
Dari tempatnya berdiri, Arvi dapat melihat raut wajah Lola yang tampak masam. Seperti tak ikhlas saat mengerjakan semuanya. Tapi anehnya saat dibantu juga tak mau. Arvi menghembuskan nafas kasar. Perubahan mood Lola yang begitu cepat membuat ia jadi dilanda kebingungan.
" Mas bantu nyapu rumah aja, ya sayang?" Tawarnya.
" Gak." Seru Lola sambil melempar pelototan tajamnya.
" Kalau gitu bersihin kulkas deh. Gimana?"
" Itu juga gak perlu." Balas Lola.
" Yaudah berarti hari ini Mas yang masak."
" Udah dibilangin gak usah juga." Balas Lola yang mulai kesal. " Mending Mas main aja dengan Gembul sana."
Arvi yang merasa percuma untuk menawari diri dalam mengerjakan pekerjaan rumah sontak menghela nafas panjang. Dengan gusar ia pun mulai masuk ke dalam kamar sebelum akhirnya menghampiri Gembul yang sedang tidur di atas karpet untuk diajak bermain bersama sesuai arahan dan perintah yang telah diberikan oleh sang istri tercinta.
***
Arvi tak tahu apa yang terjadi pada Lola sampai ia jadi bersikap sedingin ini padanya. Seharian wanita itu menyibukkan diri dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mencuci piring, mengepel lantai, mengganti seprei, menyikat kamar mandi, dan lain sebagainya. Bahkan saking sibuknya mereka jadi tak banyak bicara setelah kejadian di wastafel. Lola sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Arvi memilih untuk menonton televisi dikamar bersama Gembul.
Bukannya tak mau membantu. Hanya saja setiap kali ia menawarkan diri pada Lola pasti selalu menatapnya dengan tatapan maut. Membuat Arvi jadi tak ada pilihan lain selain kembali ke kamar.
" Mas, makanannya udah siap." Ujar Lola dengan ekspresi datarnya sebelum naik ke kasur dan merebahkan tubuh disana.
" Kamu gak makan?" Tanya Arvi penasaran.
" Gak, aku masih kenyang Mas duluan aja."
Arvi mengerutkan dahi. Apa maksudnya itu? Lola sudah susah payah memasak tapi anehnya dia sendiri yang tak mau makan dengan alasan sudah kenyang. Memang apa yang ia makan? Bukankah seharian wanita itu lakukan hanyalah bekerja, bekerja dan bekerja.
__ADS_1
Arvi berjalan mendekat kearah Lola yang kini sedang tidur dengan posisi menyamping. Dia mulai mendaratkan bokongnya ditepi kasur sambil memegang lengan sang istri.
" Sayang," panggil Arvi lembut. Dia tahu sekarang Lola sedang pura-pura tidur. Karena mana mungkin ia bisa tidur secepat itu tanpa memeluk atau menempel dengannya terlebih dahulu.
Karena tak ada jawaban. Arvi pun kembali berujar. " Sayang, masa Mas makan sendiri sih. Kamu tega?" Ucapnya mendramatis. Saat sayang Lola masih tak kunjung bergeming. " Ya sudah kalau kamu gak mau makan. Mas juga gak makan." Arvi lantas naik ke atas kasur dan memeluk tubuh Lola.
Dia tersenyum puas saat merasa istrinya itu kini mulai bergerak dan memutar tubuh.
" Aku udah susah payah masak lho. Mas, masa gak di makan?" Omel Lola.
" Ya, makanya kamu temanin Mas makan. Ya?" Pintanya. " Jangan marah-marah." Tangan Arvi bergerak untuk membelai rambut Lola.
" Siapa yang marah?" Elak wanita itu.
" Ini apa namanya kalau bukan marah?" Dengan jari Arvi menyusuri kedua alis Lola yang bertaut dalam. " Kamu kenapa? Ada masalah? Coba cerita. Mas mau dengar." Ujarnya lalu mengusap sebelah pipi Lola.
" Gak ada masalah kok." Arvi dapat melihat bola mata Lola terpancar saat mengatakannya.
" Apa sih Mas? Aku gak lagi haid kok," balas Lola.
