CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA

CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA
Episode34


__ADS_3

Di perusahaan Yhusi.


Wisnu tidak begitu sibuk itu sebabnya ia hanya melihat Kaila dari CCTV yang ada laptop.


“ Presdir, Klien meminta bertemu denganmu. Dia ingin mendiskusikan tentang Investasi.” Asisten Jhon menyampaikan dengan serius, tapi Wisnu tidak menanggapinya.


“ Presdir sangat terobsesi pada gadis itu, membuat Presdir tidak pokus pada perusahaan. Aku tidak boleh biarkan gadis itu mengacaukan rencana Presdir yang sebenarnya, jika begini terus Presdir akan kehilangan segalanya.” batin Asisten Jhon tidak senang.


Asisten Jhon merasa sia-sia menunggu jawaban dari Wisnu yang terus sibuk pada urusan pribadinya.


“ Tunggu! beritahu mereka aku tidak akan berinvestasi pada proyek kecil mereka. Itu tidak akan menguntungkanku, aku akan rugi karena proyek yang minimalis dan tidak membuatku tertarik sama sekali.” ucap Wisnu dengan tegas.


“ Presdir, bukankah sebelumnya.” kata-kata Asisten Jhon terhenti dengan bentakan Wisnu.


“ Itu dulu, tapi sekarang aku tidak akan Investasi sepeser pun pada proyeknya. Cari Klien yang lebih bagus dan bisa buatku puas.” bentak Wisnu dengan teriakan.


“ Baik Presdir.” jawab Asisten Jhon.


Asisten Jhon pergi dari ruangan Wisnu.


“ Dia terlalu ikut campur dalam masalahku, tidak bisakah aku senang sedikit. Sejak aku hidup aku terus jadi pion keluarga Yhusi, ini saatnya aku akan mengalihkan nama perusahaan ini tanpa di ketahui siapa pun.” batin Wisnu mengepal dan memukul meja.


“ Manajer Shu, bagaimana pergerakan Wisnu? adakah yang mencurigakan?.” tanya Yue Yan di telpon.


“ Tidak nona muda, Presdir sangat sibuk di ruangannya. Dia tidak keluar sama sekali setelah kembali dari Villa.” jawab Manajer Shu.


“ Benarkah? awasi dia jangan sampai lengah.”


“ Baik nona muda.”


Yue Yan menutup telponnya karena Ho Jiazhen menemuinya.


“ Sayang, bagaimana kabarmu?.” tanya Ho Jiazhen masuk ke dalam mobil Yue Yan.


“ Ihh, kamu nakal! aku baik-baik saja, kenapa bertanya begitu?.” Yue Yan mengelus dada Ho Jiazhen dengan lembut.


“ Sopir, turun sebentar, tinggalkan kami berdua.” ucap Ho Jiazhen melirik sopir.


“ Baik tuan.” balas sopir lalu turun dari mobil dan menjauh.


Di jalanan sepi dan penuh dengan hutan liar Yue Yan bercumbu dengan Ho Jiazhen di dalam mobil. Sopir sangat ketakutan melihat ke sekeliling penuh hutan rimba dan binatang kecil yang mengganggunya.


“ Sudah 1 jam mereka di dalam mobil, entah berapa lama lagi mereka akan membuatku menderita di sini. Aku lelah mengusir makhluk-makhluk kecil ini, aku Fobia dengan binatang seperti mereka.” batin sopir menyeka air matanya.


“ Yue, aku sangat mencintaimu.” gumam Ho Jiazhen.


“ Kenapa sudah mau keluar ya?.” tidak senang.


“ Benar, aku tidak bisa tahan denganmu yang sangat nikmat ini. Biarkan aku mengecupmu dengan pelan.” Ho Jiazhen sangat menikmati bercinta dengan Yue Yan.


“ Tidak, jangan biarkan siapa pun tahu tentang hubungan kita, biarkan kecupan itu tinggal di dada saja ok.” Yue Yan tidak mau Ho Jiazhen meninggalkan bekas merah di lehernya.


“ Kamu benar sayang, hanya kita berdua yang tahu. Kalau begitu biarkan aku memakanmu sekali lagi.” Ho Jiazhen tidak bisa mengendalikan diri dan melanjutkan bercinta setelah keluar.


“ Kamu memang paling kuat, membuatku ketagihan dan ketagihan.” Yue Yan hanya menikmati dan Ho Jiazhen yang bekerja keras.


Sopir itu melihat mobil yang bergoyang setelah diam beberapa saat.


“ Astaga, aku pikir mereka sudah melakukannya. Ternyata ronde kedua di mulai, entah sampai ronde berapa tuan sanggup melakukan itu.” batin sopir yang sibuk mengusir binatang kecil.


