Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 19. Pria Mencurigakan.


__ADS_3

Beberapa hari Zafia sudah tampak biasa saja dengan sikap raiden yang seperti membatasi semua pergerakannya. Hari ini Zafia diijinkan masuk kuliah dengan syarat yang sangat banyak, salah satunya, Raiden akan menempatkan seorang bodyguard perempuan di samping Zafia.


"Ini terlihat sangat berlebihan, Ray."


"Dengan Sonya atau tidak ke kampus sama sekali?" Sejak pagi hanya itu ancaman yang Raiden terus ucapkan.


Zafia hanya menerima semua perlakuan Raiden sebagai berkah. Dia merasa beruntung dicintai oleh Raiden sampai sebegininya.


Zafia terpaksa berangkat diikuti oleh Sonya dan Marco. Kedua bodyguard itu berjaga di luar pintu kelas Zafia.


"Wah, pengawal baru? apa ada yang menindasmu di kampus?" tanya salah satu teman Zafia.


"Tidak, hanya saja aku perlu mereka."


Tak lama dosen masuk, Zafia seketika terdiam begitu juga teman yang duduk di sebelahnya. Selama 2 jam lamanya, Zafia mengikuti mata pelajaran dosen yang masih terbilang muda itu.


"Fia, datanglah ke ruanganku, ada sesuatu hal yang mau aku katakan padamu."


"Baiklah, Pak."


Zafia mengambil tasnya dan lalu keluar mengikuti Dosen pengajarnya. Sonya dan Marco mengikuti kemana Zafia pergi dengan jarak yang cukup aman. Saat Zafia memasuki ruang dosen pengajar itu, Marco dan Sonya berdiri di depan pintu ruangan.

__ADS_1


"Ada apa anda memanggilku kemari?" tanya Zafia pada Pak Steve. Dosen muda berusia 32 tahun itu.


"Skripsi yang kamu kerjakan kemarin sangat luar biasa, tapi masih ada sedikit cela di beberapa isi yang pengacu pada penyelesaian. Jika kau mau, aku bisa membantumu menyempurnakannya."


Zafia menatap dosennya, "Membantu menyempurnakan? bukankah bapak tinggal kembalikan skripsiku. Aku akan perbaiki bagian yang anda maksud."


"Iya, aku akan membantumu, tapi dengan syarat."


"Maksud anda?"


"Aku bisa membantumu."


"Jika anda benar-benar bisa, kenapa tidak anda lakukan?"


"Aku lebih memilih merevisi skripsiku dari pada harus melakukan hal kotor seperti itu," jawab Zafia mantap.


"Jangan jual mahal begitu. Aku tahu, selama ini kau tinggal seatap dengan kekasihmu. Jadi pasti kau sudah biasa melakukannya," kata Steve lagi.


Zafia mengeryit, dari mana dosennya tahu kalau dia tinggal bersama Raiden. Namun, meskipun dia sedang bertanya-tanya dalam hati, Zafia tetap berusaha bersikap tenang.


"Dia tunanganku, sudah pasti aku akan tinggal dengan dia."

__ADS_1


"Berati kau tidak masalah kan jika mencuri satu malam denganku?"


"Berhenti bicara yang tidak-tidak, Pak. jangan membuatku hilang respek padamu. Mana skripsiku? aku akan memperbaikinya sendiri."


"Aku bisa membuatmu tidak lulus sidang nanti."


"Terserah, aku tidak peduli."


Dosen muda itu menyerahkan skripsi Zafia dengan kasar. Zafia segera mengambilnya dan pergi dari ruangan dosennya dengan wajah yang memerah karena menahan emosi.


Saat berada di luar ruangan Steve, Zafia menghela napas panjang. Dia sekilas menoleh pada pintu yang tertutup itu sembari mendengus kesal.


Marco dan Sonya yang menyadari ada yang tidak beres dengan kekasih bosnya langsung mendekat.


"Ada apa nona?" tanya Marco.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kesal saja skripsiku ditolak," jawab Zafia berbohong, Dia hanya tidak ingin menambah masalah baru dengan mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang kepercayaan Raiden itu.


Zafia akhirnya memilih pulang. Dari balik kaca jendela Steve menyeringai. Sejak awal mengajar Steve memang sangat tertarik dengan Zafia. menurut Steve Zafia itu seperti permata yang berusaha menyembunyikan dirinya. Sebenarnya skripsi Zafia sudah sangat sempurna, tapi Steve ingin memakai kekuasaannya untuk menjerat Zafia.


Meskipun setiap masuk ke kampus, Zafia jarang memakai baju seksi, tapi Steve amat sangat yakin jika gadis itu menyembunyikan kemolekan tubuhnya di balik kemeja besar yang sering dia pakai.

__ADS_1


Setibanya di apartemen, Zafia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, Dia tertidur dalam keadaan tengkurap dan kaki menjuntai ke lantai. Ia bahkan tak melepas sepatunya.


__ADS_2