
Di dalam kamar.
Wisnu mendorong Kaila sampai terjatuh ke ranjang, dengan ekspresi polos dan cemas membuat Wisnu terpesona dan wajahnya memerah.
“ Dia, membuatku bergairah. Sudah lama aku tidak melakukan hal itu dengannya, apa dia sedang menggodaku?.” batin Wisnu memalingkan wajah.
“ Wisnu, kenapa kau kasar sekali padaku? salahku apa?.” posisi tidur Kaila sangat menggoda.
“ Kau!.” Wisnu tidak bisa menahannya sampai menutup mata menggunakan tangan kanannya.
“ Ada apa? katakan dengan jelas padaku, kenapa kau bisa datang ke sini dan bersikap kasar padaku?.” dengan polos.
Wisnu langsung menindih Kaila, membuat Kaila kesulitan bergerak karena kakinya di tahan oleh Wisnu.
“ Apa yang akan kau lakukan Wisnu? menyingkirlah dari badanku! kau membuatku susah bernafas.” Kaila berusaha melepaskan diri.
“ Menyesal? terlambat!.” gumam Wisnu mengendus di leher Kaila.
“ Tidak! jangan lakukan itu aku mohon.” Kaila mulai panik.
Kaila yang berniat ingin menggoda Wisnu lalu meninggalkannya setelah tergoda, tapi Kaila malah terjebak dan tidak bisa melakukan apa-apa setelah Wisnu tergoda.
“ Astaga, tadinya aku mau mempermainkan dia, tapi sekarang malah aku yang terjebak sendiri. Tolong selamatkan aku Tuhan.” batin Kaila merenge.
Dor dorrr!
Terdengar suara tembakan dari luar, membuat Kaila ketakutan dan memeluk Wisnu dengan erat.
“ Aku takut, jangan tinggalkan aku.” Kaila enggan melepaskan Wisnu yang ingin melihat asal dari tembakan itu.
“ Kaila, aku tidak akan meninggalkanmu. Sekarang lepaskan aku ok, aku harus memastikan bahwa di luar baik-baik saja.” menyingkirkan tangan Kaila dengan lembut.
“ Tidak mau, aku takut. Jangan tinggalkan aku Wisnu.” memelas.
Wisnu semakin bingung melihat Kaila yang terus nempel padanya.
“ Kaila, presdir, apa kalian di dalam? cepat keluar. Aku takut sendirian.” Via terus mengetok pintu dengan panik.
“ Buka saja, pintunya tidak di kunci.” teriak Wisnu dari dalam kamar.
“ Tidak di kunci! aku masuk ya.” gumam Via buru-buru membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, Via melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat.
“ Astaga, Kaila! sedang apa kau?.” teriak Via.
“ Bantu aku melepaskan dia, aku harus keluar melihat tembakan itu. Cepat.” bentak Wisnu.
“ Ya, baik presdir.” Via melangkah dengan ragu.
“ Kaila, lepaskan presdir. Kau tidak boleh memeluknya sampai seperti itu, dia hampir mati kehabisan nafas.” Via sengaja menakut-nakuti Kaila.
“ Apa?! Wisnu, apa kau baik-baik saja?.” dengan terkejut Kaila segera melepaskan pelukannya.
Tanpa banyak bicara Wisnu melompat keluar dari ranjang, Kaila yang terkejut melihat Wisnu meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya.
“ Bukankah dia hampir mati kehabisan nafas? kenapa dia terlihat baik-baik saja, dan melompat dengan penuh tenaga.” batin Kaila melongo.
“ Hei! dasar kamu ya, bilang tidak suka tapi memeluk presdir tanpa melepaskannya.” memukul bahu Kaila dan menyindir.
“ Hah! apa maksudmu?.” pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“ Cih, sekarang malah pura-pura bodoh. Aku sudah melihatnya dengan jelas, kalau kamu sangat suka pada presdir.”
“ Jangan bicara sembarang kamu Via. Mana ada aku suka padanya.” beranjak keluar kamar.
“ Buktinya, kamu memeluk presdir tadi.” bisik Via.
“ Kamu! jangan bicara seperti itu lagi, jika tidak kupukul kau sampai mati.” Kaila marah dan mengejar Via yang mengolok-olokinya.
