
“ Ayah, aku ijin pergi ke makam. Aku ingin lihat pemakaman ibu temanku.” Kaila sudah bersiap dan memakai pakaian serba hitam.
“ Mau ayah antar?.” khawatir.
“ Tidak perlu, biar sopir yang mengantarku sampai depan. Temanku sedang menunggu di sana, kami akan pergi ke pemakaman bersama.” menggelengkan kepala.
“ Hmm, baiklah. Ingat untuk pulang, kamu tidak di ijinkan pergi keluyurah sebelum sembuh total.” mengingatkan.
“ Iya ayah, terima kasih. Aku pamit dulu.” Kaila berpamitan pada Aji Li.
Hanna dan Maria berada di mobil, mereka sengaja menghentikan mobil dan menunggu Kaila di tengah jalan.
“ Itu dia, cepat-cepat, hadang mobilnya.” ucap Maria.
Hanna dan Maria menghadang mobil yang di tumpangi Kaila, sontak membuat sopir terkejut dan mengerem mendadak.
“ Aduh, ada apa?.” gumam Kaila memegang kepala yang masih sakit.
“ Itu nona, nyonya dan nona muda tiba-tiba menghadang mobil kita.” jawab sopir.
“ Aish, mau apa mereka? pasti mau buat masalah lagi.” batin Kaila dengan heran.
“ Jalan saja, lewati mereka. Berikan peringatan jika kita berani menabraknya.” ucap Kaila dengan keterpaksaan.
“ Baik nona.” sopir itu membunyikan klakson dan maju dengan perlahan.
Maria dan Hanna ketakutan jika mereka mati tertabrak, mereka segera menghindar dan membiarkan mobil Kaila melewatinya.
“ Sialan! dasar anak pungut kurang ajar.” Maria menghempaskan tangan dengan kesal.
“ Ayo bu, kita kejar dia dan berikan dia pelajaran.” bergegas masuk ke mobil.
Kaila menyuruh sopir agar menurunkannya di depan, lalu menipu Hanna dan Maria agar mengikuti sopirnya dari belakang.
Kaila buru-buru masuk ke dalam taxi bersama Via, ia berhasil lolos dari kejaran Hanna dan Maria.
“ Kaila, kenapa ibumu sejahat itu padamu? apa dia tidak menyayangimu lagi?.” tanya Via.
“ Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin ibu terpengaruh oleh Maria, sehingga dia bisa membenciku sampai segitunya.” menjawab sambil memandang jalan dari kaca mobil.
Sesampainya di pemakaman, suasana di sana sangat sepi, hanya ada Manajer Shu yang tengah duduk di samping makam ibunya.
Kaila dan Via turun dari mobil, berjalan menghampiri Manajer Shu yang tengah berduka.
“ Manajer Shu, aku berduka cita atas kematian ibumu.” ucap Kaila dari belakang Manajer Shu.
Manajer Shu menoleh, mengusap air matanya dan berdiri menghadap Kaila.
“ Untuk apa kalian datang kemari? kalian senang 'kan ibuku mati. Ini semua karenamu Kaila, kamu penyebab kematian ibuku.” teriak Manajer Shu sambil menunjuk-nunjuk dengan kasar.
Via menghadang Manajer Shu yang mulai gila.
__ADS_1
“ Apa maksudmu Manajer? kamu menyalahkan Kaila atas kematian ibumu? memangnya apa yang di lakukan Kaila pada ibumu? apa dia membunuhnya? tidak 'kan?.” bertanya dengan kesal.
“ Iya, dia penyebab kematian ibuku.”
Plak!
Via menampar Manajer Shu dengan kekesalannya selama ini, ia melampiaskan amarahnya pada saat Manajer Shu sedang berduka.
“ Sudah sadar? aku harap dengan tamparan barusan bisa menyadarkanmu menjadi orang yang lebih baik. Tidak menggunakan jabatan untuk menindas kami lagi.” memperingati.
“ Via sudah, jangan ribut lagi. Ini di makam, tidak baik.” Kaila cemas dan menarik tangan Via agar tidak bertengkar lagi dengan Manajer Shu.
“ Manajer Shu, aku datang kemari dengan niat baik, kami ingin berbela sungkawa atas meninggalnya ibumu. Jika kamu tidak suka kami datang ke sini, maka kami akan pergi sekarang juga.” berbicara pada Manajer Shu dengan serius.
“ Pergi! pergi kalian! aku tidak butuh belas kasihan dari kalian.” menyuruh Kaila dan Via pergi.
“ Ayo Via.” ucap Kaila.
Kaila dan Via pergi ke taman yang tidak jauh dari taman hiburan, mereka melihat anak kecil yang sedang bermain di taman itu.
“ Sangat indah, sudah lama aku tidak bepergian ke tempat seperti ini. Terakhir kali aku pergi saat aku masih kecil, ayah dan ibu mengajakku ke tempat seperti ini. Tapi setelah kelahiran Maria dalam kehidupan orang tuaku, mereka jadi lupa padaku.” bergumam dan meneteskan air mata.
“ Kamu beruntung memiliki orang tua kaya raya. Beda denganku, sejak kecil aku sudah merasakan sulitnya cari uang dengan berjualan makanan milik orang lain.” Via memeluk Kaila dengan hangat.