Ronde kedua selesai, sekarang mobil bergoyang lagi menandakan ronde ketiga di mulai. Sopir itu sudah kelelahan dan hampir mati karena berdiam diri di tempat dingin dan angker.

__ADS_1


Ho Jiazhen keluar dari mobil dengan pakaian berantakan, celana yang robek membuat Ho Jiazhen terpaksa menutupinya menggunakan kemeja miliknya.


“ Sopir, cepat kemudikan mobilnya, bawa nona pergi ke kediamannya.” ucap Ho Jiazhen menutup pintu.


Sopir itu berlari dengan senang, sopir itu tidak berani melihat ke belakang dan hanya pokus mengemudikan mobil saja, di ikuti mobil milik Ho Jiazhen membuat sopir sangat gemetar ketakutan.


Seorang pelayan menunggu di depan Villa dan membawa selimut untuk menutupi tubuh Yue Yan.


“ Nona muda, silahkan masuk.” pelayan wanita itu memapah Yue Yan masuk ke dalam.


Merasa Yue Yan sampai dengan selamat, Ho Jiazhen segera pergi ke Apartement nya.


Di perusahaan Yhusi.


Wisnu buru-buru menyelesaikan semua pekerjaannya karena ingin pulang lebih awal dari biasanya.


“ Jhon, aku serahkan semua ini padamu. Lakukan apa yang harus di lakukan.” ujar Wisnu berdiri dan pergi.


“ Apa Anda ingin segera bertemu dengan nona Kaila? tuan, sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, suatu saat nanti dia akan bawa masalah untukmu, rencana kita akan gagal jika tuan terus peduli padanya tanpa memperhatikan rencana awal kita.” gumam Asisten Jhon tidak senang.


Plak!


Wisnu mendekat dan menampar Jhon.


“ Jangan berkata sembarangan lagi jika tidak mau kubunuh, aku bisa saja membunuhmu karena kamu membuatku jengkel akhir-akhir ini.” bisik Wisnu dengan dingin.


Wisnu berjalan dan keluar dari ruangannya.


“ Aku hanya mengingatkan, tidak ada maksud lain.” teriak Asiaten Jhon.


Wisnu mendengar ucapan Asisten Jhon yang membuatnya kesal, sampai membanting pintu dengan keras.


Di perjalanan Wisnu melihat bunga yang ada di toko, Wisnu sangat menyukai bunga mawar putih dan langsung turun dari mobil.


“ Baik tuan, tunggu sebentar. Maaf tuan, apa Anda ingin memberikan bunga nya pada kekasih Anda, atau teman? karena saya bisa buat buket sesuai kebutuhan Anda.” ucap penjual bunga.


Wisnu sedikit tertegun dan bingung harus jawab apa.


“ Tidak ada yang spesial. Aku menyukainya untuk diriku sendiri.” gumam Wisnu menggelengkan kepala.


“ Ada apa denganku? kenapa tiba-tiba membeli bunga mawar? sudahlah, nanti aku buang saja bunga nya setelah sampai di Villa.” batin Wisnu sambil memegang kepala.


“ Ini tuan, karena Anda sendiri yang menginginkannya saya buatkan buket bunga hanya beberapa bunga saja. Itu akan lebih bagus saat di pandang.” dengan ramah penjual itu memberikan bunga nya pada Wisnu.


“ Tidak apa, terima kasih.” gumam Wisnu.


Wisnu memberikan uang tidak tanggung-tanggung, membuat penjual itu keheranan dan menyebut Wisnu itu sebagai dewa kaya karena memberikan uang lebih padanya.


Wisnu menyimpan bunga itu dengan hati-hati, di simpan layaknya seperti seorang kekasih yang menemaninya saat menyetir mobil.


Tiba di Villa, Wisnu membuka jasnya dan memegangnya.


“ Tuan, Anda sudah pulang.” tanya pelayan satunya.


“ Emm, buang bunga yang ada di mobil.” gumam Wisnu sembari masuk ke dalam.


“ Bunga? bunga apa yang di maksud tuan?.” batin pelayan itu dengan bingung.


Pelayan itu berjalan dan membuka mobil, melihat ada bunga mawar putih bibi pelayan langsung mengambilnya.


“ Bunga sebagus ini mau di buang? sayang sekali. Tapi aku tidak bisa menyimpannya, jika ketahuan tuan dia pasti akan marah.” gumam pelayan itu melirik bunga dengan terpesona.

__ADS_1


“ Sudah deh buang saja, dari pada jadi masalah lebih baik jangan menyimpannya walau pun bagus.” pelayan itu membuang bunga nya ke tempat sampah yang ada di depan garasi.


