
Suasana yang cerah di pagi hari yang ceria.
Jalanan pun tampak lenggang.
Rojali berdendang riang sambil mengendarai Vespa bututnya yang berisik namun antik dan artistik, tanpa menyadari ada sesosok misterius yang mengikutinya memakai sepatu roda.
Si kebaya hijau maut dengan tusuk konde nungging di atas sanggul rambutnya yang menggunung, tentu saja dia adalah Bu guru Juminten yang walaupun memakai masker dan topeng sekalipun Rojali ataupun bro Aldi dan bro Jeremy pasti mengenalinya.
Bu guru Juminten dengan sangat seksama terus mengikuti Rojali kemanapun dia pergi,
menggunakan sepatu roda, bagai anak ABG,
Bagaikan keong dan sarangnya yang sulit untuk lepas, Bu guru Juminten terus menempel ketat Rojali kemanapun.
Memang nomor Wahid jurus pengintaian Bu guru Juminten.
Dengan sesekali membuka buka sebuah buku catatan kecil misterius nya dan sesekali menulis sesuatu di dalamnya.
Bu guru Juminten menyelinap dan bersembunyi di balik pepohonan atau dedaunan bahkan di balik tembok bersama kucing yang banyak berkeliaran di jalanan.
Rojali tampaknya sangat santai dan tidak menyadari dirinya sedang diawasi oleh Bu guru Juminten yang ditugaskan oleh sang kepala sekolah yang fenomenal berkepala plontos dan kinclong.
Dengan cuek bebek sambil senyum senyum cengengesan Rojali mengendarai Vespa bututnya yang jalannya lambat bagai siput, dengan suara yang sangat berisik.
Dan sesekali Rojali berhenti hanya untuk sekedar menyapa orang orang yang kebetulan berpapasan dengannya, sambil kiss bye atau melambaikan tangan bagai penyanyi disko tahun 60an yang sangat terkenal.
Akhirnya Rojali sampai di depan rumah neng Fanny yang asri dan damai.
Terlihat mbok Pokiyem yang meloncat kaget sambil mengacungkan gagang sapu ketika mendengar suara Vespa bututnya Rojali yang sangat berisik mengeluarkan bunyi bunyi aneh
..... Brottt.....Brottt ...DOT ....DOT........
Bu guru Juminten menyelinap bersembunyi di balik pohon yang rimbun, tak jauh dari rumah Fanny.
Sangat luar biasa sekali karena dengan kebaya berwarna hijau daun itu, sangat mendukung penyamaran Bu guru Juminten sebagai ulat bulu di pohon yang rimbun.
Tampak mbok Pokiyem yang hampir memukul Rojali dengan gagang sapu, mempersilahkan Rojali menunggu di teras halaman sambil berjemur, dan tak lama kemudian Bu guru Juminten melihat sosok bapak bapak dengan kumis yang sangat tebal melintir ke samping memakai kaos dalem
lek bong yang memperlihatkan otot ototnya yang kekar.
Dan tak lama kemudian, terlihat si kribo Rojali melakukan push up dengan sangat semangat
Bu guru Juminten melongo, dan bergumam pelan,
" Ngapain itu si kribo disko pake push up segala, waduh belom berhenti juga ....hah ga salah nih ... 💯 kali .... ???? ",
Tampak Bu guru Juminten sangat kaget melihat Rojali dengan santai dan tampak bahagia push up seratus kali sambil cengengesan dan senyum senyum ga jelas.
__ADS_1
Dan Bu guru Juminten makin melongo dan melotot, ketika melihat Rojali setelah push up seratus kali,
langsung lompat kodok sebanyak seratus kali
juga.
" Gila si kribo dangdut ini minum susunya apa sih? kok bisa kuat gitu, amazing deh manusia
kribo campuran jamur dan brokoli ini ",
Gumam Bu guru Juminten sambil menulis di buku catatan kecilnya, sambil menyender di dahan pohon yang rindang.
Setelah Rojali beres push up dan lompat kodok, munculah seorang gadis cantik dengan senyum manis di bibirnya.
Bu guru Juminten matanya mendelik, ada desir aneh di dadanya, .... seperti rasa....
cemburu....
Dengan perasaan yang sedikit garam Bu guru Juminten melotot tidak berkedip melihat gadis itu duduk di bonceng oleh si kribo disko, dan terlihat Rojali dan gadis manis itu melambaikan tangan pada sang bokap yang kekar, dan mereka pun berangkat mengendarai Vespa bututnya Rojali.
Bu guru Juminten segera menarik kain kebayanya yang nyangkut di ranting pohon,
dan Bu guru Juminten segera memacu sepatu rodanya agar bisa menempel Vespa bututnya Rojali di belakangnya.
Agaknya Bu guru Juminten jadi lebih menakutkan dan menakjubkan powernya setelah melihat kedekatan Rojali dengan seorang gadis cantik dan manis itu,
Bu guru Juminten mengikuti Rojali dengan sangat hati hati, dan dia langsung ngumpet di balik pohon jambu ketika melihat Rojali ternyata menjemput sobatnya yang ga kalah aneh dan nyentriknya, yaitu pria hitam manis
dengan mata bulat sering kedip kedip, dengan rambut yang runcing mirip duren dan ciri khas yang sangat memalukan yaitu jambang nya yang gundul sebelah dan tebal sebelah ga simetris, menggunakan kemeja polkadot yang itu itu terus, siapa lagi kalo bukan bro Aldi.