Kaila tersenyum, ia menatap seorang anak kecil yang sedang bermain sendirian. Kaila merasa aneh karena anak itu tidak bergabung dengan temannya yang lain.
“ Anak yang tampan.” batin Kaila memandang anak itu.
“ Tidak!.” Kaila berteriak dan berlari menyelamatkan anak itu, sedangkan Via yang menyandar di bahunya terjatuh ke bawah.
Via terkejut dan menatap Kaila, setelah tahu kalau Kaila menyelamatkan seorang anak lelaki, Via tidak marah dan malah khawatir dengan keselamatan Kaila.
“ Kamu tidak apa-apa dik? ada yang sakit tidak?.” tanya Kaila dengan panik.
Anak itu menggelengkan kepala dan tersenyum manis pada Kaila.
“ Ah, aku tidak tahan melihat senyuman anak ini.” batin Kaila terpesona.
“ Kaila, dia tidak apa-apa 'kan?.” tanya Via terengah-engah.
“ Sepertinya tidak, dia tidak terluka sama sekali.” jawab Kaila.
“ Ibu kamu di mana anak tampan?.” tanya Via berjongkok.
Anak itu tidak menjawab pertanyaan Via, ia malah memeluk Kaila, dan seperti menghindar dari Via.
“ Ada apa dengannya?.” tanya Via keheranan.
“ Mungkin anak ini masih terkejut.” Kaila mengelus kepala anak itu, dan sepertinya anak itu senang saat Kaila menyentuh rambutnya.
“ Hah, aku tidak salah lihat 'kan? anak ini nempel banget sama kamu. Apa jangan-jangan anak ini anak kamu!.” menebak dengan bercanda.
__ADS_1
“ Jangan bicara omong kosong! aku tidak punya anak. Mungkin saja orang tua anak ini ada di sekitar sini.” memukul bahu Via.
Tapi reaksi anak itu sangat mengejutkan, dia senang dan terus mengangguk saat Via mengatakan kalau anak itu anak Kaila.
“ Ada apa? apa kamu tahu di mana rumahmu?.” Kaila menyentuh tangan anak itu dan berjongkok di bawah.
Anak itu menganggukan kepala, menarik tangan Kaila dan membawanya ke jalan menuju rumahnya. Kaila tercengang saat anak kecil itu menunjukkan sebuah rumah besar dan mewah.
“ Adik, kamu tidak salah rumah 'kan?.” dengan ragu.
Anak itu menggelengkan kepala, ia menunjuk ke rumah itu agar Kaila mengantarnya pulang.
“ Kaila, mungkin saja anak ini sedang bercanda. Ini sangat mustahil kalau itu rumahnya.” bisik Via dengan curiga.
Anak itu menarik-narik tangan Kaila dan membawanya masuk. Kaila dan Via tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan anak itu terus mengangguk seolah-olah rumah itu adalah milik orang tuanya.
Kaila menghela nafas dalam-dalam, kemudian dia memberanikan diri mengetuk pintu tersebut. Kaila dan Via saling bertatapan, mereka sudah pasrah jika harus di marahi pemilik rumah itu.
“ Siapa?.” teriak seorang wanita keluar dari rumah itu, dia adalah Fatma, nyonya muda di kediaman Child.
“ Nyonya, apa betul anak ini tinggal di sini?.” mengusap kepala anak itu.
Fatma melihat anak itu, seketika ia berteriak dan memeluk anak itu.
“ Daffa, kamu dari mana saja? mami sama papi mencarimu ke mana-mana? katakan pada mami apa sesuatu terjadi padamu?.” dengan kecemasannya Fatma mengecek seluruh tubuh Daffa.
Daffa, seorang anak kecil yang di selamatkan Kaila di taman, dia adalah tuan muda di kediaman Child.
Fatma berdiri menatap Kaila. “ Terima kasih, kamu sudah membawa putraku pulang. Jika tidak keberatan boleh aku tahu siapa nama kalian?.”
“ Perkenalkan, nama saya Via, dia temanku Kaila. Dia yang sudah menyelamatkan putra nyonya di taman, jika tidak ada Kaila mungkin putra nyonya sudah.” Via mengulurkan tangan dengan bersemangat.
“ Tidak nyonya, maksud temanku adalah anak nyonya ingin pulang.” memotong kata-kata Via dengan sengaja.
“ Oo, seperti itu. Jika ada waktu bolehkah aku mengundang kalian makan siang, kita bisa makan bersama di dalam, kebetulan pelayan sedang memasak di dapur.” ucap Fatma.
“ Tidak perlu repot-repot nyonya, kami sudah makan tadi. Lagi pula kita mau pergi ada urusan lain. Sampai jumpa.” Kaila menutup mulut Via yang mau mengatakan iya pada Fatma.
“ Aduh sayang sekali. Baiklah tidak apa, kita masih punya banyak waktu ke depannya.” dengan kecewa.
Kaila menggiring Via pergi dari kediaman Child.
“ Kebiasaan, kamu suka menolak makanan enak. Padahal aku belum makan, aku lapar.” merenge.
“ Sudah, aku bawa kamu makan di resto. Aku yang traktir.” menepuk bahu Via.
“ Ok, teraktir aku sampai puas ya.” tersenyum senang.
“ Hmm, iya.” Kaila menganggukan kepala.
BERSAMBUNG
__ADS_1