CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA

CINTA PRESDIR DAN GADIS BIASA
Episode47


__ADS_3

Masih di pesta. Kaila menunggu kedatangan Via dengan cemas.


“ Kaila?.” teriak Via sembari membawa kado di tangannya.


Kaila tersenyum lega setelah melihat Via membawa kado untuk Maria.


“ Kamu dari mana saja? kenapa lama sekali?.” memukul bahu Via dengan gemas.


“ Aduh, maaf. Tadi aku sakit perut dan bolak-balik ke toilet.” menciut.


“ Ini, aku sudah memilih hadian paling bagus di tempat perhiasan. Ya, walaupun harganya lumayan mahal tapi worth it 'lah.” Via menyerahkan kotak kado itu pada Kaila.


“ Cukup tidak uangnya?.” menerima dengan cemas.


“ Cukup.” mengangguk tersenyum.


“ Terima kasih Via. Kau sudah mau membantuku.” memeluk Via dengan hangat.


“ Sama-sama. Sudah sana berikan hadiah itu pada adikmu.” mendorong Kaila dengan perlahan.


Kaila melangkah maju kedepan, menatap kotak hadiah yang ada di tangannya dengan yakin.


“ Kakak, kau bawa apa? apa itu untukku?.” Maria bersemangat dan membuat para tamu melihatnya.


Kaila menyerahkan kado itu pada Maria. “ Iya, ini untukmu. Semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan.”


“ Terima kasih kakak. Kau sangat baik padaku. Aku juga berdoa pada Tuhan semoga kamu segera mendapatkan lelaki yang kau cintai.” menerima hadiah itu.


“ Dan, tentu saja lelaki itu bukan suamiku, Adira.” bisik Maria menyeringai.


Kaila langsung menatap Adira yang sedang berdiri berjabatan tangan dengan tamu. Adira membuang muka setelah tahu Kaila melihatnya.


“ Kau tenang saja, aku tidak akan merebut suami dari adikku. Karena aku bukan wanita sampah yang suka merebut lelaki dengan saudaraku.” membalas dengan perkataan tajam.


“ Kau!!.” Maria menggertakkan gigi dengan kesal.


Maria pergi dari hadapan Kaila dan berdiri di samping Adira. Semua orang menunggu Maria membuka hadiah itu, mau tidak mau Maria membukanya dengan terpaksa.


“ Apa?!.” Maria terkejut saat tahu isi dari hadiah itu.


Semua orang melihat Maria dan penasan dengan hadiah itu, saat Maria melemparkan hadiah itu semua orang terkejut dan membuat Kaila tertegun tanpa kata. Sebuah surat cinta yang bertuliskan bahwa Kaila masih mencintai Adira sampai saat ini.


“ Apa-apaan ini?! berani sekali kamu memberikan hadiah seperti itu di hari pernikahanku.” teriak Maria dengan marah.


Beberapa tamu wanita berbicara. “ Astaga, bukankah hadiah itu dari kakaknya. Kenapa bisa kakaknya memberikan surat cinta mereka di hari pernikahan adiknya.”


Melihat Kaila di rendahkan dan di salahkan oleh tamu, Aji Li tidak tinggal diam. Ia mendekati Kaila dan meraih bahunya. “ Kaila.”


Kaila menatap mata Aji Li dengan kecemasan. “ Ayah, itu bukan aku. Aku tidak memberikan surat seperti itu.” Kaila mencoba menjelaskan pada Aji Li dengan panik.


“ Hentikan omong kosongmu itu Kaila. Dasar tidak tahu malu! aku sudah menikah dengan adikmu, kenapa kamu masih menyimpan surat itu dan memberikannya pada Maria. Walaupun aku sangat mencintaimu, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah tahu kebusukanmu yang sebenarnya, kau tidak sebaik yang kupikir Kaila.” bentak Adira merendahkan.

__ADS_1


Kaila ketakutan dan menangis di pelukan Aji Li.


Aji Li mencari teman Kaila yaitu Via, Aji Li mencurigai Via sebagai dalang masalah ini. Setelah menemukan Via yang sedang berdiri di antara keramaian Aji Li langsung berteriak. “ Kamu! kemari.”