" Ya terus kenapa?" Biasanya mood Lola hanya akan berubah saat dia mendapatkan tamu bulanannya.
" Kamu jelek lho kalau cemberut gitu."
" Ya emang jelek. Udah jelek gak tahu cara ngurus rumah lagi." Sungut Lola sebelum bangkit dari posisinya. " Katanya mau makan. Ayo aku temani." Lanjutnya membuat Arvi lantas terdiam seketika.
Arvi berasumsi kalau mungkin Lola sempat mendengar pembicaraannya dengan Oma saat diteras. Karena kalau tidak mana mungkin mood nya bisa berubah secepat itu.
" Emang paling bener tuh nikah sama yatim piatu. Biar gak ada tuh drama mertua yang maksa anaknya tinggal dirumahnya sendiri." Cerocos Risa saat Lola menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko kuenya.
__ADS_1
Hari ini Arvi sudah kembali syuting lagi. Dia mengatakan untuk beberapa hari ke depan ia akan mungkin pulang larut malam. Suaminya itu juga bilang tidak perlu menunggunya untuk makan malam. Lola boleh tidur duluan kalau sudah mengantuk.
" Tapi masalahnya bukan mertua yang aku gue sama Mas Arvi tinggal dirumahnya. Tapi Oma, neneknya Mas Arvi yang mau." Lola menjelaskan sambil menyesap smoothies-nya.
" Dari dulu sampai sekarang tuh orang gak berubah-ubah ya, La? Gue yang ngikutin kisah cinta Lo dari awal dicuekin sama laki Lo Samapi sekarang jadi bucin aja bosen denger tuh orang berulah terus."
Lola mengangkat bahu. " Ya begitu deh. Gue takutnya Mas Arvi terpengaruh sama omongan Oma. Sedangkan gue sendiri gak mau tinggal bareng sama keluarga Mas Arvi. Bukannya apa-apa sih, cuma dari dulu gue kepengen hidup mandiri. Lo ngerti kan, Sa?
" Gue paham kok maksud Lo, sebaik apapun keluarga suami, bakal lebih bagus kalah kita tinggal dirumah sendiri."
Lola mengangguk. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin saat ia tanpa sengaja mendengar percakapan sang suami dengan Oma diteras depan. Opini wanita itu yang mengatakan kalau rumahnya terlalu kecil dan pengap jelas bukanlah hal yang membuatnya sakit hati. Dia masih bisa memaklumi itu semua. Tapi tidak dengan perkataan wanita itu yang mengatakan kalau Lola tidak becus menjadi seorang istri hanya karena ia melihat dapur mereka yang berantakan. Jujur itu melukai perasaannya.
" Kok nangis?" Dengan cepat Risa mengambil tisu dan memberikannya pada Lola. " Gue yakin nih masalahnya bukan hanya disuruh pindah. Pasti ada yang lain, kan? Nenek lampir itu bilang apalagi sama Lo, huh?"
Lola menggeleng sambil menyeka air matanya. " Sa." Panggil wanita itu.
" Ya, kenapa?"
" Apa mungkin Oma bersikap seenaknya kayak begini karena gue belum juga hamil?" Tanyanya membuat Risa lantas tersentak.
" La, itu sama sekali gak ada hubungannya." Risa mulai mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Lola. " Dia aja yang rese sama lo. Gue heran kenapa bisa orang kayak gitu umurnya panjang?"
" Sa, jangan gitu." Tegur Lola.
" Ya, maaf." Dengusnya dengan wajah kesal.
" Gue juga kalau bisa milih mau cepat hamil. Punya anak yang lucu-lucu. Tapi kenapa Tuhan gak ngasih gue kesempatan gue capek!"
" Astaga Lola istighfar. Tuhan bukannya gak ngasih Lo kesempatan, tapi waktunya yang belum datang."
__ADS_1
" Apa jangan-jangan gue beneran mandul?"
" Heh!" Seru Risa spontan sambil menoyor kepala sahabatnya itu. " Kan, Lo udah periksa ke Dokter. Semuanya baik-baik saja. Jangan mikir aneh-aneh deh. Lo mau gue slepet?"