
Tidak banyak persiapan yang dilakukan oleh Zafia dan Raiden. Semua sudah di atur oleh EO yang di sewa oleh Gerry. Mereka telah melangsungkan Akad kemarin dan malam ini adalah resepsi pernikahan mereka.
Pesta pernikahan Zafia dan Raiden akan dilangsungkan di hotel milik Rian. Pria itu sepertinya sangat antusias dengan acara hari ini.
Semua anggota keluarga telah berdandan sangat sempurna hari ini. Semua gaun, baju dan Jas disponsori oleh Zico dan Zafrina. Acara resepsi pernikahan Zafia dan Raiden di gelar cukup megah. Semua tamu undangan satu per satu memasuki ballroom hotel.
Zafia dan Raiden duduk di singgasananya dengan wajah yang sama datarnya. Keduanya sebenarnya enggan mengadakan resepsi. Akan tetapi, Mama Dian dan mami Velia memaksa mengadakan acara resepsi itu. Hingga berakhirlah keduanya duduk selayaknya patung.
"Ray, berapa banyak tamu yang daddy-mu undang?"
"Aku tidak tahu, sepertinya banyak."
"Aku mengantuk sekali, Ray."
"Kau pikir aku tidak?"
"Seharusnya tadi malam kita tidak coba-coba. Badanku rasanya sakit semua," keluh Zafia. Raiden hanya tersenyum mengingat kejadian semalam yang benar-benar menggelikan baginya.
"Nanti setelah ini aku akan membawamu beristirahat di tempat ternyaman."
"Di mana itu?"
"Rumah kita."
"Kau ini ada-ada saja."
Kedua mempelai itu tampak mulai mencair dengan candaan yang hanya keduanya yang tahu. Dian melirik kesal pada kedua mempelai yang sepertinya tak tahu sikon itu.
"Apa kalian akan terus bercanda seperti ini?" tegur Dian, Zafia dan Raiden seketika terdiam sambil sesekali Raiden menyenggol-nyenggol bahu istrinya.
Acara berlangsung cukup lama, Zafia kini benar-benar sudah memasang wajah masam. Bahkan dia menolak berdiri saat beberapa kali diminta foto.
"Lihatlah, Mas. Tingkahnya masih kekanak-kanakan, tapi kita malah menikahkannya," ujar Dian.
"Baby, selesaikan dulu. Lihatlah! mama kamu kelihatan marah."
"Dia tidak marah, Rai. Mama hanya masih belum rela melepaskanku, tapi untuk tetap begini aku udah engga tahan lagi, beneran."
"Kalian berhentilah bercanda. Kalau kalian memang mau acara ini cepat selesai," kata mama Dian tanpa menatap ke arah Zafia dan Raiden.
Satu jam kemudian, Acara telah selesai. Zafia yang sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya meminta Raiden untuk mengajaknya ke kamar.
"Mah, kita ke kamar, ya?"
"Ya."
Setelah kepergian Zafia dan Raiden, Dian bersandar di bahu suaminya. Ia menatap nanar ke arah kedua mempelai yang meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas. Sebenarnya apa yang dilakukan mereka kemarin malam? Kenapa Zafia terlihat sangat lelah?"
Gerry hanya terkekeh mendengar pertanyaan konyol istrinya. Anaknya sudah sah menikah. Sudah tentu mereka melakukan apa yang sepatutnya dilakukan oleh pasangan suami istri.
"Sebaiknya kita juga mengikuti kegiatan mereka."
"Kegiatan apa? jangan aneh-aneh deh." Dian menegakkan kepalanya. Gerry tanpa basa basi langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke naik menuju kamar mereka.
"Mas Gerry dan mbak Dian selalu romantis, ya, Mas."
"Kamu mau? ayo aku juga bisa." Rian juga ikutan mengangkat Velia dan keduanya menyusul pasangan pengantin baru dan juga Gerry serta Dian.
Anggota keluarga yang lain tampak saling pandang. Mereka semua saat ini sedang menikmati santap malam seusai acara. Para sesepuh hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah para ABG tua.
Di dalam kamar, Zafia menyuruh Raiden untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Sementara dirinya melepas segala atribut yang terpasang di kepalanya. Zafia yang notabene jarang berdandan kesulitan melepaskan beberapa jepitan yang ada di belakang kepalanya. Tanpa diduga, Raiden tiba-tiba mendekat dan membantu Zafia.