Setelah pelayan itu kembali masuk, Kaila mengendap-ngendap mengambil bunga nya.


“ Sepertinya tidak buruk, aku simpan saja kali ya?.” gumam Kaila sambil menghirup bunga itu yang sudah masuk tong sampah.


“ Nona Anda?.” pengawal itu tampak panik melihat Kaila mengambil bunga yang di buang oleh Wisnu.


“ Sttt! jangan berteriak. Kamu mau di marahi sama tuan mu itu.” Kaila membungkam mulut pengawal dengan tangannya.


Pengawal itu menggelengkan kepala dengan takut.


“ Ya sudah, jangan beri tahu siapa pun kalau aku mengambilnya. Aku sangat suka bunga ini, aku akan membawanya masuk ke dalam.” gumam Kaila menarik tangannya.


“ Hmm, bukankah tuan tidak suka kalau barang yang sudah ia buang di pungut sama orang lain. Tapi bagaimana jika tuan tahu kalau nona Kaila mengambilnya?.” batin pengawal dengan bingung.


Kaila menyimpan bunga itu di kamar pelayan yang mau ia tempati, Kaila sengaja membersihkan kamar pelayan untuk menghindar dari Wisnu. Kaila tahu tidak baik jika terus berada di Villa, tapi Kaila tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa harus menjauh dari Wisnu walau masih satu atap.


“ Bibi pelayan, apa kamu melihat Kaila? dia tidak kabur 'kan dari sini?.” tanya Wisnu dengan cemas.


“ Tidak tuan, nona memaksaku minta kamar pelayan di sini, dia sekarang berada di kamar pelayan paling gujung.” Bibi pelayan itu berbicara dengan ketakutan.


“ Apa?! kamu mengijinkannya tanpa ijin dariku?.” Wisnu terlihat kesal.


“ Aku salah tuan, maafkan aku, nona memaksaku dan aku tidak bisa menolaknya.” balas Bibi pelayan dengan gemetar.


Wisnu berjalan dengan langkah besar menuju kamar Kaila.


Tok tok!


“ Bibi pelayan, masuklah. Aku lagi ada kerjaan, tolong jangan ganggu aku terlebih dulu.” teriak Kaila dari dalam kamar.


Krek!


Wisnu membuka pintunya dengan perlahan, melihat Kaila memindahkan bunga mawar putih ke dalam vas bunga, seketika Wisnu tertegun.


“ Kaila, dia mengambil bunga yang aku buang tadi!.” batin Wisnu.


“ Bibi pelayan, apakah tuan mu itu sudah pulang? katakan padanya aku tidak ada, aku lagi malas bertemu dengannya.” gumam Kaila dengan sibuk merapihkan bunga.


Wisnu tidak menjawab dan membuat Kaila penasaran.


“ Bibi pelayan apa kamu tidak dengar?.” Kaila berbalik badan dan sudah berada di pelukan Wisnu.


“ Kenapa? tidak mau bertemu denganku 'kah?.” tanya Wisnu merangkul Kaila dengan erat.


“ Kamu! lepaskan! kenapa kamu bisa ada di sini Wisnu? kamu tidak sopan.” ucap Kaila berusaha melepaskan tangan Wisnu.


“ Ini rumahku, jelas sudah jika aku bisa ada di sini. Kenapa? tidak suka?.” dengan dingin.


“ Apa maksud dari tatapanmu itu Wisnu? jika tidak suka lepaskan aku! jangan buat aku tinggal di sini. Aku masih banyak urusan di luar, karenamu aku tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang. Apa kamu tahu seberapa cemasnya Via saat aku tidak pulang? hemm! dia pasti khawatir padaku.” mengingat dengan sedih.


“ Benarkah? kurasa tebakanmu salah. Dia tidak mengkhawatirkanmu sama sekali, bahkan dia sangat menikmat bonus yang kuberikan tadi padanya.” melepaskan pelukannya dan sedikit berjalan menjauh dari Kaila.


“ Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? apa kamu melihatnya?.” bentak Kaila.


“ Aku tidak melihatnya, tapi aku punya buktinya. Mau lihat? jika iya ikuti aku ke kamar.” Wisnu berjalan meninggalkan Kaila.


“ Hei! tunggu aku! kenapa kamu membuatku kesal saja, jangan coba-coba bohongi aku ya.” Kaila mengejar Wisnu yang berjalan lebih cepat darinya.


Para pelayan menertawai Kaila karena terlalu berani pada Wisnu.

__ADS_1


“ Nona ini benar-benar spesial bagi tuan. Dia memarahi tuan, tapi tuan tidak memperdulikannya dan suka cari ribut dengan nona Kaila.” gumam para pelayan.


BERSAMBUNG


__ADS_2