
Di Markas King Devil, Bella sedang duduk termenung. Selama berada di sana dia banyak merenungi semua kesalahannya. Dia salah memiliki perasaan iri pada pencapaian Zafia, padahal jelas-jelas dia tahu Zafia tidak mendapatkan semua itu secara instan.
"Julian, sebelum aku mati, tolong sampaikan permintaan maafku pada Zafia dan tolong katakan padanya untuk berhati-hati pada Miguel dan Ferran."
"Aku tidak akan biarkan kamu mati, kau akan keluar dari tempat ini dengan selamat."
"Jangan jatuh cinta pada wanita sepertiku, Julian."
"Hei, aku tidak bisa mengatur perasaanku. Cinta itu datang dengan sendirinya."
"Tapi aku wanita yang sangat menjijikkan dan tidak tahu diri."
"Kau berhak mendapat kesempatan untuk berubah. Aku akan menjamin keselamatanmu."
"Tapi, Julian .... " Tanpa Bella sangka Julian langsung mencium bibirnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia. Perbaiki dirimu dan berjanjilah kau tidak akan macam-macam. Karena sekali kau menghilangkan kepercayaanku maka hari itu juga aku sendiri yang akan menghabisimu," desis Julian.
Bella mengangguk. Dia berjanji dalam hatiny akan memperbaiki diri. Meskipun dia pernah berbuat salah, tapi dia akan membantu Zafia untuk membuka kedok Ferran dan Miguel.
__ADS_1
***
Di tempat lain, di kediaman Raiden, Zafia baru saja selesai mandi. Hari ini rencananya dia akan ke apartemen untuk membereskan barang-barangnya di apartemen. Sebenarnya Raiden sudah menawarinya untuk diam saja di rumah dan anak buahnya yang akan membereskan, tapi Zafia menolak. Karena dia memiliki banyak benda penting di dalam kamarnya.
"Sarapan dulu, nanti setelah itu aku akan mengantarmu," ujar Raiden sembari mengusap puncak kepala Zafia.
"Hmm, ya."
Zafia dan Raiden kini sedang sarapan bersama. Semua yang terhidang di hadapan keduanya adalah hasil olahan chef terbaik yang di sewa oleh Raiden untuk melayani mereka selama di mansion. Raiden melarang Zafia untuk terjun ke dapur dan seperti biasa, Zafia hanya mengangguk dan menyanggupi permintaan Raiden tanpa protes.
Mereka segera berangkat ke apartemen Zafia, karena Raiden ada meeting penting pagi ini. Setelah menurunkan Zafia, Raiden bergegas melesat pergi. Sedang mobil Marco sudah sejak tadi sudah berada di depan apartemen. Sonya dan Marco langsung turun mengikuti Zafia memasuki loby apartemen.
"Kalian sejak kapan tiba di sini?"
"Marco, aku merasa seperti ada yang mengawasiku dari arah jam 3. Sejak aku datang aku merasa terus diawasi."
"Kita masuk lift dulu nona."
Ketika berada di dalam lift, Marco menekan 5 nomor lantai sekaligus. Dia harap dengan begitu bisa mengecoh orang yang mengawasi mereka tadi.
__ADS_1
Zafia masih tampak tenang, Dia sama sekali tidak merasa terganggu jika hanya sekedar diawasi. Dia masuk ke apartemennya. Marco berjaga di depan pintu, sementara Sonya ikut masuk ke dalam apartemen.
Zafia mulai membereskan barang-barangnya. Sonya membantu dengan cekatan. Dua koper besar yang tadinya kosong kini telah terisi penuh. Zafia menatap sekeliling apartemennya, sepertinya sudah tidak ada yang perlu dia bawa lagi. Akhirnya Zafia segera meninggalkan kamar apartemennya.
Marco berjalan di depan Zafia sembari menyeret dua koper besar milik wanita itu. Sedangkan Sonya berjalan di samping istri atasannya itu dengan tatapan yang selalu tampak serius mengamati orang-orang di sekitarnya.
"Fia," panggil seorang pria dari kejauhan.
"Miguel, kenapa kau di sini?" tanya Zafia dengan alis bertaut.
"Aku kebetulan ada di sekitaran sini. Aku perlu bicara denganmu, apakah bisa?"
"Kita duduk di sana." Tunjuk Zafia pada deretan sofa di lobi apartemen itu.
"Ehm, aku ingin bicara 4 mata saja denganmu.
"Maaf Miguel, aku tidak bisa. Sebentar lagi kekasihku akan menjemputku."
"Oh, baiklah, lain kali saja."
__ADS_1
Zafia menatap kepergian Miguel dengan tatapan curiga. Sebenarnya ada apa dengan Miguel?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...