"Kau mengagetkanku," kata Zafia.
"Bukankah dari cermin itu terlihat aku berjalan atau memang pikiranmu sedang tidak berada di sini?"
"Sepertinya opsi kedua yang aku pilih."
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Raiden. Zafia menjawab dengan anggukan.
"Ya, begitulah, aku sedang memikirkan perusahaanku. Apa sebaiknya biar diurus oleh kak Dino saja?"
"Apa kau mau mencobanya lagi seperti kemarin malam?" tanya Raiden. Zafia menggeleng.
"Tidak mau. Aku lelah."
"Kalau begitu segeralah mandi. Aku sudah siapkan air mandi untukmu."
Zafia akhirnya beranjak dan masuk ke kamar mandi. Dia berendam cukup lama. Rasa nyaman di tubuhnya membuat Zafia semakin tak tahan dengan kantuk yang begitu dalam hingga dia akhirnya tertidur.
Raiden berbaring dengan sesekali melirik ke arah kamar mandi. "Kenapa hening sekali?" Raiden menekan ponselnya dan melihat jam yang tertera di layar.
Raiden memutuskan bangkit dan membuka pintu kamar mandi. Kebiasaan Zafia ini sangat meresahkan dirinya. Kemana pun gadis itu pergi, Zafia setiap ke kamar mandi tidak mau mengunci pintunya.
Raiden menoleh ke arah bathtub. Zafia tampak memejamkan matanya. Dia pun menyambar handuk dan segera mengangkat Zafia dari dalam bathtup yang sudah menghilang busanya. Sesaat mata Raiden terpejam. Ini siksaan yang paling berbahaya baginya.
Bahkan diangkat dari bathtub pun Zafia seakan tidak merasakan apapun. Raiden segera membuka koper Zafia dan mengambil pakaian untuk Zafia secara asal. Saat akan memakaikannya pada Zafia, Mata Raiden membelalak. Dia mengangkat pakaian yang kurang bahan itu dan lalu melemparnya. Raiden lalu memutuskan menutup tubuh polos Zafia dengan selimut.
Keesokan harinya, Zafia tidur sembari memeluk Raiden. Pria itu sampai harus menghela napas berkali-kali. Inti tubuhnya mengembang sempurna karena gesekan yang Zafia lakukan.
"Hah, nasib."
Zafia membuka matanya. Namun, saat ia merasa ada yang aneh dia menunduk. Seketika Zafia memekik. Raiden segera membekap bibir istrinya itu.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? jangan berteriak?"
"Ke-kenapa aku tel*njang?"
"Kau lupa?"
Zafia tampak mengingat ingat apa yang terakhir kali ia lakukan. Matanya langsung melebar.
"Ray, aku ...."
"Kau sudah mengingatnya?" tanya Raiden menyeringai. Dia seketika men*ndih tubuh Zafia.
"Kau sudah membuatku menderita semalaman, Fia." Sambungnya.
"Maafkan aku, Ray. Aku tidak ada maksud apapun."
"Kau harus ku hukum, Gadis nakal."
Raiden mengunci tubuh Zafia. Dia membenamkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah istrinya itu.
"Aaa ... Ray lepas."
"Tidak akan. Kau sudah berani membuat tubuhku meradang.
"Aku kan tidak sengaja, Ray. Jangan begini. Aku mau mandi."
"Kita mandi bersama, ya?" ajak Raiden.
"No. Big No." Wajah Zafia memerah saat menjawab ajakan Raiden.
"Ayolah, anggap ini untuk menebus rasa bersalahmu."
"Aku tidak merasa bersalah. Aku kan tidak sengaja."
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan membuka pintu kamar ini sampai nanti. Kita akan terus berada di sini sampai aku bosan."
"Bagaimana dengan makan kita?"
"Di kulkas itu sudah banyak persediaan untuk seminggu kita di sini."
"Apa? kau pasti bercanda." Zafia ingin bangkit dan memeriksa kulkas itu, tapi dirinya baru ingat jika dia sedang tak memakai apapun saat ini.
"Ray, tadi apa syaratnya?"
"Mandi bersamaku."
"Baiklah, ayo."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...