
Jika seorang mafia seperti Raiden banyak musuh, mungkin semua orang tidak akan kaget. Namun, lain halnya jika itu Zafia. Raiden tidak mengerti apa penyebabnya, tapi semakin dia mengenal dan dekat dengan Zafia lebih jauh, ia merasa nyawa Zafia selalu menjadi incaran.
Hari ini amplop coklat yang datang sudah merupakan satu bukti bahwa keselamatan Zafia sedang diincar seseorang, tapi siapa? itu yang masih menjadi pertanyaan Raiden.
"Kalian perketat penjagaan Zafia. Aku tidak tahu siapa musuhnya yang jelas kita perlu lebih waspada lagi."
"Baik, Bos." Raiden menghela napas panjang. Isi di amplop coklat itu hanya foto Zafia, tapi Foto itu diambil dari jarak dekat. Raiden yakin mereka komplotan profesional.
"Kasian sekali, Fia. dia tidak sadar nyawanya sedang terancam."
Raiden kembali ke apartemen. Zafia. Raut wajahnya mungkin terlihat biasa saja, tapi otaknya sedang bekerja keras. Sesekali matanya menatap setiap sudut ruangan Zafia. Dia khawatir apartemen itu ada penyusupnya.
"Ray, kau sedang apa?"
"Kau sudah bangun?"
"Belum, aku masih bermimpi," jawab Zafia. Raiden tersenyum samar mendengar jawaban gadis itu. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa?"
"Sedang mencari sesuatu. Aku harus memastikan keamananmu."
__ADS_1
"Memang ada apa lagi?"
"Apa kau pernah membuat masalah dengan seseorang?"
"Sering."
"Hah?" Raiden sedikit terkejut dengan jawaban Zafia.
"Kenapa?" tanya Zafia dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak ada?"
"K-kau tahu tentang amplop coklat itu?" Raiden makin dibuat terkejut dengan ucapan Zafia barusan.
"Ya. Mungkin yang ada di tanganmu itu sudah amplop yang kesekian yang datang bulan ini."
"Kau tahu siapa orangnya?"
"Tidak, tapi aku pernah mengikuti salah satu pengirim amplop itu. Dia masuk ke kantor pos. Saat aku tanya, pengirim itu bilang bahwa dia hanya disuruh untuk mengirimkan amplop itu ke apartemen ini. Mulai sejak saat itu aku tidak peduli. Entah apa maksud si pengirim yang aslinya. Mungkin juga dia adalah pengagum rahasiaku."
__ADS_1
"Apa kau yakin hanya pengagum rahasia?"
"Entahlah, Ray. Aku tidak mau banyak berpikir. Jika benar maksudnya ingin mencelakaiku harusnya sudah sejak lama dia menembak kepalaku atau menembak jantungku. Karena jelas pasti aku tidak menyadari dimana posisinya."
Raiden terdiam, benar juga apa kata Zafia. Jika dia mengincar nyawa gadis itu, kenapa tidak dari kemarin-kemarin dia mengeksekusi Zafia, tapi dia tak mau ambil resiko dengan mengurangi kewaspadaannya. Justru dia harus mulai menaikkan kewaspadaannya. Jangan sampai lengah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Ray?"
"Tidak ada."
Zafia menggeliat sesaat lalu bangun dari duduknya, dia berjalan menuju kamarnya. Sebelum dia membuka pintu, Zafia berbalik menatap Raiden.
"Jangan terlalu dipikirkan, Ray. Sebaiknya kau pikirkan keselamatanmu sendiri. Aku tahu kau terluka beberapa waktu lalu. Aku lihat perban di lenganmu."
"Itu hanya luka kecil bagiku."
"Sombongnya," sahut Zafia. Raiden terkekeh. Zafia lantas masuk ke kamarnya. Sementara Raiden tampak termenung. Selama ini dia memang sudah mengenal Zafia, tapi hanya dari luarnya. Dia belum mengenal Zafia dari dalam.
Bagi Raiden sikap dan sifat Zafia terkadang masih terlalu abu-abu baginya. Dia kadang merasa sangat mengenal Zafia, tapi terkadang ia merasa Zafia sangat sulit ditebak. Raiden masih perlu waktu untuk benar-benar memahami Zafia luar dan dalam.
__ADS_1