
Sekuat tenaga Kaila mengeluarkan Wisnu dari dalam mobil, di bantu sang sopir taxi dan memberikannya upah.
“ Hah, akhirnya sampai juga. Cepat buka pintunya.” mengusap jidat yang penuh dengan keringat.
“ Iya, tunggu sebentar, ini sedang aku buka.” jawab Via dengan kesal.
Kaila menidurkan Wisnu di bak tempat berendam, mengisi air hangat dan berharap Wisnu bisa cepat sadar dari pengaruh minuman.
“ Hmm, sebaiknya kau temani presdir di situ. Takutnya presdir membutuhkan sesuatu, kau bisa membantunya jika ada di sampingnya.” ucap Via sembari berdiri di depan pintu toilet.
“ Tidak mau. Aku mau tidur saja, dia akan baik-baik saja setelah berendam air hangat. Aku menyimpan air putih dan beberapa cemilan untuknya, jadi tidak perlu khawatir.” berdiri dan mendorong Via keluar dari toilet.
“ Mana bisa seperti itu, bagaimana jika presdir tenggelam dan mati di sana, kamu akan jadi saksi atas kematiannya. Bukan hanya itu, kamu juga akan masuk penjara karena meninggalkan orang mabuk sendirian dalam keadaan berendam di air.” Via sengaja berkata seperti itu agar Kaila bisa menghabiskan malamnya dengan Wisnu.
“ Kau benar, dia belum sadar. Aku takut dia tenggelam, baiklah, sudah aku putuskan, aku akan menemaninya tidur di toilet.” berpikir.
“ Benar sekali. Cepat-cepat, masuk dan bilas rambutnya menggunakan sampo.” Via mendorong Kaila dan mengunci pintunya.
“ Via, jangan bercanda. Cepat buka pintunya! aku akan memukulmu jika kau berani bermain-main denganku.” ucap Kaila dengan tenang.
“ Selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak Kaila.” Via melempar kuncinya di ranjang milik Kaila lalu pergi ke kamarnya.
Kaila hanya bisa pasrah, berbalik badan menatap wajah Wisnu yang berantakan.
“ Air, air, aku mau air. Berikan aku segelas air.” bergumam.
Kaila segera mengambil gelas dan memberikannya pada Wisnu, Wisnu sangat lemah, memegang segelas air saja ia tidak mampu. Kaila terpaksa membantu Wisnu minum dan memegangnya.
“ Jika di lihat dari dekat, Wisnu tampan juga. Tidak heran banyak wanita yang mengejarnya, tapi sifat dingin dan arogannya membuat para wanita kaya minder dengan sikap Wisnu.” batin Kaila tersenyum.
Kaila tersadar, ia menggelengkan kepala dan memukulnya beberapa kali agar sadar.
“ Sadar Kaila sadar! kenapa kamu bisa berpikir seperti itu. Dia itu bukan orang baik, dia menghilangkan kalung milikmu dan tidak merasa bersalah sedikit pun.” batin Kaila.
Sekali lagi Kaila melirik wajah tampan Wisnu, Kaila tidak bisa menahan diri dan hendak mencium bibir Wisnu.
Brak!
Via mengganggu suasana yang tenang menjadi tegang.
“ Kaila, ini selimut untukmu. Jangan sampai kau kedingin dan sakit, besok pagi kita harus bekerja.” melemparkan selimut di pangkuan Kaila.
“ Hmm.” bergumam dengan datar.
Di pagi hari, Wisnu sudah bangun mendapati Kaila yang tidur di lantai toilet. Sedangkan dirinya terus berendam sepanjang malam.
“ Kenapa aku bisa ada di sini? aku ingat, semalam aku pergi ke Barr untuk minum. Tapi kenapa aku bisa ada di tempat Kaila? apa semalam aku mabuk dan membuat kekacawan di Barr?.” batin Wisnu mengingat.
Kaila terbangun, menguap selebar mungkin dan tidak sengaja tangan Kaila memukul wajah Wisnu.
“ Hmm, ngantuk sekali.” bergumam lalu kembali tidur.
Wisnu beranjak dari bak membuka semua pakaiannya. Pada saat Wisnu hendak menggendong Kaila, tiba-tiba Kaila membuka mata dan melihat burung Wisnu dengan jelas.
__ADS_1
Agrh!
Kaila berteriak dan menutup matanya karena sudah ternodai.
Wisnu buru-buru mengambil handuk dan memakainya dengan panik.
“ Sudah, sudah tidak apa-apa. Kamu boleh buka matamu.” memalingkan wajah dengan malu.
Perlahan-lahan Kaila membuka matanya dan segera bangun dari lantai.
“ Apa yang mau kamu lakukan tadi? apa kamu mau memper*osaku?!.” panik..
“ Jangan asal bicara kamu. Siapa yang akan melakukan itu padamu? jangan terlalu percaya diri.” Wisnu menutup mulut Kaila agar berhenti berteriak padanya.
“ Kamu! Hmm.” merasa terendahkan Kaila membuang muka dan menepis tangan Wisnu.
“ Aku sudah baik hati menolongmu, karena kau sudah bangun, silahkan pergi dari sini.” berjalan keluar.
Wisnu menarik tangan Kaila, membuatnya terjatuh memeluk Wisnu.
“ Kenapa? kau mengusirku dari sini? tidak suka aku berada di sini?.” mendekatkan kepala.
“ Bukan, bukan seperti itu maksudku.” merasa bersalah.
“ Lalu apa maksudmu? kenapa tidak menjelaskannya padaku?.”
Jantung Kaila berdetak kencang, rasanya hampir membuat Kaila mati karena jantungan.
