dengan dua tangan yang melingkar dileher pria itu.


" Satu dua tiga." Seru sang fotografer memberikan aba-aba.


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!

__ADS_1


" Gimana hasilnya? Bagus gak?" Tanya Lola penasaran.


Sang fotografer mengacungkan jempolnya puas.


" Capek?" Tanya Arvi pada Lola yang kini mulai memeluk lehernya.


" Gak capek kok. Seru gini masa dibilang capek,? Balasnya " aku haus."


" Kamu mau minum?"


Lola mengangguk saat merasakan tenggorokan nya terasa kering.


Meta yang menyadari kalau Bossnya itu tampak membutuhkan sesuatu lantas mendekat. " Butuh sesuatu Pak, Buk?


" Boleh minta tolong ambilkan air mineral?" Pinta Arvi pada wanita itu.


" Oh air, sebentar Pak biar saya ambilkan?" Balasnya lalu dengan terburu-buru mengambil sebotol air dan menyerahkannya pada pria itu.


" Terima kasih."


Seakan sengaja memperjelas status jomblonya disini.


*******


Lola baru selesai mandi saat melihat Arvi Sedang asik tiduran di kasur sambil memegangi iPad. Entah apa yang ia lakukan saat ini, Lola tak tahu. Tapi yang jelas dari raut wajah nya kelihatan serius sekali.


" Mas lagi apa?"


Lola sudah berpikir kalau mungkin ada masalah dengan pemotretan sampai ia menyadari raut wajah serius suaminya itu ternyata diakibatkan karena menonton sepak bola.


Lola geleng-geleng kepala melihatnya sebelum naik keatas kasur. Ia melirik sekilas kearah Arvi yang masih fokus menonton jalannya pertandingan tersebut dari layar iPad. Biasanya kalau sudah begini mau ditanya beberapa kali pun tetap saja tidak akan ada jawaban.


Lola merasa terabaikan lantas nenyelinapkan kepalanya diantara satu tangan Arvi yang tengah memegangi iPad tersebut. Membuat pria itu lantas terkaget karena tiba-tiba kepala Lola  sudah bersandar didadanya.


" Sayang." Tegurnya lembut.

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Lola yang merasa kalau Arvi kini tengah menatap nya. " Aku kan juga mau nonton."


Arvi menghembuskan nafas kasar. Sejak kapan istrinya itu tertarik menonton pertandingan bola. Bisa dibilang tidak ada satupun pertandingan olahraga yang Lola sukai. Oh kecuali Renang. Alasannya pun tak masuk akal yaitu karena dia suka sekali melihat atlit renang yang tampil Shirtless.


Memang dasarnya genit.


" Yang nomor punggung 5 ganteng ya, Mas?" Komentar Lola.


Kan apa dia bilang, bukannya fokus pada jalannya pertandingan istrinya itu malah salah fokus dengan menilai wajah pemain.


" Sayang, katanya tadi kamu kecapekan. Kenapa gak tidur duluan."


Lola menipiskan bibirnya. " Gak bisa tidur." Ujarnya yang terbiasa menempel pada Arvi sebelum tidur. " Ini pertandingannya masih lama?"


" Setengah jam lagi." Balas Arvi. " Kamu tidur duluan ya!"


Lola tak menjawab lagi. Dia hanya fokus menatap layar iPad dihadapannya dengan alis bertaut sambil sesekali melirik wajah Arvi yang tampak tak berekspresi. Bukan saat salah satu tim berhasil mencetak gol, dia pun hanya diam saja. Sama sekali tak bergeming. Hal yang tentu saja berbeda dengan Papi dan Abang nya yang selali berteriak bagai kerasukan reog kalau sedang menonton pertandingan sepak bola.


Karena merasa setengah jam terasa begitu lama. Lola pun menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Fokusnya kini sudah tak ada lagi dilayar melainkan pada wajah sang suami yang terlihat tampan walau matanya tampak begitu letih. Sudah tahu capek tapi masih saja memaksa diri untuk menonton.


Cup


Arvi tersentak saat tiba-tiba Lola mengecup pipinya. Namun karena merasa hal itu biasa yang sering istrinya itu lakukan, Arvi mengabaikannya dan kembali fokus dalam menonton.


Cup


Lagi-lagi Lola menempelkan bibirnya dipipi Arvi dengan satu tangan melingkar diperut pria itu. Membuat Arvi jadi salah fokus dan tak bisa menikmati jalannya pertandingan.


" Sayang." Panggil Arvi.


" Apa? Kenapa?" Tanyanya seolah tak menyadari apa yang barusan ia lakukan.


Lola memanyunkan bibir saat menyadari kalau yang ia lakukan sia-sia. Arvi sama sekali tak berniat untuk mengakhiri pertandingan itu segera tidur bersamanya. Apakah pertandingan sepak bola seseru itu sampai istrinya sendiri sampai terabaikan?


Merasa putus asa, Lola pun mencoba untuk tidur dengan satu tangan melingkar diperut suaminya itu. Tangan Lola yang tadinya berada di pinggang kini mulai beralih naik keatas perut Arvi. Telunjuknya dengan sengaja menekan-nekan otot perut suaminya itu dari balik kaus sebelum akhirnya memberanikan diri nenyelinapkan tangan nya kedalam sana agar bisa mengelusnya secara langsung.

__ADS_1


Awalnya semua biasa saja sampai tangan Lola tanpa sengaja menyentuh sesuatu besar dan panjang yang ada dibalik celana Arvi.


__ADS_2