CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA

CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA
Episode48


__ADS_3

Di Villa.


Adira membawa semua koper masuk ke dalam. Sedangkan Maria pergi melihat betapa sunyinya tempat itu, ia menghirup udara dan mendengar sesuatu yang membuatnya merinding, Maria berlari masuk mengikuti Adira.


“ Malam ini aku harus terlihat cantik, aku akan buat Adira lupa pada Kaila anak pungut itu.” batin Maria merapihkan rambutnya.


Adira masuk ke dalam kamar dengan lesu, Adira tercengang melihat Maria yang tampil **** di depannya.


Maria berjalan mendekat dan menggoda Adira dengan memperlihatkan buah dadanya. “ Sayang, biarkan aku memuaskanmu malam ini.”


Adira pasrah melihat Maria menariknya ke ranjang, Maria mulai menggoda Adira dengan membuka seluruh pakaian Adira, Maria tersenyum karena pada akhirnya Adira jatuh ke pelukannya.


Keesokan harinya.


Maria mengerutkan alis karena matanya terpapar sinar matahari pagi.


“ Nona, kau sudah bangun?.” sapa pelayan wanita mengagetkan Maria yang baru saja membuka mata.


“ Kamu! siapa kamu?.” segera menutup tubuhnya menggunakan selimut.


Pelayan itu mendongak dan menjawab. “ Saya pelayan Anda nona. Tuan Adira sedang menunggu nona di kolam renang. Ini pakaian yang harus nona pakai.” menyerahkan bikini berwarna merah muda pada Maria.


“ Apa? kamu bilang suamiku menungguku di kolam renang?! apa dia mengatakan sesuatu?!.” Maria tersenyum bahagia.


“ Tidak, tuan hanya meminta saya untuk membangunkan nona, dan menyuruh nona pergi menemui tuan.” menggelengkan kepala.


“ Baik. Sekarang kamu keluar, aku mau ganti pakaian dulu. Beritahu suamiku untuk sabar menunggu.” Maria segera beranjak dari ranjang dan berlari ke toilet dalam keadaan tubuh tanpa sehelai pakaian.


Pelayan itu terkejut melihat Maria ceroboh, dia segera menutup mata dan berlari keluar dari kamar.


“ Ya ampun nona! dia benar-benar sembrono.” gumam pelayan tidak bisa berkata-kata.


Maria segera menemui Adira di kolam renang. Melihat Adira sedang duduk di samping kolam renang membuat Maria tidak sabar ingin memeluknya.


“ Sayang.” sapa Maria dari kejauhan.


Adira menoleh dengan mulut mengunyah cake.


Maria duduk di pangkuan Adira sambil menggodanya. “ Aku mencintaimu sayang.” kecup di sebelah pipi kiri.


Adira bersikap dingin seolah lupa dengan kejadian semalam. “ Maria, ada yang mau aku katakan padamu.” menatap Maria dengan serius.


“ Apa?!.” dengan perasaan sedih.


“ Tadi ibuku menghubungiku dan menyuruh kita untuk pergi ke Dokter. Ibuku mau kita punya anak secepatnya, jika perlu melakukan bayi tabung lebih baik.” berbalik badan.


“ Bayi tabung??.” bergumam.


“ Iya.” jawab Adira berjalan mendekat.


“ Tapi kenapa secepat ini? kita baru menikah kemarin. Apa aku harus hamil secepat itu?.” dengan heran.


“ Sebenarnya aku juga belum memikirkan hal itu. Tapi kau tahu sendiri, ibuku sudah lama menginginkan seorang cucu.” tidak bisa membantah.


Maria memalingkan wajah. “ Bukankah kau memiliki seorang kakak yang sudah menikah? kenapa tidak dia saja yang hamil? kenapa harus aku? lagi pula aku belum siap untuk hamil.” menolak dengan tangan bersedekap di dada.


“ Ckck. Jangan bercanda Maria, kau istriku, sudah seharusnya kau mengandung anakku.” mengejek.


Maria pergi dari hadapan Adira dengan kesal dan marah. “ Apa yang harus aku lakukan sekarang? Adira memintaku untuk segera mengandung anaknya??.” batin Maria gelisah.


2 hari berlalu, Maria dan Adira memutuskan untuk pulang lebih awal karena mereka bertengkar di malam pernikahannya. Maria tidak berani berbicara pada Adira, ia terdiam di sepanjang jalan sambil memikirkan ucapan Adira kemarin. Sesampainya di kediaman Li, Maria melihat Kaila bersama Via membawa beberapa hadiah di tangannya. Maria langsung berpura-pura mesra dan turun dari mobil.


