Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 10. Tidak Tersambung


__ADS_3

Setelah memastikan Zafia berada di tangan yang tepat, kini saatnya Raiden membuat perhitungan pada Bella. Dia akan membuat wanita itu menyesali perbuatannya.


Raiden memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Tinggal di negeri orang membuat Raiden sedikit demi sedikit mulai belajar mengendalikan diri.


Setibanya di Markas besar King Devil, Raiden di sambut beberapa anak buahnya. Dia hanya membalas sapaan itu dengan mengangkat sebelah tangannya.


Raiden seperti biasa, masuk dengan wajah datar tanpa Ekspresi.


"Lepas, Cepat lepaskan ikatan ini," teriak Bella.


"Berisik. Penghianat sepertimu memang pantas diperlakukan seperti ini," desis Julian.


Raiden membuka pintu ruang penyiksaan. Ruang di mana Raiden sering mengeksekusi musuh-musuhnya dan hari ini Bella menjadi penghuninya.


Raiden tak pernah membayangkan akan mengikat sahabat dari kekasihnya di sini.


"Raiden, ku mohon lepaskan aku."


"Apa kau bilang? melepaskanmu?" tanya Raiden dengan nada remeh. Pemuda itu duduk di kursi dan menatap Bella tajam.


"Ku mohon, aku menyesal melakukannya."


"Aku tidak melihat raut penyesalan di wajahmu. Kau pikir aku bodoh?" Raiden menyeringai, wajahnya tampak menyeramkan bagi Bella.


"Ray, ku mohon. Aku benar-benar menyesal."


"Simpan saja suaramu untuk nanti. Julian, pastikan dia tetap sehat. Aku ingin menyiksanya nanti, tapi sekarang aku harus menghubungi kekasihku. Dia pasti akan marah jika aku tidak menghubunginya."

__ADS_1


Raiden bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang penyiksaan. Dia bergegas naik ke ruangan pribadinya. Sebelum dia menghubungi Zafia Raiden merapikan rambutnya terlebih dahulu.


Raiden mengeluarkan ponselnya dan mulai menekan angka 1 di mana dia menyimpan nama Zafia dengan julukan beautiful angel.


Beberapa kali deringan, panggilan Raiden tidak tersambung. Pemuda itu lalu menghubungi nomor Zafa. Namun, sama halnya dengan Zafia. Ponsel Zafa tidak bisa dihubungi.


Raiden tiba-tiba dihinggapi perasaan cemas. Dia buru-buru mencari nomor Marco. Karena pria itu yang saat ini berjaga di rumah sakit.


Di dering pertama, panggilannya langsung tersambung.


"Halo, Kau ada di mana sekarang?"


"APA??"


"Dokter sedang menanganinya?"


"Ok aku akan ke sana sekarang."


"Arrghh ... " pekik Raiden kesal. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan dengan cepat menuju ruang penyiksaan. Tujuannya kali ini ingin menghajar Bella.


Raiden mendobrak pintu ruang penyiksaan yang tertutup. Tanpa aba-aba dia melayangkan tinjunya di wajah Bella.


"Dasar parasit. Kalau sampai kondisi Zafia semakin memburuk maka bersiaplah untuk menjumpai ajalmu," desis Raiden. Tatapannya pria itu begitu mengerikan. Bella sampai gemetaran setelah mendapatkan pukulan yang keras dari Raiden.


Bella menangis. Sudut bibirnya berdarah. Pukulan Raiden amat sangat menyakitkan. Dia yakin Raiden tidak memukul dirinya sekuat tenaga, tapi telinganya terasa berdenging setelah pukulan itu mendarat di wajahnya.


"I'm sorry, Fia," lirih Bella.

__ADS_1


Raiden kini memacu kuda besinya dengan ugal-ugalan. Mobil patroli yang berada di pos penjagaan segera mengejar mobil Raiden. mobil Raiden melewati batas rata-rata kecepatan.


Pemuda itu semakin kencang memacu laju kuda besinya, "Mau bermain-main kan? tapi sayangnya aku sedang tidak ada waktu melayani kalian."


Raiden semakin menginjak pedal mobilnya dalam. Kini jadilah ia dan para polisi itu kejar-kejaran di jalan yang cukup lengang. Raiden tidak peduli dengan keselamatannya, Yang penting dirinya saat ini dapat menghindari kejaran polisi sebelum tiba di rumah sakit.


Raiden berdecak kesal. Bagaimana dia akan menemui Zafia. Jika polisi itu terus mengikutinya.Raiden memilih memutar kemudinya dengan memainkan rem dan persnelingnya. Ia merutuki harinya. Hari ini ia merasa masalahnya datang bertubi-tubi.


***


Jika Raiden sedang kejar-kejaran dengan polisi, lain halnya dengan Zafia yang kini tergolek lemas di ranjang rumah sakit. Zafa akhirnya kekeh menandatangani surat pernyataan rawat inap meskipun Zafia berulang kali menolaknya dengan suara lemas.


"Kenapa tidak bilang? kenapa nunggu sampai tumbang dulu baru memberitahu kakak? apa ini ada hubungannya dengan masalah kemarin?" Zafia mengangguk lemah.


"Maafin aku kak," jawab Zafia


"Aku sudah menghubungi papa. Aku juga berpesan jangan sampai mama tahu."


"Maaf aku jadi merepotkan semua orang."


"Kamu tidak merepotkan, tapi kamu membuat kami semua khawatir. Kita ini di sini pendatang, Fia. Apalagi perusahaan yang kamu bangun berhubungan dengan kerahasiaan data-data banyak orang. Aku sudah sering berpesan, jangan mudah percaya orang lain selain keluargamu. Keluarga saja bisa menjadi penghianat apalagi orang lain, resikonya sangat besar."


"Maaf, Kak." Zafia kembali menangis. Dia menutupi wajahnya. Zafa memeluk adiknya dengan erat.


"Maaf, Kakak bukannya memarahimu, kakak hanya takut dan khawatir kamu dimanfaatkan orang, kamu ditipu orang. Kakak tidak bisa mengawasimu setiap waktu, Fia. Kakak sangat menyayangimu."


Zafia terisak di pelukan kakaknya. "Tidurlah, Biar kondisimu segera membaik," ujar Zafa.

__ADS_1


Zafia mengangguk dan tak lama dia terlelap. Zafa duduk di samping Zafia dan mengusap rambut adiknya yang sedikit berantakan itu. Hal yang paling Zafa dan keluarganya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Zafa merasa beruntung karena ada Raiden yang setidaknya bisa mengganti kehadirannya untuk menjaga Zafia. Karena Zafa memiliki kesibukan yang sama banyaknya dengan sang adik Zayn. Keduanya bekerja sama mengelola perusahaan milik papa Gerry.


Setelah Adiknya benar-benar terlelap, Zafa memiliki keluar kamar.


__ADS_2