Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 46. Tiga Wanita


__ADS_3

7 bulan kemudian


Semua yang membuat Zafia bersedih akhirnya berhasil disingkirkan oleh Raiden. Kini Zafia tampak sangat menikmati kehamilannya.


Dia bahkan hanya sebentar melewati fase morning sickness, selebihnya Zafia lebih sering makan. Seperti saat ini misalnya. Di hadapannya terhampar begitu banyak makanan. Dari kudapan manis hingga kudapan asin semuanya tersaji di meja.


"Sayang, Nanti mampir ke restoran yang dulu kita membeli pasta itu, ya." Zafia mengusap lengan Raiden yang sudah siap untuk bekerja."


"Hmm, Baiklah. Nanti aku akan membelinya untukmu. Aku tidak akan lama. Jika saja daddy tidak sedang kurang enak badan. Aku juga tidak mau meninggalkanmu."


"Berangkatlah aku baik-baik saja, Ray." Zafia mengusap dagu Raiden dan mengecupnya sesaat.


"Baiklah, aku pergi dulu. Kabari aku jika kau merasa tidak nyaman."


"Ini belum waktunya, Ray."


"Tapi dokter bilang harinya bisa maju bisa mundur."


"Ok. Aku akan segera menghubungimu jika aku merasa mau melahirkan."


Riden pun akhirnya pergi ke perusahaan. Zafia kembali bersantai di sofa malasnya. Tak lama berselang, terdengar riuh suara dari arah depan mansion.

__ADS_1


Zafia bangkit karena merasa terganggu dengan suara-suara itu.


"Aunty, kami datang!" tiba-tiba Zafrina muncul bersama pasukannya. Dian menyusul di belakang Zafrina dan langsung memeluk putrinya.


"Ya Tuhan, Fia. Kau semakin membulat." Zafrina tersenyum menggoda adiknya.


"Ini semua berkat adikmu yang tampan itu, Kak. Dia membuatku membengkak karena aku sama sekali tidak boleh melakukan apapun. Jika kakak tidak percaya, kakak bisa tanyakan pada Sonya."


Dian mengurai pelukannya. Ia tersenyum lebar melihat putri bungsunya terlihat sehat dan baik-baik saja.


"Papa di mana, Mah?" tanya Zafia saat dia tidak melihat sosok yang sangat dia rindukan itu.


"Raiden baru saja berangkat ke perusahaan. Dia harus menggantikan papa mertua yang sedang kurang enak badan."


"Apa kau sering ditinggal Raiden Sayang?" tanya Dian. Dia khawatir jika putrinya sewaktu-waktu melahirkan tanpa di dampingi oleh menantunya itu.


"Raiden bahkan tidak membiarkanku ke kamar mandi sendirian, Mah. Dia selalu ada di sampingku. Hanya hari ini dia memang harus menggantikan posisi papa mertua."


"Mah, adikku Raiden tidak seburuk itu," ujar Zafrina membela adiknya.


"Mama hanya khawatir jika Zafia sewaktu-waktu melahirkan, Inna. Mama tidak bilang jika Raiden buruk."

__ADS_1


"Mama tenang saja. Putrimu ini dijadikan ratu di rumah ini," kata Zafia meyakinkan mamanya yang memang selalu overthinking sama seperti dirinya sebenarnya, tapi itu dulu sebelum Zafia mengenal Raiden.


"Kenapa hanya kalian yang kesini? Apa yang lainnya tidak merindukanku?"


"Kak Anna kan sedang hamil muda, Sayang. Mama tidak mungkin mengajaknya."


"Dan pada akhirnya hanya tinggal kak Zafa yang masih betah melajang," kata Zafia dengan raut wajah berubah sendu.


"Dia masih belum bisa move on ku rasa." Zafrina menimpali.


"Mama juga sedih kakak kalian selalu gagal setiap dekat dan suka pada seorang wanita."


"Alexa bukan jodoh kakak," lanjut Zafia.


Tiga wanita itu sama-sama diam mengingat kisah cinta Zafa yang jauh dari kata mulus. Dia selalu berakhir dengan ditinggalkan pada akhirnya.


"Apa perlu kita jodohkan kakak dengan salah satu teman kak Zafrina."


"Kakakmu tidak akan suka. Biarkan saja dia seperti itu dulu. Jika nanti sampai usianya menginjak 30 tahun lebih baru kita bertindak. Untuk saat ini biarkan saja dulu."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2