
" Mas gini aja kalau misalnya Rehan masih mau main disini setelah les biar aku dan Mas Arvi yang jemput dia. Sekalian kami yang antarkan pulang juga," ucap Lola memberi solusi. " Gimana Rehan mau gak pulangnya nanti sama Om dan Tante?"
" Mau, Tante." Balas anak itu bersemangat.
" Iya gak apa-apa Mas biar aku sama Lola yang nanti antar Rehan pulang." Ujar Arvi menambahkan.
" Gak bisa. Aku gak setuju. Bagaimana pun juga Rehan tetap harus tahu batasan. Memang dia mau main sampai berapa lama lagi? Lagipula setelah les piano dia juga harus mengerjakan PR nya bersama guru private."
" Tapi aku gak suka les piano?" Rehan memberontak dengan wajah memerah. " Aku cuma mau main sepuasnya. Satu hari aja please Daddy."
Rehan jangan bersifat kekanak-kanakan! Kalau kamu begini terus bisa-bisa kamu malah ketinggalan dari temanmu yang lain. Papa gak suka punya anak yang bodoh." Ucap Yazid memperingatkan.
" Mas tapi kan Rehan memang masih anak-anak." Potong Lola. Kalau bukan menyangkut Rehan sebenarnya dia juga malas bicara dengan iparnya itu. " Tolong jangan terlalu keras dengannya Mas dia masih kecil Loh."
" Kamu tak perlu ikut campur. Aku punya cara sendiri untuk menerapkan disiplin pada anakku." Yazid berujar sambil menatap Lola lekat. Sepertinya dia tidak suka jika wanita itu ikut campur urusannya dalam mendidik Rehan. " Dan kamu mungkin gak akan bisa memahaminya karena kamu sendiri belum merasakan bagaimana rasanya punya anak." Lanjutnya membuat Lola seakan terpanah ditempat dengan mulut yang setengah terbuka.
" Mas." Tegur Arvi pada kakaknya itu saat melihat perubahan raut wajah Lola yang begitu kentara.
Tapi sayangnya Yazid tak peduli banyak karena yang ia lakukan setelah itu adalah menarik tangan Rehan, agar segera pergi dari sana. Meninggalkan sepasang suami istri itu yang hanya bisa menatap kepergian mereka berdua yang semakin lama semakin menjauh.
Arvi tahu pembicaraan masalah anak adalah yang sensitif bagi Lola. Terbukti dengan wanita itu yang kini tak lagi banyak bicara, setelah disinggung oleh Kakaknya mengenai bagaimana caranya mendidik anak. Walaupun Lola berusaha untuk terlihat antusias saat menanggapi obrolan Oma ketika menceritakan kisah tentang pertemuannya dulu bersama mendiang sang suami. Arvi tetap saja dapat melihat sorot mata sendu dari mata istrinya itu.
" Mas, aku mau pulang!" Pinta Lola tiba-tiba membuat Arvi yang baru saja selesai menelpon menoleh.
__ADS_1
" Pulang?" Arvi menaikkan alisnya. Tidak biasanya Lola ingin pulang cepat jika berada dirumah orangtuanya.
Lola mengangguk. " Sebenarnya Oma ingin kita menginap untuk beberapa hari. Tapi aku..." Wanita itu sengaja menjeda membuat Arvi jadi mengangguk paham.
" Nanti Mas bilang sama Oma, kalau kita gak bisa nginap. Mungkin lain kali kalau ada waktu luang. Arvi berucap sambil mengelus anak rambut Lola. " Mau pulang sekarang?'"
Lola lagi-lagi menganggukkan kepala.
" Kamu tunggu disini dulu ya. Mas mau ke kamar mandi. Nanti baru kita pamitan sama semua orang." Jelasnya pada sang istri sebelum pergi dari sana.
Namun baru saja hendak menuju kamar mandi, Arvi dikejutkan dengan kehadiran Oma yang tiba-tiba keluar dari arah dapur.
" Lola mana?" Tanya Oma sambil celingukan mencari penampakan istrinya itu.
" Lagi di depan." Balas Arvi. " Emang kenapa Oma?" Tanyanya penasaran.
