CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA

CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA
Episode45


__ADS_3

Kaila dan Via sedang menyantap makan siang mereka, sambil membicarakan sikap Manajer Shu yang semakin tidak waras dan tidak punya etika.


“ Sudah-sudah, jangan bicarakan hal itu lagi. Bagimana di kantor? siapa yang handle pekerjaanku?.” mengalihkan pembicaraan.


Via menghabiskan makanannya sebelum menjawab pertanyaan Kaila.


“ Hmm, Manajer Shu. Dia di perintahkan presdir untuk menyelesaikan pekerjaanmu.” menjawab dengan mulut mengunyah.


“ Benarkah?!.” terkejut.


“ Iya, jadi kamu tidak punya kerjaan numpuk di kantor. Kalau aku jadi kamu aku akan pura-pura sakit dan membiarkan Manajer Shu bekerja keras.” mengangguk.


“ Aku berhutang budi padanya. Lain waktu aku akan membantunya sebagai balasan.” mengalihkan pandangan.


“ Untuk apa? biarkan saja dia. Lagi pula presdir yang menyuruhnya.” mendongak.


Kaila terdiam, ia menghabiskan makanannya dan segera pulang ke kediaman Li.


“ Nona, kau sudah pulang?.” tanya seorang pelayan dengan ramah.


“ Iya, di mana ayah?.” balas Kaila sembari berjalan masuk.


“ Tuan sedang pergi. Nona di suruh istirahat setelah kembali.” ucap pelayan mengikuti Kaila dari belakang.


“ Pergi. Ke mana?.” menghentikan langkahnya.


“ Aku tidak tahu nona.” balas pelayan membungkuk.


Hanna turun dari tangga, melangkah dengan perlahan dan menatap Kaila tidak senang.


“ Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang. Kau tahu ayahmu akan menyalahkanku jika kau kenapa-kenapa.” bentak Hanna di hadapan Kaila.


“ Terima kasih karena ibu sudah mengkhawatirkan aku.” menunduk.


“ Hmm, siapa yang mengkhawatirkanmu?!.” berjalan menjauh dari Kaila, lalu duduk di sofa dan tumpang kaki dengan Elegant.


Kaila mendekati Hanna dan berdiri di sampingnya.


“ Ibu, kejadian tadi aku benar-benar minta maaf. Tadi aku buru-buru dan tidak sengaja mengemudikan mobil tanpa melihatmu.”


“ Cukup! aku tidak mau dengar alasan darimu. Aku sudah tahu niatmu dari awal, kau berani merendahkanku dan ingin membunuhku tadi. Coba bayangkan, seperti apa reaksi ayahmu ketika dia tahu soal ini.” mengangkat tangan dan menyuruh Kaila diam.


“ Tapi bu, aku tidak sengaja. Lagi pula ibu dan Maria yang bersalah, menghalangi jalan dan menyebabkan sopir kehilangan kendali.” membela diri dan tidak suka di ancam.


Hanna menggertakkan gigi lalu berdiri menghadap Kaila.


“ Apa kau bilang?! salahku? apa kau tahu hukuman seperti apa jika kau berani membunuhku?! Hmm, atau kau sudah tidak takut lagi padaku sebagai ibumu.” berbicara dengan kesal.


Kaila tidak berani menjawab perkataan Hanna, satu-satunya cara menghadapi Hanna adalah sabar dan sabar. Membiarkan Hanna dan Maria menindasnya berkali-kali.


Kaila menghela nafas lalu berjalan naik ke tangga.


“ Tunggu! siapa yang menyuruhmu pergi? aku belum selesai bicara. Kembali dan berlutut di hadapanku, maka aku akan memaafkanmu.” teriak Hanna tanpa melihat ke arah Kaila.


Seorang pelayan menyaksikan pertengkaran antara Kaila dan Hanna, dia sangat ketakutan dan berlari ke dapur.


Kaila mundur dengan perlahan, ia menuruti perintah Hanna dan berlutut di hadapan Hanna.


“ Bagus, lakukan sampai kau menyadari kesalahanmu.” ucap Hanna dengan tangan bersedekap di dada.