Bro Aldi tampak mesem mesem liat Rojali dan Fanny boncengan mesra naek Vespa bututnya Rojali, dan kemudian yang membuat Bu guru Juminten melotot dan melongo sehingga mulutnya mangap adalah, ternyata Rojali dan Fanny langsung tancap gas berangkat dan si pria berjambang gundul sebelah itu mengikuti dari belakang dengan cara lari lari bagai joging.
Bu guru Juminten segera menulis di buku kecil catatan misterius nya dan langsung mengejar mengikuti mereka pake sepatu roda.
Dan setelah lumayan jauh mereka iring iringan, ternyata Rojali kembali menjemput satu orang lagi sobatnya yang aneh bin ajaib,
yaitu pria tampan dan bule bertubuh atletis,
yang lagi jongkok dengan celana katun yang kependekan hingga bulu bulu betisnya berhamburan keluar, bersaing dengan bulu bulu hidungnya yang juga ga mau kalah buat eksis.
Tampak mereka cekikikan dan bercanda sambil cengengesan, kemudian Bu guru Juminten kembali melotot takjub terpana hingga melongo mulutnya, melihat Rojali kembali menancap gas Vespa bututnya itu,
dan sekarang di belakang Vespa bututnya Rojali terlihat dua orang yang lari lari sambil cengengesan dan cekikikan berisik mengejar Vespa bututnya Rojali.
Bu guru Juminten sambil geleng geleng kepala langsung mencatat pada buku kecil catatan misterius nya itu dan langsung memacu pula sepatu rodanya buat ngikutin rombongan cengengesan dan cekikikan di depannya itu.
Maka orang orang yang berpapasan dengan mereka di jalan pada tertawa terbahak bahak,
__ADS_1
dan mengucek mata mereka ga percaya melihat rombongan yang aneh bin ajaib ini,
karena terlihat super bombastis dengan orang kribo pake celana cutbray dengan muka cengengesan bonceng cewek manis, diikuti dua orang yang ga kalah nyentrik, yang satu jambang nya gundul sebelah dan tebal sebelah pake kemeja polkadot, di sebelahnya mirip turis asing dengan bulu hidung dan bulu betis yang balapan sedang lari lari ngejar Vespa butut, dan terakhir dibelakangnya ada wanita pake masker rambutnya di sanggul pake tusuk konde, dengan kebaya warna hijau daun yang berkibar kena angin mengejar mereka pake sepatu roda.
" Hahahaha....hahahaha.....hahahaha....... Sungguh amazing dan sangat ajaib banget rombongan yang heboh dan berisik itu ",
Ucap orang orang yang melihat mereka di jalan.
Dan akhirnya setelah Bu guru Juminten selesai mengawasi dan membuntuti rombongan Rojali sampai kampus Fanny,
maka Bu guru Juminten segera bergegas kembali ke markas untuk melaporkan hasil
penyelidikannya itu pada sang kepala sekolah yang fenomenal berkepala plontos dan kinclong yaitu Mr Blek.
Mr Blek sang kepala sekolah yang fenomenal berkepala botak dan kinclong itu sudah menunggu Bu guru Juminten sambil tersenyum manis dan memegang kuaci dan kacang, kayak mau nonton di bioskop.
Dan Bu guru Juminten dengan nafas yang tersengal dan berkeringat, duduk di kursi berhadapan dengan sang kepala sekolah, untuk memberikan laporan.
" Bagaimana hasilnya Bu guru Juminten?
apakah mereka fitnes dan dimana lokasi tempat fitnesnya ? serta apakah banyak yang senam di sana ? ",
Tanya Mr Blek bertubi tubi, dengan mata melotot penasaran sambil mengunyah kuaci.
Bu guru Juminten sambil tersenyum dan masih ngos-ngosan berkata,
" Jangan khawatir bapak kepala sekolah yang fenomenal, saya yakin mereka bukan ke tempat fitnes yang banyak cewek cewek pada senam, ataupun tempat kebugaran, melainkan mereka lari lari ngejar Vespa tiap hari karena Vespanya ga muat empat orang,
dan si kribo yang mumbul pake cutbray itu walaupun ga lari lari, tapi dia selalu di ospek
harus push up dan loncat kodok dua ratus kali, hingga akhirnya mereka jadi pada kurus dan slim fit ",
Ujar Bu guru Juminten menjelaskan pada sang kepala sekolah yang fenomenal berkepala plontos dan kinclong, yang sangat antusias mendengarkannya itu.
Sang kepala sekolah yang fenomenal berkepala plontos dan kinclong itu tersenyum lega mendengarnya.
Dan terdengarlah suara tawa bahagia sang kepala sekolah dan Bu guru Juminten dari ruangan sang kepala sekolah itu.
**************************
...Hai para pembaca yang Budiman 😁😁🙏...
...Jangan pernah bosan mendukung Author 😁🙏🙏...
...dengan jempol 👍 like dan favoritnya ❤️❤️...
...do'akan agar Author diberi rejeki umur dan kesempatan untuk bisa menyelesaikan novel ini 😁🙏🙏👍...
__ADS_1
...terimakasih atas perhatiannya (◔‿◔)...