“ Itu, bisa tidak jangan bicara terlalu dekat. Aku, aku sangat.” terbata-bata, kata-kata Kaila tidak di bisa di lanjutkan.
Waktu terasa cepat, jam sudah pukul 07:15.
Kaila pergi tanpa pamit ke Wisnu, meninggalkan Apartement dan mempercayakannya pada Wisnu yang ada di rumahnya.
Di Perusahaan Yhusi.
Baru saja Kaila mau duduk di kursi, tapi Manajer Shu memanggilnya.
“ Kaila, temui aku di ruanganku.” ucap Manajer Shu.
“ Iya.” sahut Kaila tidak bersemangat.
Di ruangan Manajer Shu, ia malah mendiami Kaila dan sibuk dengan laptopnya.
“ Jika Manajer tidak ada perlu padaku, aku akan keluar sekarang.” tidak senang.
“ Siapa yang mengijinkanmu pergi? kembali dan duduk di kursi. Ada hal yang mau aku katakan padamu.” berdiri dan menunjuk ke arah kursi agar Kaila duduk.
Kaila kembali dan menampakan wajah tidak senang.
“ Kau tahu siapa dirimu? dan siapa nona Yue? kau tahu apa perbedaan di antara kalian berdua?.” bertanya.
“ Jangan banyak omong kosong, bicara dengan jelas.” tidak sabaran.
__ADS_1
“ Kamu! jangan kira karena kamu lebih dekat dengan presdir, sehingga kamu seenaknya padaku. Jika nona muda tahu, kau akan tamat Kaila.” menyeringai.
“ Tamat? tamat apa?.” pura-pura polos.
“ Kau akan tahu nanti. Jika kau masih berani mendekati presdir lagi aku tidak akan segan melaporkanmu ke nona muda. Biarkan nona muda yang menghukum pelakor sepertimu.” mengancam.
“ Aku tidak takut, silahkan saja kamu laporkan. Lagi pula siapa yang mendekati presdir.” dengan tenang.
“ Aku peringatkan sekali lagi padamu Kaila, jauhi presdir, jangan dekati dia, atau kau akan mendapatkan hal yang kurang mengenakan di telinga.” teriak Manajer Shu.
Kaila tidak dengar, ia keluar dengan tenang.
“ Kenapa? dia cari masalah lagi denganmu?.” tanya Via.
“ Tidak, hanya memberitahu masalah pekerjaan saja.” jawab Kaila.
Wisnu datang ke perusahaan. Berjalan dengan cepat dan melirik Kaila yang mengabaikannya.
“ Dengar semuanya. Hari ini aku mentraktir kalian makan di resto sebelah, bagi kalian yang mau makan silahkan pergi sekarang juga.” ucap Wisnu.
Semua karyawan berbicara, karena Wisnu menyuruh semua orang pergi ke resto di pagi hari tanpa melakukan pekerjaan. Hanya sebagian orang yang pergi untuk makan, yang lainnya sibuk bekerja dan setelah itu akan pergi untuk makan siang.
“ Aku menyuruh kalian semua keluar dari kantor ini! apa kalian mengerti?.” bentak Wisnu sembari memukul meja salah satu karyawannya.
“ Baik presdir. Kami pergi sekarang juga.” sahut Manajer Shu membawa semua karyawan pergi.
Kaila terdiam, menunduk dengan kesal karena perlakuan Wisnu yang kelewatan pada karyawan.
Wisnu berjalan mendekat, sengaja menutup laptop saat Kaila bekerja.
“ Presdir, ada apa?.” dengan lembut.
“ Aku meminta semua orang pergi dari sini, kenapa kamu tetap di sini? apa karena aku?.” dengan percaya diri.
“ Presdir, sebaiknya Anda jangan terlalu dekat dengan bawahan sepertiku. Jika orang lain tahu bisa bahaya untuk Anda.” merapihkan semua berkas dan meninggalkan Wisnu.
“ Tunggu!.” Wisnu menarik tangan Kaila, mereka berdua saling bertatapan satu sama lain.
Manajer Shu tidak pergi dari kantor, dia terus mengawasi pergerakan Wisnu dan Kaila selama di kantor. Bahkan Manajer Shu tidak sungkan memotret keduanya pada saat berpegangan.
“ Heheh, mampus kau Kaila.” batin Manajer Shu.
“ Tolong jangan menyentuhku saat di luar, banyak orang yang akan salah paham pada kita. Aku tidak ingin itu sampai terjadi.” melepaskan tangan Wisnu.
“ Kaila, aku heran sama kamu. Kenapa tiba-tiba hangat, tiba-tiba dingin padaku. Sebenarnya seperti apa perasaanmu terhadapku?.” serius.
Kaila tertegun, menatap mata Wisnu dengan penuh harapan, tapi bayangan itu tiba-tiba hilang karena Kaila merasa tidak pantas untuk Wisnu.
“ Anda pasti sudah tahu jawabannya, aku tidak punya perasaan spesial untukmu, selain hubungan Bos dan bawahan tidak ada lagi perasaan lainnya.”
“ Lalu kenapa kamu masih menolongku, membawaku ke Apartement saat aku mabuk parah. Bukankah itu bisa di bilang kamu sangat mencemaskanku? bukan hanya sekali kamu melakukan itu, tapi berkali-kali, kau.” berusaha menjelaskan tapi Kaila menghentikannya.
“ Aku beritahu padamu presdir, perasaanku sama sepertimu. Anda menolongku dan merawatku saat aku hampir di lecehkan, dan kemarin aku melakukan apa yang sudah Anda lakukan padaku. Setimpal 'kan?.”
__ADS_1
Wisnu terdiam, ia kecewa dengan jawaban Kaila yang tidak memuaskan perasaannya.
BERSAMBUNG