__ADS_1


Maria baru saja pulang setelah pergi bersama Adira, Adira melihat kejadian itu dan membuatnya marah pada Hanna.


“ Bibi, ada apa dengan Kaila? kau menyuruhnya berlutut? kesalahan apa yang di lakukan Kaila sampai harus seperti ini?.” Adira berlari dan membantu Kaila berdiri.


Kaila enggan berdiri dan tetap duduk di hadapan Hanna.


“ Itu bukan salahku, dia sendiri yang melakukan kesalahan. Aku hanya menghukumnya agar dia jadi anak yang berbakti.” Hanna pergi dari hadapan Kaila dan menjauh.


Maria tampak buru-buru menghampiri Hanna.


“ Ibu, kenapa kau melakukan itu padanya? bagaimana jika Adira curiga dan menyalahkan ibu?.” bisik Maria khawatir.


“ Tidak akan. Kamu tenang saja.” tersenyum jahat.


Maria menggigit telunjuk jari dan takut ibunya melakukan kesalahan dan akan membuat Adira membencinya.


“ Katakan pada calon adik iparmu, apa kesalahanmu sampai aku tega menyuruhmu berlutut.” Hanna berdiri dengan leluasa.


Adira memandang Kaila yang tengah duduk di bawah, ia mengerutkan dahi dengan penasaran.


“ Aku bersalah, karena aku ibu hampir tertabrak olehku.” ucap Kaila.


Adira terkejut mendengar ucapan Kaila, ia mengira kalau Kaila berniat menabrak Hanna sampai mati.


“ Jadi apa yang Maria katakan itu benar?! kamu ingin menabrak bibi dan Maria?.” berbicara dengan serius.


Kaila menoleh.


“ Aku tidak berniat melakukan itu. Aku tidak sengaja dan.” kata-kata Kaila terhenti dengan bentakan Adira.


“ Cukup! hentikan omong kosongmu itu Kaila. Aku tidak menyangka gadis yang aku suka dengan kepolosan dan ke baikannya ternyata punya niat jahat pada ibunya sendiri. Benar-benar tidak punya hati!.”


Kaila tertegun dengan perkataan Adira padanya, Adira salah paham dan membuat Kaila sedih karena di tuduh sebagai penjahat.


Adira seperti mengejek saat mendengar kata-kata Kaila. Lantas ia pergi dari kediaman Li dengan penuh kecewa.


Maria mendekati Kaila dan berkata. “ Ini baru permulaan saja, kedepannya aku akan mengusirmu dari sini.”


Maria dan Hanna pergi ke kamarnya masing-masing, sedangkan Kaila menangis karena di fitnah oleh Hanna.


“ Nona, kau tak apa?.” seorang pelayan menghampiri Kaila dan membawanya ke kamar.


Kaila tak berdaya, ia mengurung diri di dalam toilet, berjongkok dengan shower menyemburkan air ke seluruh tubuhnya.


“ Siapa lagi yang akan membenciku? siapa! apa semua orang akan menjauhiku?!.” teriak Kaila mendongak ke atas.


Sudah 1 jam Kaila berdiam di toilet, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar ke dinginan. Kaila pingsan dengan wajah memucat.


Aji Li baru saja pulang setelah beberapa jam. Aji Li ingin melihat keadaan Kaila dan memastikan Kaila dalam keadaan baik-baik saja setelah pulang dari luar.


“ Kaila, apa kau di dalam? ayah masuk ya.” ucap Aji Li mengetuk pintu kamar Kaila.


Aji Li tidak mendengar respon dari Kaila, Aji Li pikir Kaila sedang tidur, jadi ia masuk begitu saja dan melihat di ranjang tidak ada Kaila.


“ Kaila, kau di mana?.” Aji Li berjalan ke arah toilet dan mendengar air mengalir dari dalam.


“ Mungkin Kaila sedang mandi. Baiklah, aku akan kembali setelah Kaila selesai.” Aji Li berbalik badan dan keluar dari kamar Kaila.


Seorang pelayan masuk ke kamar Kaila setelah Aji Li pergi, ia berteriak histeris dan meminta tolong pada semua orang.

__ADS_1


“ Tidak! tolong! tolong nona!!.” berlari keluar dengan panik.


