
Seorang pria dengan baju serba hitam memanggul tubuh Zafia. Dia membawa keluar Zafia lewat pintu belakang yang mengarah langsung ke mobilnya yang memang sudah dia siapkan sejak awal.
Marco masih berjaga di lorong luar. Namun, cukup lama menunggu, Marco merasa ada sesuatu yang aneh. Dia mendekat ke area toilet perempuan dan mencoba melongok ke dalam toilet itu. Mata Marco langsung terbelalak saat melihat Sonya terkapar. Dia dengan cepat mendekati Sonya. Marco berdiri dan mengedarkan tatapan matanya. Dia langsung menekan tombol darurat di pergelangan tangannya.
Raiden yang saat itu melihat sensor bahaya dari Marco segera mengambil ponselnya. Dia menghubungi Marco dengan raut wajah gelisah.
"Ada apa?"
("Bos, nona Zafia hilang. Sonya dipukul hingga pingsan.)
Raiden seketika menegang mendengar ucapan Marco. Tatapannya berubah tajam. Tangan kirinya terkepal kuat.
"Dimana kau sekarang?"
("Saya ada di toilet belakang kampus.") Raiden langsung mematikan ponselnya. Hal pertama yang Raiden lakukan adalah melacak keberadaan Zafia. lewat kalung gadis itu. Beruntung beberapa waktu tinggal bersama Zafia. Raiden sudah diberitahu cara untuk dapat melacak keberadaan Zafia. Zafia bahkan menghubungkan ponsel Raiden dengan segala yang berkaitan dengannya. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Namun, ternyata kali ini apa yang Zafia ajarkan sangat berguna.
"Julian, siapkan orang-orangmu. Aku hari ini akan berburu," kata Raiden dengan mata yang masih terus menatap ke arah ponselnya. Bella memperhatikan raut wajah Raiden. Meskipun tampak datar dan dingin sorot mata Raiden menunjukkan kecemasan.
"Apa terjadi sesuatu pada Fia?" tanya Bella.
"Peduli apa kau padanya?"
Bella terdiam rasanya percuma saja bicara pada Raiden saat ini. Dari dasar hatinya, dia sudah menyadari semua kesalahannya, tapi dia merasa penyesalan pun tak ada gunanya sekarang.
Raiden keluar dari ruang yang dipakai untuk menyekap Bella. Setelah mendapatkan lokasi pastinya. Raiden membawa Julian dan 5 anggotanya untuk mendatangi tempat dimana Zafia dibawa.
__ADS_1
***
Sementara itu, Pria yang berhasil menculik Zafia itu tertawa puas. Pada akhirnya dia bisa mendapatkan Zafia.
Pria itu meletakkan Zafia di atas ranjang. Tangannya bergetar saat membelai wajah mulus Zafia.
"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya, Zafia. Aku tidak akan biarkan baj*ngan Raiden itu memilikimu," desis Pria itu.
Zafia membuka matanya. Meskipun matanya terbuka, tapi anehnya seluruh tubuhnya terasa lemas. Tangan dan kakinya terikat.
"Kau sudah bangun rupanya?"
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Tentu saja dirimu dan aku ingin membuat Raiden merasakan bagaimana rasanya kehilangan."
"Tentu saja."
"Kau gila, Stev. Kau benar-benar gila," ujar Zafia. Steven menyeringai.
"Oh, Fia sayang. Andai kekasihmu itu tidak membunuh Morgan, sudah pasti aku tidak akan mengusikmu."
Zafia terdiam. Steven mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya Pria itu duduk di tepi ranjang. Ruangan itu tertutup, AC ruangan itu menyala kencang dan Steven kini mencoba membunuh Zafia dengan asap rokoknya.
Zafia yang memang memiliki masalah pernapasan terbatuk-batuk saat menghirup udara yang sudah terpapar asap rokok. Steven semakin bersemangat menghisap rokoknya dan menghembuskannya di wajah Zafia.
__ADS_1
"Seorang ketua mafia, tapi memiliki pacar yang lemah, Sayang sekali." Steven mematikan rokoknya. Pria itu mulai melepas kaos yang dia kenakan. Bibirnya menyeringai. Zafia memejamkan matanya saat tubuh bagian atas Steven terbuka.
"Ayo, buka matamu, Fia. Jangan bersikap jual mahal. Pria itu pasti sudah menyentuhmu, bukan?" Steven menarik rahang Zafia dengan kencang hingga wajah Zafia memerah, bekas tangan Steven terlihat jelas di wajah putih gadis itu. Dengan sekali hentak, baju yang Zafia kenakan sobek hingga menampakkan dada putihnya yang terbungkus Bra.
"Pintar juga Raiden memilih wanita," desis Steven, matanya menatap Zafia penuh hasrat. Di saat Steven ingin menyentuhkan tangannya pada dada Zafia, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar.
BRAK!!
Dengan kekuatan penuh Raiden berhasil membuka pintu tempat itu. Steven menoleh tak percaya. Bagaimana bisa? padahal penjaga di rumahnya banyak.
"Pengawal!" seru Steven.
"Tidak perlu berteriak, mereka semua sudah menjadi mayat," kata Raiden.
Raiden menoleh ke arah ranjang dan menatap tampilan Zafia yang menyedihkan. Tangannya terikat di belakang, kakinya juga terikat. Wajah gadis itu pucat. Baju bagian depan Zafia telah koyak.
Seketika Raiden mengangkat senjatanya. "Kau telah salah mencari musuh, Steven. Kau sudah menyentuh milikku yang paling berharga."
"Memang kenapa? aku sudah berencana ingin menodainya," kata Steven sembari terkekeh
Saat Steven tertawa itulah ia lengah. Tak mau basa basi dengan pria itu, Raiden menembak dada Steven. Pria itu seketika terhuyung. Zafia yang mendengar suara tembakan langsung memejamkan mata.
"Aku akan membuatmu merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Morgan dulu," desis Raiden.
"Julian, bawa dia dan bereskan anak buahnya tadi."
__ADS_1
Raiden mendekati Zafia. Dia menutupi dada Zafia dengan kemeja yang ia kenakan. Raiden juga membuka ikatan tangan dan kaki Zafia. Dia mengangkat tubuh lemah Zafia dan membawanya keluar dari rumah Steven itu.