
Zafia menikmati soto buatan ibu mertuanya dengan wajah yang sangat bahagia.
"Ini benar-benar enak, Mom."
"Jika kau suka, mommy akan buatkan setiap hari."
"Tidak, Mom. Aku akan bosan memakannya. Besok aku ingin menu yang lain. Aku akan meminta Raiden untuk menginap di sini nanti. Aku suka masakan mommy."
"Oh, Sayang. Mommy senang kamu menyukainya."
Zafia benar-benar membuktikan ucapannya jika soto buatan ibu mertuanya itu Enak. Terbukti dia makan habis 3 mangkok.
"Aah ... ini enak sekali."
Velia menatap menantunya sembari tersenyum. Padahal itu hanya sebuah soto, tapi Zafia sangat berlebihan memujinya.
"Sayang, apa kau sedang hamil?" tanya Velia hati-hati. Dia tak mau membuat menantunya tersinggung.
"Ya, Mom. Aku sedang hamil."
"Oh ya Tuhan. Ini sungguh kabar yang menggembirakan."
*
*
*
Raiden masuk ke rumah kedua orangtuanya.
"Fia, where are you?"
__ADS_1
"Ray, kenapa teriak-teriak di rumah mami?" Velia keluar dan menatap kesal putranya yang selalu kekanak-kanakan.
"Dimana Zafia, Mom?"
"Dia sedang tidur di kamarmu. Memang kalian sedang bertengkar? Kenapa kalian tidak datang bersama-sama?"
"Aku saja bahkan tidak tahu jika Zafia kesini, Mom."
"Apa istrimu marah padamu, Ray? mamy jadi ingat saat hamil kamu dulu mama sempat kabur dari papi. Apa jangan-jangan Fia hamil?"
"Dia memang sedang hamil, Mom. Aku akan naik menemuinya dulu."
"Kau harus menjaganya baik-baik, Ray."
"Tentu saja, Mom."
Raiden pun pada akhirnya naik dan mencari istri nakalnya. Bisa-bisanya dia tidur dengan begitu tenang, sementara dirinya kelabakan mencari istrinya itu.
Raiden pun bergegas menyusul Zafia di dalam kamar mandi. Beruntung Zafia tidak menutup pintu kamar mandi itu. Mungkin karena Zafia tadi terburu-buru.
Raiden memijat tengkuk Zafia dengan lembut. Sesekali dia merapikan anak rambut istrinya yang menutupi wajah.
Zafia langsung duduk di lantai. Tubuhnya sangat lemas. Raiden menatap iba dan lalu mengangkat tubuh Zafia dan membawanya ke ranjang.
Rasa kesal Raiden menguap begitu melihat kondisi Zafia. Raiden menyeka keringat yang membasahi kening Zafia.
Zafia memejamkan matanya dan bersandar di ranjang.
"Aku panggilkan dokter, ya?"
"Tidak perlu. Aku sudah baca di internet, kondisi ini normal terjadi di awal kehamilan."
__ADS_1
"Tapi kau sepertinya begitu tersiksa."
"Aku baik-baik saja, Ray."
Zafia membuka matanya dan menatap netra Raiden. Perlahan Zafia mengulurkan tangannya dan membelai wajah Raiden.
"Kau tampan sekali, Ray."
"Kau sedang menggodaku?"
"Apa kau tergoda?" Zafia mengerling pada Raiden sembari tersenyum.
Zafia menarik tengkuk Raiden dan melu*mat bibir suaminya dengan lembut.
"Oh, sayang. Jangan menggodaku."
"Siapa yang menggodamu?" Rasa mual di perut Zafia seketika sirna saat Raiden berada di dekatnya. Mungkin karena anak yang ada dalam kandungannya ingin berada di dekat ayahnya.
"Apa urusanmu sudah selesai, Ray?"
"Sudah. Tadi ada yang membantuku diam-diam," kata Raiden sembari memandangi wajah pucat Zafia.
Zafia terkekeh. Sejak tadi tatapan matanya tak beralih dari wajah suaminya. Entah mengapa dia begitu mengagumi wajah Raiden saat ini.
"Handsome, bisakah aku menikmatimu?" tanya Zafia dengan nada bicara yang menggoda.
"Oh, God. Jangan salahkan aku jika aku menyerangmu." Raiden langsung menerkam Zafia. Wanita itu hanya bisa tertawa saat Raiden mulai menyentuh bagian sensitifnya.
"Ouh, ayo Ray."
...****************...
__ADS_1
(Dah ya, selanjutnya di bayangin aja sendiri 😆)