" Ini Oma udah buatin jamu kesuburan buat Lola. Tapi kamu bilang saja lalu ini jamu untuk menghangatkan badan. Suruh dia minum kalu bisa tiap hari," jawab Oma.
" Tapi Lola gak suka minum jamu, Oma. Jangankan jamu, obat sirup yang rasanya manis aja dia gak suka."
" Ya kamu paksa dong. Gimana pun caranya Lola harus tetap meminum jamu ini. Siapa tahu setelah minum ini dia segara hamil. Emang kalian mau sampai kapan begini terus?"
Arvi menghela nafas kasar. " Kami sudah berusaha Oma. Tapi memang belum dikasih mau gimana lagi."
__ADS_1
" Ya, berarti usaha kalian belum keras. Makanya Oma berinsiatif mau bantuin biar lebih cepat dikasih. Inget Arvi, umur Oma udah gak muda lagi keinginan terakhir Oma cuma mau melihat anak kalian. " Ujar Oma membuat Arvi lantas menghembuskan nafas kasar. Kalau wanita itu sudah menyangkut pautkannya dengan kematian. Arvi memang tak bisa banyak bicara.
" Memang kalian sudah periksa ke Dokter? Siapa tahu...."
" Oma, semua baik-baik aja. Baik aku dan Lola sama-sama gak ada masalah dengan kesuburan. Kalau itu yang Oma maksudkan." Potongnya cepat. " Aku minta tolong sama Oma untuk jangan bahas tentang anak dihadapan Lola. Jangan terlalu menekannya," lanjut Arvi yang kembali teringat tentang kejadian tadi saat Kakaknya tanpa sengaja menyinggung perasaan Lola.
Kini giliran Aisyah yang gantian menghela nafas. " Oma sama sekali gak menekan. Buktinya Oma sengaja membuat jamu itu ke kamu karena gak mau bikin Lola tersinggung. Tapi Oma kasihan sama kamu."
" Kasihan kenapa?" Tanya Arvi.
" Perlu nunggu berapa tahun lagi bagi kamu supaya bisa punya anak? Disaat suami lain direpotkan dengan membawa perlengkapan anaknya, kamu malah direpotkan dengan membawa perlengkapan kucing. Apakah kalian se- kesepian itu sampai memperlakukan kucing layaknya manusia.?"
" Oma, Gembul gak ada hubungannya dengan hal ini. Walaupun dia kucing tapi dia punya jasa yang besar. Gembul punya tugas menemani Lola kalau aku gak ada dirumah. Ya worth it lah, kalau misalnya aku memperlakukan dia seperti ini," balas Arvi membuat Oma semakin tak habis pikir.
" Sudah-sudah pokoknya Oma gak mau tahu jamu ini pokoknya harus rutin Lola minum minimal satu kali sehari. Ini jamu leluhur, mudah-mudahan setelah minum jamu ini kalian bisa cepat dikasih momongan." Oma berpesan sambil menyerahkan satu plastik berisi jamu itu pada Arvi.
Arvi yang tak bisa mengelak lantas mengangguk. Entah bagaimana caranya supaya ia bisa membujuk Lola agar mau meminum jamu itu, yang jelas nanti ia akan mencobanya.
Semoga saja berhasil.
****
Lola baru saja selesai mandi saat melihat diatas meja kini sudah ada dua buah gelas tinggi berisikan air berwarna kecoklatan. Lola mengernyitkan dahi sambil mengangkat gelas itu dan membawanya ke hidungnya. Hidungnya sontak mengkerut saat bau rempah-rempah mulai tercium begitu saja. Ewhh, awalnya ia pikir ini susu coklat. Lola kembali meletakkan gelas itu dan menoleh mencari keberadaan sang suami.
__ADS_1
" Massss." Ujarnya sambil menoleh kesekitar. Berusaha mencari keberadaan Arvi yang sejak tadi tak ia lihat barang hidungnya.
Dia sontak menghela nafas lega saat mengetahui kalau suaminya itu ternyata berada di teras depan. Berbincang dengan Bi Inem yang tampak tengah memberikan makanan untuk mereka. Karena hanya memakai pakaian tidur yang lumayan pendek, Lola hanya bisa memperhatikan interaksi itu dari balik tirai.