Aji Li berlari dan memarahi pelayan itu.


“ Ada apa?! kenapa teriak-teriak?.” bentak Aji Li.


“ Ah, maafkan aku tuan. Itu, di dalam, nona Kaila pingsan di toilet.” berbicara dengan terbata-bata dan terus membungkuk.


“ Apa?! jangan bicara omong kosong! aku baru saja keluar dari kamar Kaila, mana mungkin Kaila pingsan.” tidak percaya.


“ Tapi tuan, saya tidak bohong. Nona Kaila pingsan, wajahnya pucat.” pelayan itu semakin panik dan membuat Aji Li percaya padanya.


Aji Li masuk ke dalam dan melihat dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan Kaila terbaring di toilet dengan air mengalir ke seluruh tubuhnya.


“ Kaila, bangun nak. Kamu kenapa? kenapa bisa jadi seperti ini?.” mengangkat kepala Kaila ke pangkuannya.


“ Panggil Dokter sekarang juga!.” berteriak dan membawa Kaila ke ranjang.


Hanna dan Maria datang, ia membuang muka setelah melihat Aji Li sedang menyelimuti Kaila.


“ Istriku, sedang apa kau di sana? kemari, bantu Kaila ganti baju.” menoleh.


“ Ah, baiklah.” bertatapan dengan Maria.


Aji Li keluar meninggalkan Kaila bersama Hanna dan Maria.


“ Ibu, apa ibu yakin mau mengganti baju dia?!.” tanya Maria denga ekspresi jijik.


“ Mau bagaimama lagi?? ibu terpaksa melakukannya. Biar ayahmu tidak curiga kalau kita benci pada anak ini.” balas Hanna dengan pasrah.


Beberapa saat kemudian, Hanna membuka pintu dan mempersilahkan Aji Li bersama Dokter masuk. Suasana sangat tegang, Aji Li terus mengkhawatirkan Kaila yang membuat Maria iri.


“ Drama apa lagi yang di mainkan olehnya? dasar anak suka cari muka.” batin Maria menggertak gigi.


“ Tuan, nona tidak apa-apa. Dia hanya kedinginan saja, berikan dia makanan dan minuman hangat agar tubuhnya segera pulih.” ucap Dokter menghadap Aji Li.


Aji Li mengangguk. “ Kau boleh pergi.”


“ Istriku, apa yang terjadi pada Kaila? apa kau membuat masalah dengannya?.” melirik dengan tatapan seram.


“ Ayah, kenapa kau bertanya seperti itu pada ibu? apa ayah pikir ibu selalu menyakiti kakak? seharusnya ayah tanya pada kakak, kenapa dia bisa seperti itu.” Maria maju ke depan dan membalas pertanyaan Aji Li.


“ Ayah tidak mau di antara kalian ada masalah, ayah ingin kalian terus bersama seperti keluarga seterusnya.” ucap Aji Li.


“ Ckck, ayah itu pilih kasih tahu tidak?! ayah lebih sayang padanya di banding aku dan ibu. Apa ayah tahu aku dan ibu adalah keluarga ayah, sedangkan dia hanya anak pungut dari panti asuhan.” teriak Maria dengan kesal.


Plak!


Aji Li menampar wajah Maria dengan keras.


“ Hah, apa yang sudah kau lakukan padanya?! kau menamparnya? kau jahat suamiku!.” Hanna meraih tangan Maria dan melindunginya.


Maria menangis tersedu-sedu, ia kecewa karena Aji Li berani menamparnya hanya karena Kaila.


“ Kau jahat ayah. Kau jahat! aku yakin kau bukan ayahku, iya, aku hanyalah anak pungut yang telah lahir dari rahim ibuku. Itu sebabnya kau tidak sayang padaku, kau lebih sayang pada Kaila di banding aku.” berbicara sembari mundur dengan perlahan.


Aji Li termenung dan menarik tangan yang sudah menampar wajah Maria.


“ Aku benci sama kalian. Aku benci!!.” Maria berlari keluar sambil menangis.

__ADS_1


“ Maria kau mau ke mana?.” Hanna panik dan mengejar Maria, Aji Li terus memandang tangannya dan merasa bersalah karena sudah menampar putrinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2