
Maria mengemudikan mobil dan pergi ke sebuah tempat di mana para preman berdiam.
“ Aku akan buat perhitungan denganmu Kaila. Tunggu saja.” batin Maria mencengkram setang mobil.
Seorang preman keluar dari gedung tua dan melihat mobil yang terparkir di depannya.
“ Buka, buka pintunya. Siapa kamu? berani sekali datang ke tempatku.” preman itu terus mengetuk kaca mobil dan mengintip Maria.
Maria menghela nafas lalu membuka kaca mobil.
“ Ckck, cantik sekali. Apa ada sesuatu sehingga kau datang kemari? nona cantik.” menjilat jari telunjuk dengan me*um.
“ Iya, aku ingin bertemu dengan bos kamu.” menatap preman itu dengan serius.
Preman itu tertegun dan berdiri tegap.
“ Ambil uang ini. Antar aku sekarang juga, ada pekerjaan bagus untuk kalian.” menyerahkan segepok uang.
Preman itu mengambilnya dengan cengengesan, lalu ia menganggukan kepala dan memasukan uang itu ke dalam celananya.
Maria mengikuti preman itu dari belakang, berjalan dengan Elegant sampai membuat semua preman yang melihatnya tertarik.
“ Wah, cantik sekali. Apa dia bidadari yang Tuhan kirim untukku?.” ucap beberapa preman dengan terpesona.
“ Jangan bicara sembarang, mungkin dia ingin bertemu dengan bos kita.” ucap rekannya.
Preman itu membuka pintu dan mempersilahkan Maria masuk menemui bos nya.
“ Bos, nona ini ingin bertemu denganmu.” ucap preman itu menunjuk ke arah Maria.
Maria merasa jijik melihat penampakan ruangan yang berantakan dengan pakaian dalam wanita di mana-mana.
“ Emm. Duduk.” gumam bos preman.
Baru saja Maria hendak duduk sebuah bra terinjak dan membuatnya terkejut.
“ Tidak apa-apa nona. Silahkan duduk.” ucap preman itu menyingkirkan bra tersebut.
Maria duduk begitu saja dan tidak sadar kalau dirinya menduduki sebuah CD bekas yang berbau aneh.
“ Apa ke datanganmu kemari? kau tahu jika kau datang kemari maka kau tidak bisa keluar dengan mudah?.” ucap bos itu tumpang kaki.
“ Aku rasa kau tidak bisa menahanku di sini.” menjawab dengan percaya diri.
“ Hahah! benarkah?! memangnya siapa kamu? kenapa aku tidak berani menahan gadis sepertimu.” tertawa merendahkan.
Maria melemparkan cek kosong di atas meja. Bos itu terkejut setelah mengambilnya, ia menatap Maria dengan segan.
“ Siapa kau sebenarnya? katakan padaku apa motipmu datang kemari?.” curiga.
__ADS_1
“ Kau akan tahu nanti, aku hanya ingin kau menyuruh anak buahmu membantuku menyelesaikan satu misi. Jika mereka gagal maka kau sendiri yang harus melakukannya.” dengan serius.
Bos itu tertegun beberapa saat, ia menyerahkan cek itu pada anak buahnya untuk membuktikan bahwa ucapan Maria adalah benar.
Setelah beberapa saat kemudian, cek itu bisa di cairkan dengan jumlah yang banyak, bos itu terkejut dan langsung menatap Maria.
“ Baik, aku percaya. Kau boleh perintahkan anak buahku untuk mengikutimu sekarang.” mengangguk dengan senyum puas.
“ Ok, karena kau sudah menyutujuinya maka aku tidak akan sungkan lagi. Selamat tinggal.” Maria berdiri dan pergi dari ruangan itu.
Bos itu melongo melihat CD yang nempel di pa*tat Maria. Ia tidak segan untuk tertawa keras, Maria menoleh dan melihat bos itu tertawa membuatnya tidak nyaman dan bergegas pergi dari ruangan itu.
“ Dasar aneh.” batin Maria dengan ekpresi jijik.
“ Nona tunggu sebentar.” preman itu mengejar Maria dan ingin memberitahunya kalau di pa*tat ada CD yang menempel.
“ Ada apa? aku buru-buru sekarang. Lain kali aku akan memberimu uang.” menjawab sambil berjalan.
Saat Maria melewati semua preman, mereka menertawakan Maria dengan terbahak-bahak. Maria kesal dan menghentikan langkahnya.
“ Diam!! apa yang kalian tertawakan? apa kau tidak tahu sopan santun saat melihat wanita secantik diriku.” dengan percaya diri.
“ Kamu memang cantik. Tapi kamu bodoh nona! lihat di bagian belakangmu, itu sangat memalukan.” teriak seorang preman lainnya.
Preman yang sudah di berikan uang oleh Maria merasa bersalah karena tidak membuang CD itu dari pa*tat Maria, ia menutup mata dengan pasrah.
