Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 33. Siasat


__ADS_3

Zafia merasa Miguel bertingkah aneh. Bahkan sampai dia berada di kantor Raiden pun, Zafia masih tampak termenung.


Raiden baru saja menyelesaikan meeting pentingnya. Dia masuk ke ruangannya dan terkejut mendapati Zafia sudah berada di ruangannya.


"Baby, kamu kok udah di sini?" tanya Raiden. Namun, Zafia seakan larut dengan dunianya sendiri. Dia tak mendengar Raiden berbicara.


"Baby." Raiden menyentuh bahu Zafia hingga membuat Zafia tersentak kaget.


"Kau sudah selesai rapat?"


Raiden mwngernyit heran, ada apa sebenarnya dengan istrinya?


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, Ray. Memang kenapa?"


"Fia, kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak ada, Ray?"


"Lalu kenapa? apa kau sedang ada masalah?"


"Memang aku kenapa?"


"Kau bahkan tidak menyadari aku sudah masuk ke ruangan ini sejak tadi, Baby. Aku juga berbicara padamu, tapi kau tak mendengarku."


"Oh, maafkan aku, Ray. aku hanya sedang memikirkan sesuatu?"


"Apa itu?" Raiden duduk di pegangan sofa yang diduduki oleh Zafia.

__ADS_1


"Ini tentang Miguel."


"Jadi sejak tadi kau melamun dan mengabaikanku karena pria lain?" tanya Raiden. Sorot matanya penuh dengan kecemburuan.


"Tadi Miguel mendatangi ku. Dia datang ke apartemen."


"Lalu?"


"Ini aneh, Ray. Sepanjang dia bekerja denganku, dia tidak pernah mendatangiku secara langsung. Dia selalu bekerja dibalik layar."


"Data back-up di perusahaan kamu bagaimana?"


"Semua sudah di atur oleh kak Dino. Orang lain kini tidak bisa mengakses info apapun dari luar."


"Lalu apa yang kau khawatirkan?"


"Jangan bicara begitu, Baby. Aku tetap akan melindungimu, apapun yang terjadi."


"Terima kasih, Ray. Aku mencintaimu," ujar Zafia sembari mengecup pipi Raiden.


"Oh My, kau nakal sekali, Baby."


"Ray, besok aku sidang skripsi."


"Aku akan menemanimu."


Kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu sejenak lupa akan masalah Miguel. Mereka asik memadu kasih di ruangan itu tanpa merasa canggung lagi.


Sementara itu, di tempat lain, Miguel sedang menunggu seseorang yaitu Ferran. Pria yang mengaku menyukai Zafia itu kini sudah duduk di depan Miguel.

__ADS_1


"Bagaimana? apa kau sudah mendapat salinannya?"


"Kau pikir ini mudah?"


"Ya kau tinggal ambil saja. Kau yang memimpin tim A apa susahnya?"


"Sepertinya kau meremehkan sepupu Zafia itu, ya?" tanya Ferran.


"Dia seperti tidak memiliki taring."


"Itu karena dia tidak menunjukkannya."


"Ah, sial. Gara-gara Bella semua rencana kita yang tinggal eksekusi gagal berantakan."


"Gadis bodoh itu benar-benar menyebalkan," umpat Ferran.


Dua pria itu sedang merencanakan pencurian besar-besaran di perusahaan Zafia. Mereka berdua merasa, selama ini perusahaan itu besar juga berkat usaha mereka. Namun, mereka berpikir jika Zafia tidak adil dalam memperlakukan mereka.


Selain itu, Ferran memiliki dendam karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Fia menolaknya hanya karena lebih memilih Raiden ketimbang dirinya yang sudah lama kenal.


Ferran bersumpah akan membawa Zafia pergi suatu saat nanti. Ferran berharap akan segera tiba saat itu. Dia akan pisahkan Zafia dari Raiden.


"Waktu kita tidak banyak, Feran. Bos kita sudah menunggu hasil kerja kita selama ini."


"Tentu saja."


Keduanya lalu segera berpisah. Jangan sampai mereka ketahuan sebelum misi besar itu dilakukan atau kalau tidak, usaha mereka selama ini akan gagal. Dan yang jelas mereka akan mati sia-sia ditangan bos mereka.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2