Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 23. Etil Klorida


__ADS_3

Raut wajah Raiden tampak kelam. Di dalam mobil auranya terasa membekukan. Raiden mendekap tubuh Zafia dengan erat. Hatinya masih diliputi rasa marah yang teramat sangat. Zafia kembali tak sadarkan diri. Entah obat apa yang telah Steven berikan pada Zafia hingga kondisi gadis itu sangat lemah.


"Lebih cepat lagi, Julian. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengannya."


Julian menginjak pedal gasnya lebih dalam dan mobil melaju semakin kencang. Tak sampai 15 menit, mobil telah berhenti di pelataran rumah sakit. Julian turun terlebih dahulu untuk meminta bantuan para tenaga medis untuk membawakan bed untuk Zafia.


Zafia segera dibawa masuk ke ruang IGD dan segera di tangani. Raiden memejamkan matanya. Dia tadi sudah mengabari Zafa, kakak tertua Zafia, tapi Raiden melarang Zafa untuk menghubungi keluarganya di Indonesia. Karena bagaimana pun Raiden merasa ini adalah kesalahannya dan ia khawatir masalah ini akan mempengaruhi keputusan orangtua Zafia.


Zafa paham dengan kekhawatiran Raiden. Meski begitu, tanpa sepengetahuan Raiden, Zafa menghubungi papanya dan mengabarkan akan hal ini.


Tak lama dokter keluar dari ruang tindakan. Seorang dokter pria mendatangi Raiden dan tersenyum.


"Anda anggota keluarga pasien di dalam?"


"Iya, Dokter."


"Pasien saat ini sudah sadar, tapi saya memberinya obat tidur agar dia bisa istirahat. Saya duga pasien sebelumnya di beri obat bius chlorofil. Obat ini memiliki komposisi etil klorida yang merupakan obat bius semprot untuk daerah kulit luar seperti luka pada pemain bola, keseleo, dll. Obat ini tidak diperuntukan untuk terhirup atau masuk kedalam mukosa seperti bibir, mulur, mata dan hidung karena bisa menyebabkan hilangnya kesadaran. Saya sudah memberinya antidot dan pertolongan atas keracunan obat tersebut."


"Tapi, apakah dia akan baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya, beruntung dosis yang dia dapatkan tidak melebihi ambang batas."


"Terima kasih, Dokter."


"Sama-sama. Sudah menjadi tugas saya untuk membantu. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Anda bisa mengikuti suster Elisa."


"Ok, terima kasih banyak, Dokter."


Tak berselang lama, bed Zafia di dorong oleh dua orang perawat. Salah satunya adalah suster Elisa. Raiden mengikuti kedua suster itu. Mereka menuju ruang VIP. Setelah memastikan semua terpasang dengan baik, Suster Elisa dan rekannya berpamitan. Raiden hanya membalas dengan anggukan kepala.


Setelah menutup pintu ruangan itu, Raiden berbalik dan menatap Zafia sendu. Lagi-lagi dia harus menyaksikan gadis pujaan hatinya terbaring tak berdaya dan semua karena dirinya yang tidak berhati-hati menjaganya.


"Maafkan aku, Fia. Aku gagal menjagamu." sudut mata Raiden basah. Pria itu menangis untuk kali pertama. Ia benar-benar marah mengingat ketidakberdayaan Zafia tadi. Andai dia telat datang, mungkin juga kisahnya akan lain dan dia tidak bisa membayangkan itu terjadi.


Raiden pada akhirnya terlelap di samping Zafia. Ia tak kan tenang meninggalkan gadis itu dalam keadaan lemah seperti ini.


Zafia terbangun, ia merasakan sesak di dadanya. Gadis itu menoleh dan mendapati Raiden tertidur di sampingnya dan memeluk tubuhnya dengan posesif.


"Maaf, lagi-lagi aku membuatmu cemas."

__ADS_1


"Aku tidak hanya cemas. Rasa-rasanya aku ingin mencabut nyawa pria itu saat itu juga."


"Steven bilang soal kamu membunuh Morgan. Siapa itu Morgan?"


"Kau tidak usah pikirkan ucapan pria gila itu. Sekarang kembalilah tidur, ini sudah terlalu malam."


"Tapi aku lapar, Ray," rengek Zafia.


"Ah, kau belum makan, Baiklah aku akan carikan sesuatu untuk kau makan."


"Aku yakin kau juga belum makan karena aku, Ray," ujar Zafia sambil membelai wajah Raiden. Raiden memejamkan mata saat tangan Zafia menyusuri rahangnya yang kokoh.


Raiden menangkap tangan Zafia sebelum gadis itu lebih jauh memancing hasratnya.


"Stop, jangan dilanjutkan lagi, ya."


Zafia tersenyum lembut dan mengangguk. Dia lantas mengecup pipi Raiden. Mata Raiden seketika terbelalak kaget.


"Oh God."

__ADS_1


"


__ADS_2