
Miguel, pria berusia 23 tahun yang paling lama ikut dengan Zafia. Dia sering membantu Zafia mengurus masalah ini dan itu kapan pun dan di mana pun. Namun, perangai Miguel berubah seiring berjalannya waktu, karena Zafia lebih menganggap keberadaan Bart.
Bart sendiri adalah orang kepercayaan Nino dulunya. Bart adalah pria berusia 37 tahun, loyalitasnya tidak perlu diragukan dan dipertanyakan. Bahkan Bart lah yang mengurus semuanya. Hanya saja Bart adalah pria yang suka bekerja dibalik layar. Dia jarang menampakkan dirinya jika tidak ada masalah serius.
Miguel merasa Zafia selalu mendahulukan Bart ketimbang dirinya padahal jelas-jelas dia yang sering terlihat. Banyak yang Miguel belum mengerti. Namun, dia seolah tahu semuanya. Dan kini dia ingin menghancurkan Zafia. Dia tidak mau Zafia menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Itu yang ada dalam pikiran Miguel, sehingga dia akhirnya berpikir untuk menumbangkan perusahaan raksasa milik ZF technology.
Ferran adalah seorang pemuda berusia satu tahun di atas Zafia. Dia kenal dengan Zafia cukup lama. Mereka pernah terlibat pertandingan coding, di mana Ferran dibabat habis-habisan oleh Zafia sehingga Ferran menjadi penasaran pada Zafia. Awalnya Ferran tak tahu jika Zafia adalah seorang perempuan karena dia memakai nama samaran.
Namun, setelah tahu Zafia adalah seorang perempuan, Ferran semakin tergila-gila pada sosok Zafia, tapi kini semua sudah berubah sejak Zafia memilih Raiden untuk menjadi kekasihnya. Ferran seperti merasa dikhianati padahal memang sejak awal Zafia tidak pernah memberinya harapan.
***
"Baby, setelah ini aku akan ke markas."
"Aku ikut."
"Tapi di sana berbahaya."
"Bukankah ada dirimu yang akan melindungiku?" tanya Zafia. Raiden hanya bisa mengalah dan mereka akhirnya pergi ke Markas King Devil. Marco dan Sonya dengan setia mengikuti mereka.
Zafia menatap ke luar jendela. Pemandangan yang jarang dia temui. Pantas saja setiap ke markas Raiden sangat lama, karena perjalanannya saja memakan waktu hampir 1 jam dengan kecepatan normal.
__ADS_1
"Ray, Bella masih di sini, 'kan?"
"Kau mau apa?"
"Membebaskannya."
"Jangan macam-macam."
"Aku ingin bicara dengannya sebentar."
"Baiklah, lakukan apa pun. Asal tidak melepasnya." Zafia mengangguk. Dia penasaran, bagaimana Raiden memperlakukannya. Raiden membawa Zafia ke ruangan Bella yang ada di ujung lorong sempit.
Zafia merasa mual karena mencium bau anyir darah. Dia menghentikan langkahnya dan berjongkok. Zafia memuntahkan isi perutnya berulang-ulang.
Raiden membawa Zafia ke kamar pribadinya. Sonya dan Marco berhenti di ujung tangga. Mereka bersiaga di sana. Karena Raiden tidak mengijinkan siapa pun naik ke area pribadinya.
Zafia menepuk lengan Raiden karena perutnya masih terasa mual. Dia bergegas turun dari gendongan Raiden dan berlari ke kamar mandi.
"Hoek!!"
Raiden memijat tengkuk Zafia dengan lembut. Hingga Zafia menyelesaikan muntahnya.
__ADS_1
"Ray, kakiku lemas."
"Itulah kenapa aku melarangmu ikut."
Raiden kembali menggendong Zafia dan membawanya naik ke ranjang. Raiden meletakkan Zafia dengan posisi setengah duduk bersandar di head board ranjang.
"Di sini tidak ada minyak angin. Apa kau mau minum sesuatu?"
"Tidak Ray," ujar Zafia sembari menyandarkan kepalanya di dada Raiden.
"Apa masih mual?"
"Hmm, ya. Aroma anyir itu seperti menempel di hidungku."
"Tadi aku sudah melarangmu ikut."
"Kau benar, ini salahku. Seharusnya aku tidak ikut denganmu."
Saat dua sejoli itu sedang dalam posisi romantis, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dari arah depan. Raiden dan Zafia sama-sama menegakkan badannya. Terlihat api dan asap hitam membumbung tinggi.
"Sial, ada yang menyerang markas lagi, tunggu di sini. Aku akan turun untuk mengeceknya."
__ADS_1
"Berhati-hatilah, Ray. Aku tidak mau jadi janda di usia belia."
...****************...