“ Aduh sakit, jangan pukul lagi. Kaila hentikan itu, kepalaku sakit.” menyerah.
“ Itu akibatnya karena kau berani mengolok-olokku.” dengan kesal.
“ Iya-iya, aku janji tidak berani lagi.”
“ Apa yang baru saja terjadi padaku? karena kaget aku sampai memeluk Wisnu dengan paksa. Oh Tuhan, itu sangat memalukan, mau di simpan di mana mukaku ini.” batin Kaila dengan wajah merona.
“ Sudah hentikan menghalunya, kau sudah jatuh cinta pada presdir. Jadi tunggu apa lagi? buat dia bertekuk lutut padamu.” Via mengagetkan Kaila yang sedang mengingat kejadian tadi.
“ Kau! sudah kubilang aku tidak suka padanya. Kenapa kau terus bicara seperti itu padaku?.” bentak Kaila.
Tidak di sengaja pernyataan Kaila barusan terdengar oleh Wisnu, Wisnu langsung menunduk dan kecewa mendengarnya.
“ Yakin tidak suka? nanti nyesel loh.”
“ Di luar ada perampokan di kamar sebelah, Polisi datang dan menangkap langsung penjahat itu.” berbicara tanpa ekspresi.
Kaila menoleh, melihat raut wajah Wisnu jadi murung membuat Kaila khawatir.
“ Wisnu, tadi.” Kaila tidak sempat menjelaskan pada Wisnu karena Wisnu memotongnya tanpa perasaan.
“ Aku tahu. Ini sudah larut malam, aku akan pulang ke Villa, besok kalian pergi bekerja lebih pagi dari biasanya. Aku ada pekerjaan sampingan buat kalian berdua.” dengan dingin.
“ Pekerjaan sampingan? upahnya besar tidak?.” tanya Via dengan semangat.
Wisnu pergi dengan terburu-buru, Kaila yang cemas mengejar Wisnu dan melihat dari depan pintu.
“ Apa Wisnu mendengar perkataanku tadi? tidak biasanya dia bersikap dingin secara tiba-tiba padaku.” batin Kaila merasa bersalah.
“ Menyesal ya? seharusnya kau jangan berkata seperti itu jika kau menyukainya, kamu harus bicara jujur padaku dan presdir agar tidak salah paham seperti tadi.” bisik Via.
“ Memang itu yang kuinginkan. Lebih baik dia pergi sebelum terlambat, aku tidak pantas berada di sampingnya sebagai kekasih atau istri. Aku hanya orang biasa, derajat kita tidak sama.” dengan sedih menutup pintu.
“ Sudah, jangan berkata seperti itu. Kalau jodoh mau miskin atau kaya kalian pasti akan bersama, biarlah waktu yang menentukannya.” ucap Via menenangkan Kaila.
Kaila mengangguk dan menyandar di pelukan Via.
Wisnu mengemudikan mobil dengan cepat, Wisnu sengaja pergi ke Barr untuk minum agar pikirannya tenang.
Pelayan di Barr, terus menuangkan Wine ke dalam gelas milik Wisnu, sampai habis 2 botol.
“ Tuan ini minum terlalu banyak, apa dia sedang ada masalah?.” batin pelayan menggelengkan kepala dengan heran.
“ Tuang lagi.” gumam Wisnu setengah sadar.
“ Tuan, tapi Anda terlalu banyak minum. Saya takut Anda tidak bisa pulang ke rumah.” cemas.
“ Siapa kau? berani menentang perintahku. Mau kubunuh kau?!.” bentak Wisnu sambil menunjuk ke pelayan dengan sinis.
“ Tidak, maafkan saya tuan.” pelayan itu ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetar.
“ Tuang, cepat tuang!.” dengan sombong.
__ADS_1
Pelayan itu tidak enak hati, ia pergi dan menyuruh pelayan lain menggantinya melayani Wisnu.
Pelayan itu mencoba beberapa kali menelpon Asisten dari Wisnu, tapi tidak terhubung sama sekali. Di situ pelayan mulai panik karena Wisnu semakin lama semakin parah dan terus minum sampai banyak.