Maria menengok ke bagian belakang, terdapat CD yang nempel di celananya.
Maria segera pergi dan masuk ke dalam mobil, ia membuka celananya dan membuangnya ke belakang. Ia hanya memakai CD dan menutupinya dengan tas.
Kaila sudah sadar dan Via sedang menyuapinya makan.
“ Kaila, besok 'kan pernikahan adikmu, apa kau akan menghadirinya?.” bertanya dengan ragu.
“ Iya. Bagaimana pun dia adikku, aku akan mendampinginya di pelaminan nanti.” menjawab dengan perasaan sedih.
“ Begitu. Kamu sudah menyiapkan kado untuknya?.” mengangguk mengerti.
“ Astaga, aku hampir saja lupa. Bagaimana ini Via, aku belum membeli hadiah apapun untuk Maria. Kamu bantu aku beli kado ya.” memohon.
“ Baiklah, kamu mau beli apa? nanti aku belikan untukmu.” ucap Via tersenyum.
“ Di sini ada uang, belilah perhiasan yang tidak terlalu mahal.” Kaila memberikan kartu tabungannya pada Via.
Via enggan menerima kartu itu, yang menurutnya itu adalah tabungannya selama bertahun-tahun.
“ Via, kalau bukan kamu siapa lagi yang mau bantu aku. Jadi tolong pakailah uang ini, semoga cukup buat beli perhiasan.” Kaila memberikan kartu itu di tangan Via.
“ Ya sudah, aku akan beli beberapa perhiasan. Jika kurang aku akan menambahnya untukmu.” menggenggam kartu itu dengan segan.
__ADS_1
“ Terima kasih Via. Kau adalah sahabatku yang paling baik.” saling berpelukan.
Keesokan harinya, hari di mana Maria dan Adira akan melangsungkan pernikahan di aula. Rumah dan halaman di dekor berwarna ungu dan membuat pesta itu tampak bercahaya dan megah.
Kaila bersiap di kamarnya sendiri, hanya menggunakan gaun ungu dan riasan tipis. Setelah melihat rumah dan halaman menjadi pesta megah, Kaila turun ke bawah dan membantu pelayan menghidangkan makanan untuk para tamu.
“ Nona sebaiknya Anda tunggu saja di depan, ini tugas kami sebegai pelayan.” ucap pelayan.
“ Tidak apa-apa, aku akan pergi setelah membantu kalian di sini.” Kaila terus sibuk bekerja dan membuat para tamu keheranan.
Saat para tamu bergosip tentang Kaila, kebetulan Aji Li baru saja turun dan meraih tangan Kaila.
“ Ayah, ada apa?.” terkejut.
“ Kamu putriku, kenapa kamu mengerjakan pekerjaan seorang pelayan? ayo ikuti ayah, sambut tamu dan keluarga Adira di depan.” membawa Kaila pergi ke pintu utama.
Kaila berdiri di samping Aji Li dan menyambut tamu dengan ramah. Sedangkan Maria dan Hanna masih di dalam kamar dan sibuk merias wajahnya bersama MUA.
Kaila melihat kesekeliling seperti mencari seseorang.
“ Apa kau mencari seseorang? siapa dia?.” bisik Aji dengan kepo.
“ Iya, aku menunggu temanku. Kenapa dia belum datang? sebentar lagi acaranya di mulai.” gelisah.
“ Kamu tenang saja, masih ada waktu. Ayah yakin temanmu akan sampai sebelum keluarga Adira tiba.” menenangkan.
“ Baiklah.” mengerti.
“ Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Via.” batin Kaila dengan cemas.
Keluarga Adira sampai di depan gerbang utama, Aji Li pergi untuk menyambutnya di temani Kaila di sampaingnya. Semuanya saling berjabatan dan berpelukan, hanya Kaila dan Adira yang bersikap seperti orang asing di acara itu.
“ Ada apa dengan mereka? tidak seperti biasa bersikap dingin seperti itu.” batin Aji Li.
Adira berdiri tepat di depan Altar, menunggu calon pengantin sambil menggengam tangan.
“ Silahkan pengantin wanita berdiri di samping pengantin pria.” ucap biksu.
Aji Li dan Hanna menggandeng tangan Maria dan berjalan ke depan, Kaila mengikuti Maria dari belakang sebagai pembawa cincin pernikahan.
“ Ibu, kau akan temani aku 'kan?.” gumam Maria dengan gugup.
“ Iya.” menatap Aji Li dengan ragu.
Aji Li menyaksikan pernikahan Maria dengan Adira, setelah upacara selesai Kaila memberikan cincin kepada Maria dan Adira. Di lanjut lempar bunga dengan meriah, beberapa teman wanita dan pria dari Maria saling berebutan tempat agar bisa menangkap bunga itu.
“ Kaila, kau tidak ikut mereka?.” tanya Aji Li memandang Maria yang tengah berbahagia.
Kaila menggelengkan kepala dan menunduk.
__ADS_1
BERSAMBUNG