“ Apa yang kalian lakukan di sini? bunga? kau pikir kalian mau pergi ke makam ya, kenapa bawa bunga ke kediaman Li?.” Maria langsung mengejek Kaila setelah keluar dari mobil.


Kaila melihat Maria bergandengan tangan dengan Adira.


“ Maria, kau sudah pulang?.” melirik koper di belakang Maria.


Maria langsung menutupinya dan menjelaskan pada Kaila. “ Ya, aku pulang karena rindu pada ibu. Benar tidak sayang?.” berbicara dengan gugup.


Kaila menganggukkan kepala dan mengerti.


Aji Li membuka pintu, ia senang melihat Kaila datang bersama temannya, tapi Aji Li tidak sadar kalau Maria dan Adira pulang lebih awal dari waktu yang di rencanakan.


“ Sudah lama menunggu? ayo masuklah nak.” mempersilahkan Kaila masuk tanpa melihat kedatangan Maria.


Maria mengulurkan tangan dan tidak percaya kalau ayahnya tidak melihat ke datangannya.


“ Ayah ini benar-benar tidak lihat aku apa sengaja? di matanya hanya ada Kaila dan Kaila! kenapa ayah sesayang itu sama anak pungut?.” batin Maria mengepalkan tangan.

__ADS_1


“ Tunggu ayah!.” Kaila meraih tangan Aji Li agar tidak masuk ke dalam rumah.


Aji Li melirik Kaila dan sadar kalau Maria berada di depannya. “ Maria, kau? sudah pulang?.” kebingungan.


“ Ayah kau ini! dari tadi aku di sini kenapa baru sekarang kau menyapaku?!.” dengan wajah kesal.


“ Hahah! maafkan ayah nak. Ayah benar-benar tidak tahu keberadaanmu di sini.” Aji Li tertawa lalu memeluk Maria.


“ Katakan kenapa pulang secepat ini? bukankah kalian akan berbulan madu selama 1 minggu, kenapa sudah pulang?.” menatap Adira dengan penasaran.


Adira tidak berani berbicara pada Aji Li, dia ketakutan saat Aji Li menatapnya dengan tatapan aneh. Hanna keluar setelah mendengar Aji Li menyebut nama Maria.


“ Suamiku, siapa yang datang? Ohh! Maria putriku, kau sudah pulang nak? ibu sangat merindukanmu.” Hanna langsung memeluk Maria setelah melihatnya, lalu membawa Maria masuk dan mengabaikan kedatangan Kaila bersama temannya.


Aji Li menganggukkan kepala pada Kaila, dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“ Tidak apa-apa.” gumam Aji Li pada Kaila.


Hanna menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan untuk sarapan.


“ Maria, kenapa tidak bilang pada ibu kalau kamu mau pulang cepat? ibu bisa masak makanan kesukaanmu.” menggenggam tangan Maria dengan penuh hangat.


“ Ibu tahu sendiri 'kan, sekarang aku sudah punya suami, jadi aku harus patuh pada suamiku. Ya, walaupun aku masih betah di sana, mau bagaimana lagi kalau suamiku mau pulang lebih cepat aku terpaksa mengikuti suamiku bu.” Maria sengaja berbicara seperti itu hanya untuk membuat Kaila cemburu.


“ Tenang Kaila tenang! mereka keluargamu, tahan emosimu demi ayahmu yang selalu ada untukmu.” batin Kaila menenangkan hatinya.


Kaila terus menyantap makanannya dan tidak pedulikan Hanna dan Maria yang terus mengoceh.


“ Saat makan jangan banyak omong kosong, makan makanan kalian!.” ucap Aji Li dengan tegas.


Semua orang terdiam saat Aji Li berbicara.


“ Ayah, aku sudah selesai makan. Aku pergi bekerja dulu ya.” berdiri dan mengambil tasnya.


“ Aish! ya sudah, hati-hati di jalan. Jika kau punya waktu kembali temui ayah nak.” Aji Li tidak rela Kaila pergi.


“ Baik.” Kaila mengangguk dan pergi.


Di perusahaan Yhusi.


Sebagai Sekertaris Kaila mengikuti Wisnu Meeting dengan beberapa Klien kerja. Kaila tidak tahu kalau Aji Li ikut serta dalam memenangkan proyek besar di negara barat.


Wisnu mengangguk dan berjalan di ikuti kaila dari belakang, semua orang berdiri dengan ramah menyambut ke datangan Wisnu di ruang Meeting. Kaila tercengang saat tahu ayahnya berada di ruangan yang sama.


“ Kenapa ayah bisa ada di sini?.” batin Kaila tidak bisa berkata-kata.