Kebetulan Barr itu tempat di mana Via dan Kaila bekerja dulu, jadi pelayan itu menghubungi Via dan meminta bantuannya.
Via segera menemui Kaila setelah menerima telpon dari temannya.
“ Kaila, apa kau sudah tidur?.” teriak Via dari luar kamar.
“ Belum, ada apa Via? kenapa malam-malam menggangguku?.” dengan lesu membuka pintu.
“ Kaila, bisa tidak kamu antar aku ke Barr? di sana ada pelanggan yang terus mabuk dan tidak mau pulang. Kita harus menghentikannya sebelum dia mati di Barr itu.” dengan panik Via terus menggoyangkan Kaila yang setengah sadar.
“ Ah, baiklah, ayo kita pergi sekarang.” gumam Kaila.
Via menyeret Kaila dan pergi menggunakan taxi. Setelah sampai Via melepaskan tangan Kaila sampai terombang-ambing seperti kehembus angin topan.
“ Sukurlah kalian sudah datang, cepat bantu aku beresi tamu yang satu ini.” ucap pelayan dengan perasaan lega.
Via memberanikan diri menyentuh sang tamu, tapi tangan Via malah bergetar ketakutan.
“ Aku, aku tidak bisa. Biarkan Kaila yang melakukannya.” Via mendorong Kaila sampai Kaila memeluk sang tamu.
Kaila memeluk Wisnu dengan terkejut, ekspresi Kaila berubah ketika tahu orang yang ia peluk adalah Wisnu.
“ Wisnu?? kau! sedang apa kau di sini?.” dengan gugup.
Wisnu menarik tangan Kaila dan membuat Kaila terduduk di pangkuannya.
“ Kau sendiri sedang apa di sini? tidakkah kau mengikuti Kaila?.” menatap wajah Kaila.
Kaila masih termenung, dengan sigap Wisnu mencium bibir Kaila dengan lembut. Kaila bisa merasakan bau alkohol yang menyengat di mulut Wisnu, karena itu Kaila melepaskan ciumannya dengan paksa.
Via dan temannya itu tertegun melihat Wisnu mencium Kaila.
“ Kenapa??.” bertanya tanpa ekspresi.
“ Aku, aku harus pergi sekarang. Besok adalah hari pertama aku masuk kerja setelah cuti panjang.” Kaila bergegas turun dari pangkuan Wisnu.
“ Besok aku sendiri yang meminta Manajer mengambil cuti untukmu.” menahan tangan Kaila agar tidak pergi.
“ Tidak bisa, aku sudah lama tidak masuk kerja. Lagi pula aku tidak sakit, untuk apa harus cuti?.” menolak.
Wisnu berdiri menarik kembali tangan Kaila dan memeluknya.
“ Jangan pergi! kalau kamu pergi aku akan minum sampai besok pagi.” berbisik.
“ Itu bukan urusanku, lepaskan aku Wisnu.” berontak.
Wisnu tidak ingin memaksa Kaila, ia melepaskannya dan kembali duduk seperti semula. Wisnu mengambil sebotol Wine dan meminumnya secara langsung, sontak membuat Kaila terheran-heran dan tidak percaya kalau Wisnu bisa melakukan hal konyol seperti itu.
“ Hentikan! hentikan Wisnu. Jika kau mau minum jangan bawa-bawa namaku sebagai alasan, aku tidak suka.” menahan tangan Wisnu agar tidak minum lagi.
“ Bagaimana jika aku tidak mau? kamu 'lah penyebab aku mabuk seperti ini.” bergumam.
Wisnu sudah hilang kesadarannya, ia pingsan tapi mulutnya tidak berhenti mengoceh.
“ Kaila, sebaiknya kita bawa presdir pulang saja. Jika ada Paparazi bisa gawat, kita berdua akan di salahkan karena tidak bisa menutupi borok presdir kita.” Via mulai cemas.
Kaila kebingungan, tapi Kaila tidak bisa meninggalkan Wisnu dalam keadaan tidak sadar, jadi Kaila memutuskan membawa Wisnu ke Apartementnya.
__ADS_1
Teman pria dari Via membantu memapah Wisnu masuk ke dalam taxi.
BERSAMBUNG