Via kebingungan, tapi Via bertanggung jawab atas apa yang sudah menimpa Kaila dalam pesta itu. Via pun maju ke depan dan menghadap Aji Li, tanpa basa-basi Aji Li langsung menampar Via sampai terjatuh ke bawah.


“ Hah, ayah kau??.” Kaila melihat Via yang terduduk di lantai dengan tangan memegang wajahnya.


“ Via kau tak apa?.” Kaila hendak membantu Via bangun, tapi Aji Li menarik tangan Kaila dan tidak membiarkan Kaila mendekati Via lagi.


“ Ayah. Ada apa denganmu?.” keheranan.


“ Bawa gadis ini ke depan! beri dia pukulan dan jangan berhenti sampai dia mengakui kesalahannya.” teriak Aji Li dengan kesal.


Via terus menggelengkan kepala agar Kaila membantunya dan percaya kalau bukan dia pelakunya.


“ Jangan berontak Kaila. Jika kau ingin ayahmu di sisimu, kau diam dan patuh.” gumam Aji Li menahan emosi.


“ Tapi ayah, aku yakin bukan Via pelakunya. Dia temanku, tidak mungkin dia melakukan itu.” Kaila memohon pada Aji Li agar mempercayai temannya itu.


Aji Li mengabaikan Kaila dan terus menatap ke arah Via yang sedang di pukul.


“ Bagaimana ini?! ayah pasti sangat marah padaku. Aku harus cari cara agar ayah menghentikan hukuman itu pada Via. Dia bisa mati jika terus di pukul.” batin Kaila dengan gelisah.


Setelah berpikir begitu lama akhirnya Kaila mengakui kalau dirinya 'lah yang memberikan surat itu.


“ Ayah maafkan aku. Sebenarnya aku 'lah yang sengaja memberikan surat itu pada Maria. Karena, karena, aku kesal Maria merebut Adira dariku. Aku masih mencintai Adira itu sebabnya aku ingin merusak pernikahannya dengan surat itu.” berbicara dengan lantang.


Tanpa kata Aji Li langsung menampar Kaila sampai terjatuh ke bawah, mengambil cambukan yang baru saja di gunakan pengawal untuk memukul Via, lalu menggunakannya pada Kaila.


“ Tidak ayah, kumohon hentikan! itu sangat menyakitkan. Hiks hiks.” menangis dan memohon sambil berlutut.


Aji Li berhenti memukul Kaila, ia menyuruh pengawal membawa Kaila ke dalam kamar dan menguncinya.


“ Mampus kau Kaila. Itu akibatnya karena kau berani berebut segala hal denganku. Aku sudah peringatkan kamu untuk menjauh dari keluarga Li, bukan hanya ayah yang kau rebut dariku, tapi Adira juga kau mau merebutnya dariku.” batin Maria tertawa puas.


Aji Li menanggung malu karena ulah Kaila, ia mengumumkan pada semua orang kalau pesta itu di akhiri sampai di situ.


“ Dengan adanya masalah seperti ini, dengan berat hati saya mengakhiri pesta ini. Silahkan kalian pulang.” ucap Aji Li mengibaskan tangan dan pergi dari pesta itu.


Maria terkejut dan berteriak. “ Ayah, apa maksudmu? kau mengakhiri pesta ini tanpa persetujuanku?!.”


Aji Li menoleh. “ Apa kau akan melanjutkan pesta ini?? silahkan, ayah tidak akan melarangmu Maria.”


Maria terdiam setelah di tatap Aji Li, ia menundukan kepala lalu menatap ke arah Kaila dengan kesal.


“ Lagi-lagi kamu menghancurkan kebahagianku Kaila. Aku tidak terima! kau harus merasakan apa yang sudah aku rasakan hari ini. Kau harus membayarnya berkali-kali lipat.” batin Maria mengepalkan tangan.


Hari telah malam, setelah pesta itu berakhir lebih cepat Maria dan Adira pamit berbulan madu ke sebuah pulau yang terletak di dalam hutan.


“ Maria, ibu akan merindukanmu. Katakan pada ibu berapa lama kau akan tinggal di pulau itu?.” tanya Hanna sambil melirik Kaila yang tengah makan malam.

