
"Hari ini jangan pergi syuting dulu ya, tadi aku coba bilang sama Boss kalau Mas lagi sakit."
Arvi mengangguk sambil menerima sarapan bubur dari Lola. Sebenarnya tak ada yang salah dengan rasa bubur itu, namun karena sekarang ia sedang sakit apapun yang ia makan semua jadi terasa hambar.
"Satu suap lagi," ujar Lola sambil menjulurkan sendok terakhirnya ke arah Arvi. Dia benar-benar senang saat menyadari kalau Arvi mampu menghabiskan bubur buatannya walau sedang sakit, "mau tambah?"
Arvi buru-buru menggeleng, sebenarnya sejak suapan ketiga ia sudah tak sanggup dengan rasa hambar bercampur pahit yang ada di lidahnya. Namun karena Lola sudah bersusah payah membuatkan bubur itu untuknya maka Arvi harus menghabisinya.
"Udah sayang."
"Beneran?" Tanya Lola, "kalau mau lagi bilang aja ya," lanjutnya sembari meletakkan mangkok di atas nakas.
Arvi hanya mengangguk sambil menerima uluran obat dari Lola, usai meminum obatnya Arvi dapat merasakan telapak tangan Lola kini mulai meraba dahi, pipi, dan lehernya.
"Masih panas," dengus wanita itu. "Kita ke dokter ya Mas."
"Gak usah sayang, paling istirahat sebentar juga sembuh." Tolak Arvi.
"Tapi suhu badan Mas masih panas loh, kita ke dokter ya?" Ulangnya.
"Udah mendingan kok."
Lola menghembuskan nafas panjang mendengarnya, apa sesulit ini untuk menyuruh seorang pria dewasa pergi ke dokter?
"Sayang, sini." Pinta Arvi pada Lola agar segera mendekat ke arahnya.
Dari jarak sedekat ini Lola dapat merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu. Tuh kan! Apanya yang mendingan coba?
__ADS_1
"Gak berat?" Tanya Lola saat Arvi memintanya untuk merebahkan kepala di dada pria itu.
Gelengan dari Arvi membuat Lola jadi menurutinya, dengan nyaman ia mulai bersandar di dada sang suami sambil melingkarkan tangannya di perut pria itu. Ah rasanya sudah lama sekali mereka tidak seperti ini.
"Sayang, Mas minta maaf."
Perkataan itu membuat Lola yang tadinya asik mendusel di dada Arvi sontak menengadahkan kepala, minta maaf? Untuk apa?
Arvi berbatuk kecil, "selama kamu gak ada disini Mas benar-benar kebingungan. Setiap hari rasanya benar-benar berat seperti ada yang mengganjal, " ucap pria itu lalu menunjuk dadanya sendiri, "disini."
Lola terdiam begitu saja sambil mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut sang suami, awalnya ia pikir hanya dia yang merasakan hal itu tapi ternyata Arvi juga.
"Hidup Mas jadi gak teratur kalau gak ada kamu, butuh waktu lama hanya untuk memilih pakaian, selalu bingung dengan menu sarapan, gak bisa fokus di lokasi syuting, dan yang lebih parahnya malam jadi sulit tidur karena kepikiran kamu." Aku Arvi jujur membuat Lola lantas tersentak.
"Mas minta maaf kalau keputusan Mas waktu itu melukai hati kamu. Mas sama sekali gak bermaksud untuk berbohong, itu sem____" perkataan Arvi terjeda karena ia mulai terbatuk-batuk. Membuat Lola dengan sigap mengambil gelas berisi air di nakas dan segera memberikannya pada Arvi.
" Udah Mas gak usah ngomong lagi, istirahat aja." Ujar Lola sambil melap sudut bibir Arvi yang tetesan air dengan ibu jarinya.
Lola menghela nafas, kalau dipikir-pikir mereka berdua sama-sama salah kan? Arvi jelas salah besar karena lebih mementingkan acara ulang tahun Yasmin di bandingkan acara reuninya, sementara perbuatan Lola yang sampai menelantarkan Arvi selama tiga hari juga tak bisa di benarkan. Sebenarnya kalau boleh jujur rasa kesal itu masih ada tapi entah kenapa saat Arvi semalaman mengigau tiada henti sambil memintanya agar tidak pergi lagi dengan tangan yang memegang erat tangannya membuat kekesalan Lola perlahan memudar.
