
Praang!!
Miguel dan Ferran memejamkan matanya saat bosnya menghancurkan miniatur yang terbuat dari kristal dengan brutal.
Marah, kesal bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak? Dua orang yang sudah susah payah dia rekrut nyatanya tidak bisa memberikan hasil yang dia inginkan.
"Jauh-jauh aku kemari untuk menghancurkannya, tapi apa yang ku dapat? Percuma aku membayar mahal kalian."
"Maafkan kami Tuan Erdogan."
"Hanya menghancurkan karir seorang gadis saja kalian tidak becus. Lalu apa gunanya aku membayar kalian?"
Pria berusia 30 tahun itu tampak murka saat Ferran melapor jika dia gagal mencuri data begitupun dengan Miguel.
Erdogan meneguk red wine dari cawannya. Sepertinya dia memang harus menculik gadis itu, Gadis yang pernah membuat perusahaannya hancur dalam sekejap gara-gara memasukkan virus buatannya.
"Kita ganti rencana," ujar pria itu kemudian.
"Kami siap melaksanakan tugas dari anda, Tuan."
Ferran dan Miguel kini sedang mendengar rencana Erdogan. Mereka meneguk salivanya kasar saat mendengar rencana pria itu.
"Kalian tunggu kabar dariku. Kita tunggu saat yang tepat. Nanti aku akan kirim 5 orang ku untuk membantumu menghadapi pengawal-pengawalnya.
Erdogan tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia hanya mengikuti nalurinya saja. Naluri yang mungkin akan menuntunnya pada kematian yang mengerikan.
__ADS_1
***
Di lain sisi, Zafia terbangun dari tidurnya. Dia terkejut saat Raiden rupanya sedang menindihnya.
"Ray, apa yang kau lakukan?"
"Aku mau menjelajah."
"Ray, bukankah semalam kita sudah?" tanya Zafia setengah protes.
"Rasanya setiap hari pun kurang, Baby."
"Oh kau mesum sekali, Ray."
"Kau halal untuk ku nikmati, Fia."
Raden tersenyum, dia lantas langsung membenamkan ciuman lembut di bibir istrinya. Zafia tidak bisa menolak ajakan Raiden. Dia pun mulai membalas ciuman itu dengan kemahirannya.
Kedua insan yang sedang mereguk kasih itu tak sadar jika bahaya sedang mengintai salah satunya. Keduanya asyik mendaki puncak kenikmatan berumah tangga yang sesungguhnya.
Padahal mereka masih di kantor Raiden. Akan tetapi, mereka berdua seperti tak pernah puas untuk melakukan itu lagi dan lagi.
Raiden berguling di samping tubuh polos istrinya. Dia dan Zafia sama-sama sedang mengatur nafas dengan wajah penuh kelegaan.
"Ray, bagaimana jika aku hamil?"
__ADS_1
"Hei, kau punya aku. Apa yang kau khawatirkan. Lagi pula sebentar lagi kau wisuda."
"Apa aku tidak terlalu muda untuk memiliki anak?"
"Baby, dengarkan aku! Kalau kamu hamil aku akan sangat senang."
"Senang? Kenapa?"
"Ya karena kita punya anak di usia muda. Saat nanti mereka dewasa, kita masih pantas berpacaran."
Zafia yang mendengar ucapan Raiden tertawa. "Ada-ada saja, tapi kau tahu kan, Ray. Aku ini tidak bisa apa-apa selain keahlianku. Aku belum siap untuk mengurus anak."
"Aku ada di sampingmu, apa yang kau khawatirkan? Aku sudah membayangkan benihku tumbuh di dalam sini." Raiden mengusap perut rata Zafia yang putih mulus itu.
Zafia terdiam, benar juga. Selama ini mereka melakukannya tanpa pengaman. Bagaimana jika dirinya sampai hamil?"
"Tenanglah, aku akan selalu ada di dekatmu dan menjagamu."
"Oh, Ray. Kau benar-benar membuatku kehabisan kata-kata." Zafia menyusup di pelukan suaminya. Mereka benar-benar menghabiskan malam di kantor Raiden.
Mereka kembali memadu kasih dan melupakan para bawahannya yang mungkin sedang menunggu dengan kesal. Pukul setengah 12 Zafia memaksa ingin pulang ke rumah. Dia tak mau mandi di kantor Raiden.
...****************...
Guys mampir di karya sohibku yuk judulnya Wanita Sampah Menjadi Putri
__ADS_1