__ADS_1


Kaila mendengar ucapan Hanna pada Maria membuatnya tidak berselera makan. Tapi Kaila menyembunyikannya dan terus mengunyah makanan dengan lambat.


“ Istriku, Maria sudah menikah sekarang. Biarkan saja dia pergi bersama suaminya, kenapa kamu seperti anak kecil saja?.” gumam Aji Li.


“ Memangnya kenapa suamiku? tidak bolehkah aku merindukan putriku setelah dia menikah?!.” dengan kesal.


Kaila sengaja memotong perdebatan Hanna dan Aji Li.


“ Ayah, malam ini aku pamit pergi ke Apartement. Ayah tahu 'kan temanku terluka tadi pagi? aku mengkhawatirkan keadaannya sekarang.” dengan cemas.


“ Bagaimana dengan lukamu? kamu juga terluka karena ayah.” cemas.


“ Aku tidak apa-apa. Ayah jangan khawatir.”


“ Baiklah, nanti ayah menyuruh sopir mengantarmu ke sana. Sekalian bawa Dokter untuk periksa luka temanmu itu.” merasa bersalah.


“ Terima kasih ayah.” balas Kaila melanjutkan makan malamnya.


“ Cih, dasar cari muka. Ayah lagi, kenapa dia masih baik pada Kaila? apa ayah tidak peduli dengan kejadian tadi. Kaila sudah merusak pesta pernikahanku, sampai semua tamu bergosip tentang keluarga ini tapi ayah tetap tidak peduli. Ayah terus baik pada Kaila dan tidak peduli dengan nama baik keluarganya sendiri.” batin Maria mengepalkan tangan.


Maria menarik tangan Adira keluar dari rumah, di ikuti Hanna yang khawatir sambil melirik Kaila dengan tatapan tidak senang.


“ Sudah Kaila, jangan pedulikan ibumu dan adikmu. Mereka memang seperti itu, Moodnya suka berubah dengan cepat.” Aji Li sengaja menenangkan Kaila agar melupakan kejadian tadi pagi.


“ Iya ayah, aku tidak apa-apa kok.” tersenyum.


Di dalam mobil. Adira mendiami Maria selama perjalanan, bahkan Adira sempat bertabrakan dengan mobil orang lain karena terlalu melamun saat berkendara.


“ Adira, aku minta sama kamu menyetir dengan baik. Malam ini malam pernikahan kita, jangan buat kita dalam masalah. Ok.” Maria menahan amarahnya karena tidak mau membuat Adira benci padanya.


Adira terlihat kesal karena Maria selalu mengaturnya, ia mengerem mendadak dan membuat Maria terbentur ke depan.


“ Adira! apa yang sudah kau lakukan? kamu ingin buat aku celaka ya? sudah kubilang berhati-hatilah saat menyetir, kamu tidak dengar apa sengaja?!.” karena emosi Maria sampai membentak Adira dengan lantang.


“ Iya! aku sengaja. Karena kamu! kamu berisik dan membuatku tidak konsentrasi. Paham!?.” bentak Adira memukul setang mobil.


Seketika Maria terdiam melihat Adira memarahinya. Maria meneteskan air mata tapi tidak mampu menangis di hadapan Adira. Adira yang melihat Maria menangis langsung memeluk Maria dan meminta maaf padanya.


“ Maafkan aku. Tadi aku tidak sengaja, maafkan aku, ok.” menggenggam wajah Maria dengan khawatir.


“ Hiks hiks! kenapa kamu marah padaku? apa salahku padamu?.” memukul dada Adira.


Adira memejamkan mata dan berharap dirinya bisa melupakan Kaila secepatnya, tapi ia tidak bisa. Pikirannya penuh dengan bayangan Kaila saat tersenyum padanya.


“ Kenapa kamu diam? kamu tidak peduli padaku ya?.” memukul bahu Adira.


Adira menggelengkan kepala dan berbalik ke kenyataan.


“ Tidak, ini salahku. Sudah jangan marah lagi, sebentar lagi kita sampai di Villa.” Adira kembali ke posisi semula dan melanjutkan menyetir.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2