Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 9. Paranoid


__ADS_3

Raiden memacu mobilnya membelah jalanan. Dia berharap Zafia akan baik-baik saja. Saat tiba di rumah sakit, bibir Zafia mulai membiru. Kemungkinan karena tak ada pasokan udara yang masuk ke paru-parunya.


Raiden mengusap wajahnya kasar, Zafia segera ditangani oleh dokter jaga di ruang Emergency. Raiden diminta menunggu di luar. Raiden sekali waktu duduk di bangku ruang rtunggu, tapi detik berikutnya dia bangkit berdiri dengan raut wajah yang masih menyiratkan kekhawatiran. Rasanya waktu bergerak sangat lamban saat ia menunggu Zafia ditangani oleh dokter.


"Apa anda kerabat pasien wanita muda tadi?" tanya seorang perawat pada Raiden.


"I-iya, saya kekasihnya."


"Kekasih anda sudah sadar. Asam lambungnya naik dan mengakibatkan sesak napas."


"Apa perlu dirawat, Suster?"


"Pasien mengatakan ingin pulang," ujar Perawat itu.


"Oh, baiklah, apa bisa aku menemuinya?"


"Silahkan. Kalau bisa bujuk dia agar mau dirawat karena kondisinya belum stabil."


"Ok." Raiden setengah berlari masuk ke Emergency room. Pemuda itu merasa lega karena Zafia sudah sadarkan diri.


Dokter yang tadi menangani Zafia sudah tidak ada di tempat. Mungkin dia ada pasien lain. Raiden duduk di samping bed Zafia. Hatinya berdenyut nyeri melihat gadis pujaannya memejamkan mata dengan selang oksigen menancap di hidungnya yang mungil.


"Aku benar-benar tidak akan memaafkan temanmu itu, Fia. Meskipun kau memohon padaku. Aku tidak akan biarkan dia lepas begitu saja setelah membuatmu seperti ini," desis Raiden.


Zafia perlahan membuka matanya saat telinganya mendengar ucapan Raiden. Senyumnya terulas tipis di bibir pucatnya.


"Berhentilah mengotori tanganmu, Ray."


"Aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja. Dia sudah membuatmu sakit seperti ini. Dia juga membuatmu meneteskan air matamu yang begitu berharga."


"Bagaimanapun dia adalah temanku," ujar Zafia lemah.


"Tidak ada teman yang menghianati sahabatnya sendiri. Aku tidak akan mengotori tanganku. Biar anak buahku yang bekerja. Kau bisa tenang sekarang."


Zafia melengos. Berdebat dengan Raiden di saat seperti ini dia pasti tidak akan menang.


"Kapan aku boleh pulang?"

__ADS_1


"Kita tunggu dokternya. Aku juga sudah menghubungi kakakmu."


"Kau menghubungi kak Zafa?"


"Ya, aku menghubunginya. Dia keluargamu di sini satu-satunya. Dia harus tahu kondisi mu.


Tak lama pintu emergency di dorong dari arah luar. Muncul sosok Zafa dengan raut wajah tampak Khawatir.


"Apa yang terjadi? kenapa bisa pingsan?"


"Asam lambungnya naik, mengakibatkan sesak napas."


"Kenapa tidak memberitahu, Kakak?"


"Aku pingsan, bagaimana bisa aku memberitahu kakak, tapi aku engga apa-apa, Kak. Raiden saja yang terlalu paranoid."


"Bagaimana aku tidak begitu, kau tiba-tiba mengeluh sakit dan langsung pingsan setelah itu. Untungnya kamu langsung ditangani. Kalau tidak aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padamu.


Zafa menoleh sekilas menatap Raiden. Kakak Zafia itu menyunggingkan senyum pada Raiden. Zafa tahu pasti, bagaimana rasanya berada di posisi Raiden. Dia pun juga pasti akan melakukan hal sama seperti yang Raiden lakukan untuk Zafia.


"Zafia juga menolak dirawat, Kak."


Setelah diarahkan ke sebuah ruangan, Zafa segera mengetuk pintu ruangan dokter tersebut.


"Dokter, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar."


"Iya, ada apa?"


"Adik saya, Zafia. Dia gadis yang beberapa waktu lalu anda tangani, apakah kondisinya serius?"


"Tidak, hanya saja kemungkinan adik anda sedang dalam masa stress dan banyak pikiran sehingga membuat asam lambungnya naik. Akan lebih baik jika para medis bisa mengawasi perkembangan kondisi pasien."


"Tapi adik saya ingin rawat jalan. Apa tidak masalah, Dokter?"


"Selagi kondisinya tidak terlalu serius, saya rasa rawat jalan juga tidak masalah."


Setelah mengucapkan terima kasih, Zafa akhirnya keluar dari ruangan dokter itu. Dia kembali ke ruangan Zafia mendapat penangan tadi.

__ADS_1


"Bagaimana, apa kata dokter?" tanya Raiden.


"Jika kata dokter sebaiknya Fia rawat inap, tapi kalau kamu yakin untuk pulang, kakak akan urus administrasinya."


"Aku mau pulang saja, Kak."


"Ok. Kakak akan urus administrasinya sekarang.


Zafa akhirnya kembali keluar msngurus administrasi Zafia. Raiden masih duduk di kursi dengan tangan menggenggam jemari Zafia.


Berulang kali Raider mencium jemari Zafia hingga membuat gadis itu terkekeh geli.


"Ray, stop."


"Kenapa?"


"Geli, Ray."


Raiden hanya terkekeh melihat wajah Zafia. Dalam hatinya ia bersyukur karena Zafia sudah mulai tampak ceria. Usai Zafa kembali dari loker administrasi, Raiden berpamitan pada kamisah kakak Zafia itu. Raiden mengecup kening Zafia sebelum dia meninggalkan gadis itu.


"Nanti jika urusanku sudah selesai, aku akan menghubungimu." Zafia hanya mengangguk.


Raiden menghubungi Marco agar setelah dari mengantar Bella ke markas, Marco segera ke rumah sakit.


"Aku di sini, Bos."


"Kau mengagetkanku," dengus Raiden.


"Maaf, Bos."


"Awasi Zafia. laporkan perkembangannya padaku. Aku akan mengurus wanita itu terlebih dahulu."


"Baik, Bos."


Setelah kepergian Raiden, Zafia dan Zafa bersiap untuk pulang, Marco mengambilkan obat untuk kekasih bosnya itu tanpa banyak suara.


Namun, hal tak diduga terjadi. Zafia tiba-tiba muntah tubuhnya kembali melemah. Zafa langsung mengangkat adik bungsunya dan kemudian membawanya masuk ke ruang Emergency.

__ADS_1


"Dokter, tolong periksa adikku lagi," ujar Zafa dengan panik.


Tak lama Zafia kembali ditangani, Zafa langsung memutuskan Zafia harus rawat inap di rumah sakit itu.


__ADS_2