Kaila membungkuk dengan ramah dan duduk tidak jauh dari kursi Wisnu. Kaila berpura-pura tidak mengenal Aji Li karena dirinya datang bersama Wisnu yang artinya bersaing dengan setiap Klien yang hadir.


Tak tak! suara langkah kaki terdengar jelas dari luar, Kaila penasaran dan terus menatap ke arah pintu untuk melihat seseorang yang datang, Kaila terkejut saat melihat kedatangan Manajer Shu yang tersenyum pada semua orang dengan membawa berkas di tangannya.


“ Hallo semuanya! perkenalkan nama saya Shu, saya sebagai Manajer di perusahaan Yhusi. Aku yang akan mendampingi Presdir Wisnu selama Meeting, mohon kerja samanya.” berbicara dengan Elegant dan tegas.


Manajer Shu berdiri di mana Kaila duduk, Manajer Shu ingin Kaila pindah dan membiarkannya duduk di samping Wisnu. Kaila mengalah dan membiarkan Manajer Shu duduk di dekat Wisnu.


“ Kenapa dia membiarkan orang lain merebut tempat duduknya. Apa dia tidak bisa mempertahankan tempat duduknya sendiri?.” Wisnu yang marah langsung memasang wajah datar.


Selama Meeting Wisnu tidak pokus dan terus memikirkan bagaimana caranya menghukum Kaila karena berani membiarkan wanita lain duduk di sampingnya tanpa izin darinya. Tanpa sadar Wisnu memukul meja karena refleks terlalu kesal. Semua orang menatap ke arah Wisnu dengan heran.


“ Aku tidak sengaja.” kebingungan.


Wisnu berdiri meninggalkan Meeting penting itu.


“ Anda mau ke mana tuan?.” seorang Klien bertanya pada Wisnu.


“ Aku akan pergi ke toilet.” balas Wisnu tidak peduli.


“ Ada apa dengannya? kenapa dia seperti sedang marah?.” batin Kaila dengan bingung.


Kaila berdiri dan hendak pergi menemui Wisnu di toilet, tapi Manajer Shu menghentikannya.


“ Kau mau ke mana? kita sedang rapat di sini, kembali ke tempat dudukmu sekarang.” bentak Manajer Shu dengan nada pelan.


Kaila melepaskan tangan Manajer Shu dan berkata.


“ Jika Presdir tidak ada di sini apa kau pikir perusahaan Yhusi akan menang?! lakukan saja tugasmu, jangan urusi aku.” bisik Kaila dengan dingin.


Manajer Shu menggertakkan gigi dengan tangan mengepal di bawah meja.


“ Kurang ajar! dia pikir dia siapa berani berbicara seperti itu padaku? awas saja kau Kaila, aku tidak akan mengampunimu.” batin Manajer Shu penuh dendam.

__ADS_1


Kaila mondar-mandir di luar menunggu Wisnu keluar dari toilet pria, Kaila tidak berani masuk karena banyak pria menatapnya dengan tatapan aneh karena Kaila berdiri tepat di depan toilet pria.


Saat Wisnu keluar ia terkejut melihat Kaila sedang berdiri menunggunya, tapi Wisnu berusaha mengabaikan Kaila dan berjalan melewatinya.


“ Wisnu, kenapa kau lama sekali? kami menunggumu, rapatnya hampir selesai, bagaimana dengan proyeknya?.” Kaila mengkhawatirkan pekerjaannya.


“ Itu pekerjaanmu. Kau tahu bagaimana mendapatkan proyek ini, bukan?.” setelah mengatakan itu Wisnu pergi dari hadapan Kaila.


Kaila kebingungan dengan sikap Wisnu yang dingin padanya. Wisnu menghentikan langkahnya dan merasa bersalah sudah mengacuhkan Kaila yang peduli padanya, tapi Wisnu menggelengkan kepala agar tidak melihat ke belakang.


“ Ada apa dengannya? hari ini dia seperti menghindar dariku.” batin Kaila menatap Wisnu yang pergi meninggalkannya.


Di ruang rapat sangat kacau, banyak Klien berebut untuk mendapatkan proyek besar itu, hanya perusahaan Yhusi yang terdiam karena Direktur nya pergi ke toilet begitu lama.


“ Presdir, bagaimana ini? mereka menyerang perusahaan kita dan menuduh tidak bisa di andalkan jika kita memenangkan proyek ini.” Manajer Shu segera menghampiri Wisnu setelah melihatnya.


“ Kembali ke tempat dudukmu!.” bentak Wisnu dengan tatapan seram.


