Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 35. Pembunuh


__ADS_3

"Berhati-hatilah, Ray. Aku tidak mau jadi janda di usia belia."


Raiden menoleh dan tersenyum miring, Bisa-bisanya wanita yang baru dia nikahi mengatakan hal itu. Raiden mendekati Zafia dengan cepat dan mengecup bibifr istrinya itu dengan sedikit kasar.


"Tunggulah sebentar."


Raiden lalu pergi dari ruangan itu, Zafia melihat ada senjata api yang tergeletak di nakas. Dia mengambilnya dan memeriksa pelurunya. Masih ada 4 peluru yang tersisa. Berarti Raiden pernah memakainya. Di saat Zafia sedang mengecek senjata api itu, dari arah luar jendela besar. Ada seorang pria yang berusaha masuk. Kaca jendela ruangan Raiden dirancang khusus dan tidak sembarang orang bisa membuka ataupun mencari celah untuk memecahkannya.


Zafia masih terus mengamati orang tersebut. Zafia segera bersembunyi di dalam lemari. Dia mengumpat saat orang tadi rupanya bisa menghancurkan kaca Jendela itu tanpa suara. Dari dalam lemari Zafia bisa melihat pergerakan orang itu dan sialnya orang itu kini mendekat ke arah lemari tempat ia bersembunyi. Zafia menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Namun, tiba-tiba Zafia mendengar suara gaduh dari luar disertai desingan suara tembakan. Zafia harap Raiden baik-baik saja. Kini suara pedang dan tembakan terdengar begitu dekat.


"Kau tahu Raiden. Aku benar-benar membencimu."


"Terima kasih, tapi sayangnya aku tidak mau tahu."


"Gara-gara kau, Adikku bunuh diri."


"Bukan aku yang membunuhnya. Cintanya terlalu bodoh dan dangkal."


DOR!!

__ADS_1


Traang!!


Zafia menutup matanya padahal dia tidak sedang mengintip. Akan tetapi membayangkan Raiden di tembak membuat Zafia merasa perlu untuk segera bertindak. Akhirnya Zafia mengintip dari balik lemari. Jarak Raiden dan pria itu cukup jauh. Zafia mulai membidikkan senjata yang dibawanya ke arah musuh suaminya.


"Kau mau tahu kenapa dia bunuh diri?"


"Dia hamil. Sahabatmu Marick yang menghamilinya dan dia meminta bantuanku. Aku tidak mau membantunya karena bukan aku yang menyentuhnya."


"Kau bohong, Kau yang membuat Leah bunuh diri," ujar pria itu berteriak. Dia kembali menodongkan pistolnya ke arah Raiden. Di saat yang sama Zafia menarik pelatuk senjatanya.


DOR!!


Pria tadi langsung tumbang karena Zafia melubangi kepala pria itu. Senjata yang Zafia pegang jatuh begitu saja. Tubuh Zafia merosot dan tangannya bergetar. Lagi dan lagi dia terpaksa membunuh.


Zafia bukan tidak pandai memakai senjata, bukan tak pandai bela diri tapi dia memang lemah. Hatinya tidak sekuat kakak-kakaknya. Hatinya terlalu lembut seperti ibunya.


"Baby." Raiden menyentuh bahu Zafia dan menariknya agar Zafia berdiri dan setelah itu Raiden memeluk Zafia dengan erat.


"It's ok. Jangan menangis, Baby."

__ADS_1


"Aku membunuh lagi, Ray. Aku pembunuh."


"Sshh, tenanglah. Tidak apa-apa. Kau melakukan hal yang sudah sepantasnya."


Raiden masih bisa merasakan tubuh Zafia gemetaran. Tak lama beberapa anak buah Raiden masuk ke kamar pribadi atasannya itu. Meski sebenarnya ada larangan untuk memasuki kamar pribadi Raiden itu, tapi karena ada insiden itu mereka jadi masuk ke sana.


"Bereskan mayatnya."


"Baik, Bos."


Setelah anak buahnya membereskan semua kekacauan di kamar Raiden itu. Mereka semua keluar meninggalkan ruangan itu. Raiden membuka sisi lemari yang satunya. Dia menekan sebuah tombol dan tak lama dinding lemari itu menyala, rupanya itu sebuah lift. Raiden membawa Zafia menaiki lift itu dan turun menuju ruang rahasia dan hanya Raiden dan papinya yang tahu ruangan itu.


Raiden mendudukkan Zafia di ranjang besar. Istrinya terus menunduk sambil memandangi tangannya.


Raiden menggenggam tangan itu dan berkata, "Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak takut lagi?"


"Aku pembunuh, Ray. Aku sudah membunuh orang itu."


"Kau lupa siapa aku, hmm? Aku bahkan mungkin lebih banyak menghilangkan nyawa dibanding olehmu."

__ADS_1


Zafia mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu, Raiden memberanikan diri untuk muncium bibir Zafia dengan lembut.


...****************...


__ADS_2