Lola rasanya harus menarik kembali kata-katanya waktu itu yang mengatakan kalau Arvi jelas lebih mandiri dari dirinya, karena nyatanya baru ditinggal tiga hari saja pria itu sudah tepar seperti ini.
Lola menghembuskan nafas kasar sambil mengeratkan pelukannya pada sang suami, "iya, iya gak usah dibahas lagi." Cibirnya sebelum bergumam pelan, "aku juga minta maaf, aku tahu aku juga salah."
Kini ia dapat merasakan Arvi mulai mencium puncak rambutnya, "dimaafkan asal lain kali kalau mau pergi izin dulu."
"Iya," balas Lola. "Mas juga kalau lagi sakit tuh bisa gak sih hubungi aku? Coba aja kalau malam itu aku gak pulang. Aku mungkin gak akan tahu kalau Mas lagi sakit."
__ADS_1
"Tadi malam Mas udah mau hubungi kamu, tapi ponselnya mati karena kehabisan baterai."
Lola berdecak pelan, "lain kali jangan begitu ya. Gak lucu kalau aku tahu Mas sakit dari orang lain."
"Memang kamu tahu siapa?"
"Dari Irboss," jawabnya.
"Iya, lain kali Mas gak gitu lagi."
"Beneran, janji?" Tanya Lola sambil menengadahkan kepala agar bisa menatap sang suami.
"Iya janji," balas Arvi sambil mengecup dahi wanita itu yang tentu saja mengakhiri perang dingin yang terjadi di antara mereka berdua.
***
Lola tidak menyangka kalau memberi kabar Arvi yang sedang sakit pada Oma Aisyah dan Mama anggun nyatanya membuat mereka jadi kalang kabut.
Pasalnya Arvi memang tipikal orang yang jarang sakit, oleh sebab itu saat Lola memberitahu keduanya kalau sang suami sedang absen syuting lantaran kondisinya yang kurang baik membuat Oma dan Mama segera meluncur untuk mendatangai rumah mereka.
"Udah dibawa ke dokter belum, La? Ini Arvi masih pucat loh." Ucap Oma saat Lola memasuki kamar sambil membawa nampan berisikan satu mangkok bubur buatan wanita itu yang sengaja ia masak khusus untuk Arvi.
"Belum, Oma. Mas Arvi bilang gak mau ke dokter," Lola berkata jujur. Selama ini dia hanya memberikan Arvi obat demam yang biasa di temui di warung atau minimarket depan komplek. Dan syukurlah demamnya perlahan turun hanya dengan meminum obat tersebut. Walau wajahnya masih agak pucat tapi kondisi Arvi jelas jauh lebih baik di banding hari pertama ia terkena demam.
Oma menghela nafas sambil melirik ke arah Lola sekilas, "ya dipaksa dong. Kamu tahu kan kalau Arvi itu paling anti yang namanya berobat kerumah sakit, masa kamu biarin aja suami sakit tapi gak di bawa ke dokter. Kalau sakitnya tambah parah gimana?"
Mendengar perdebatan yang mulai terjadi Arvi pun segera angkat bicara, "Oma, ini bukan salah Lola kok. Arvi sendiri yang gak mau ke dokter karena ngerasa obat yang di butuhkan paling hanya istirahat, jangan diperbesar ya, Arvi cuma kecapekan kok."
__ADS_1
"Ya pasti kecapekan toh, kamu udah sibuk syuting seharian ditambah lagi harus ngurus pekerjaan rumah tangga juga," sindir Oma Aisyah kembali teringat pada perkataan Arvi waktu itu yang mengatakan kalau biasanya ia dan Lola berbagi tugas dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. "Kalau tahu begitu mending kamu ikut kata Oma sejak awal untuk memperkerjakan ART."
"Mah udah," sahut Anggun yang sejak tadi mendengar perdebatan itu. Jujur ia jadi tak enak dengan Lola yang hanya berdiri disana sambil mendengar celotehan ibu mertuanya itu, "masa kita jauh-jauh kemari hanya untuk bahas itu." Lanjutnya membuat Lola diam-diam jadi merasa canggung.