“ Sialan! di saat genting begini tapi dia masih jual mahal dan arogant. Kita lihat apa kau akan menang dengan sikapmu seperti itu?.” Manajer Shu sangat kesal karena Wisnu selalu bersikap dingin padanya.


Kaila mengambil alih tugas Manajer Shu dan berusaha meyakinkan Owner agar beliau mempercayai perusahaan Yhusi. Tidak butuh waktu lama setelah Kaila menjelaskan bahwa perusahaan Yhusi layak mendapatkan proyek itu di banding perusahaan lain.


“ Baiklah, aku setuju denganmu.” ucap Owner mengangguk dengan kagum.


Wisnu yang sedang menatap Kaila saat bekerja terkejut saat Owner itu menyetujui kerja sama dengan perusahaannya.


“ Tuan? maksud Anda??.” Kaila tidak percaya jika Owner itu langsung setuju hanya beberap patah kata.


“ Ya, aku akan menyerahkan proyek ini pada perusahaan Yhusi. Selamat nona, kau benar-benar berbakat dalam bidang ini.” Owner itu mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Kaila.


“ Tunggu! Anda tidak bisa setuju begitu saja padanya tuan, dari tadi saya sudah menjelaskan bahwa perusahaan Li lebih baik dari perusahaan Yhusi. Kenapa Anda memilih bergabung dengannya dari pada dengan perusahaan Li?.” ucap Sekertaris Mink.


“ Ini proyek saya, kenapa Anda keberatan?.” Owner itu tidak senang karena Sekertaris Mink berani berbicara seperti itu padanya.


“ Tidak, maksud saya.” kata-kata Sekertaris Mink di hentikan oleh Owner tersebut.


“ Sudahlah, aku anggap tidak pernah berdebat denganmu.” melambai tangan dan memalingkan wajah.


“ Terima kasih tuan.” Kaila segera membalas jabatannya dengan senang.


“ Dia setuju begitu saja! apa dia sejutu karena tertarik pada Kaila? dasar rubah tua.” batin Wisnu membuang muka.


“ Selamat tuan.” mengulurkan tangan.


Wisnu segera berdiri dan membalas jabatan Owner dengan senyum terpaksa. “ Ya, terima kasih atas kepercayaan Anda tuan.”


Aji Li menatap Kaila dengan kecewa karena Kaila membantu Wisnu di banding ayahnya sendiri.


“ Maafkan aku ayah, aku yakin kau mengerti kenapa aku membantu Wisnu, karena aku bekerja untuknya sudah seharusnya aku membantu dia memenangkan proyek ini.” Kaila memalingkan wajah karena merasa bersalah.


Aji Li berjalan dan berhenti di dekat Kaila. “ Kaila ayah mau bicara denganmu.” bisik Aji Li.


Kaila mengikuti Aji Li dari belakang, Wisnu mencurigai Aji Li dan Kaila jadi ia menyuruh Asher untuk mengawasi mereka berdua secara diam-diam.


“ Pergi, apa yang akan mereka rencanakan?.” ucap Wisnu memandang kepergian Kaila dan Aji Li.


“ Baik tuan.” balas Asher.


Manajer Shu pergi ke toilet wanita dan berusaha menghubungi Yue Yan.


“ Nona, kenapa kau tidak mengangkat telpon dariku?.” Manajer Shu yang panik tidak bisa diam dan terus menghubungi Yue Yan, dan akhirnya Yue Yan mengangkat telponnya.


“ Bagaimana? apa rencana kita berhasil? kau tidak benar-benar membuat Wisnu menang 'kan?.” bertanya dengan senang.


” Bagaimana ini? nona Yue pasti akan marah jika aku gagal.” batin Manajer Shu gelisah.


“ Shu! jawab aku! Wisnu kalah bukan?.” bentak Yue Yan.


“ Tidak nona.” resfek karena panik.


“ Apa?! kau tidak benar-benar bekerja dengan baik 'kan?.” bertanya dengan serius.


“ Aku sudah berusaha membuat Klien tidak percaya pada perusahaan Yhusi, tapi siapa sangka Kaila berdiri dan membuat Klien itu setuju begitu saja. Ini bukan kesalahanku nona, tolong nona maafkan aku.” memohon.


Yue Yan menurunkan ponsel dari telinganya. “ Gadis itu, dia semakin berani merusak rencanaku. Apa aku harus melenyapkannya agar tidak ada orang yang menghalangi tujuanku.” batin Yue Yan tertegun.


Yue Yan mematikan ponselnya dan meminta Ho Jiazheng untuk membuat perhitungan dengan Kaila karena sudah merusak rencananya.


“ Kita lihat gadis bodoh! apa kau masih berani mengacau lagi.” batin Yue Yan menyeringai.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2