
Sejak menyadari penghianatan yang dilakukan oleh Bella, Zafia mengajukan ijin cuti kuliah. Dia berjanji akan mengejar ketertinggalannya nanti begitu urusan perusahaannya selesai.
Hari ini Zafia sudah membulatkan tekatnya lewat pesan grup, ia mengumumkan akan mengadakan rapat dadakan. Semua sahabat dan orang-orang kepercayaan Zafia satu per satu mulai muncul memasuki ruang rapat.
Zafia telah menunggu di dalam ruang rapat. Di sana Ramon, Marco dan juga Raiden yang sejak tadi ikut hadir dan berdiri tegak di belakang Zafia.
Tatapan Zafia tidak lagi seperti dulu yang hangat dan penuh dengan kelembutan. Zafia tampak datar dan dingin. Semua sahabat Zafia dibuat terkejut dengan perubahan gadis itu.
Karena sekarang Zafia bertindak sebagai atasan sekaligus pemimpin di ZF technologies, kelima sahabat Zafia pun bersikap sopan pada Zafia.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Zafia.
"Sepertinya sudah," jawab Ramon yang melihat daftar hadir peserta rapat.
"Baiklah, akan aku mulai saja rapatnya. Terima kasih untuk waktunya dan aku juga mengucapkan banyak terima kasih pada kalian yang telah mendedikasikan seluruh waktu, pikiran dan tenaga kalian." Semua terdiam mendengar pidato pembuka dari Zafia. Beberapa diantaranya tak sabar menunggu isi rapat itu
"Di sini, selaku pimpinan dan Pemilik perusahaan. Aku ingin menyampaikan perubahan struktur pengurus sekaligus struktur managemen di perusahaan ini. Ini semua diambil guna memaksimalkan kinerja kita semua."
Pinot, Vigo, Louis, Ferran dan Bella tampak terkejut. Apa maksudnya? kenapa mendadak? Bella tiba-tiba merasa resah. Gerak geriknya terus diperhatikan oleh Raiden.
"Maaf jika ini mungkin mengejutkan kalian, tapi memang aku mau sesuatu yang baru, sesuatu yang benar-benar fresh dan terkoordinasi dengan baik." Sejenak Zafia menghela napasnya.
"Ok, yang pertama, perkenalkan di belakangku ini ada dua orang temanku yang akan bergabung dengan kalian. Ada Ramon dan Marco." Kedua pria di belakang Zafia menundukkan kepalanya sesaat.
"Ferran akan memegang kepala operasional tim A hingga tim C, bersama Marco. Aku harap kalian bisa bekerja sama." Marco berdiri dengan gaya cool sambil kembali membungkukkan sedikit bahu dan kepalanya.
Ferran tak berkata apapun. Tatapannya masih menyoroti Marco dari atas sampai bawah. Namun, reaksi lain ditunjukkan oleh Bella. Gadis itu tampak kecewa karena tidak dipersatukan dengan Ferran.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Bella mulai gusar.
"Untuk sementara aku memerlukanmu untuk memegang cabang yang ada di Italia, aku akan meminta Ramon untuk menjadi partnermu," kata Zafia masih dengan memasang wajah tenang dan kalem.
"Aku tidak bisa. Orang tuaku pasti tidak mengijinkan aku menetap di sana," ujar Bella, Dia berdiri dan menggebrak meja. Namun Zafia masih bersikap tenang meskipun jantungnya mulai berdebar tak karuan. Raiden sudah mengepalkan tangannya melihat tingkah Bella.
"Jika begitu, apa kau keberatan jika menjadi kepala operasional tim D?"
Bella benar-benar memperlihatkan wajah tak senang. Pinot, Vigo dan Luis yang jarang berada di perusahan pusat merasa heran dengan atmosfir yang mulai tercipta antara Bella dan Zafia.
"Apa kamu sedang mempermainkanku, Fia?"
"Bella," tegur Ferran. Pemuda itu tidak mengerti kenapa Bella bersikap seperti itu.
"Kenapa bukan Marco dan Ramon yang kesana?"
"Jika kau tidak mau, kau bisa mengajukan surat resignmu mulai hari ini," ujar Zafia dengan suara bergetar. Jangan dikira ini mudah untuk Zafia. Bagaimana pun juga Bella adalah sahabat yang sejak awal membantu Zafia mengurus perusahaannya dan saham miliknya.
"Katakan ada apa sebenarnya? apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?" tanya Pinot. Gadis asal negeri gajah itu memandang curiga ke arah Zafia dan Bella. Luis dan Vigo serta Ferran juga kini memusatkan perhatiannya pada kedua sahabatnya itu.
"Yang lainnya bisa keluar dulu." Zafia akhirnya memerintahkan beberapa orang untuk keluar, sedang kelima sahabat Zafia masih tetap tinggal di tempatnya. Bella sejak tadi merasa tak tenang. Dia terus meremas kedua tangannya resah di bawah meja.
Di dalam ruangan itu hanya ada kelima sahabat Zafia, Marco, Ramon dan Raiden. Dua orang kepercayaan Raiden itu tidak keluar karena bos mereka tidak menyuruh.
Raiden langsung menyalakan proyektor dan menekan tombol play dari ponselnya. Tak lama dari layar proyeksi menampilkan potongan adegan dan rekaman suara Bella dengan pria asing itu. Keempat teman Zafia yang lain tampak syok melihat video itu. Sementara dalam diam, Zafia kembali meneteskan air matanya. Bella tidak berani mengangkat kepalanya.
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan, Bella?" tanya Zafia dengan suara parau. Raiden berdecak kesal mendengar suara Zafia. Ia yakin, gadisnya mulai menangisi sabahat penghianat itu.
__ADS_1
"Kau sudah melihatnya sendiri. Lalu aku harus bilang apa? wajah Bella berubah angkuh, Zafia menatap Bella dengan nanar.
"Katakan, kenapa kau lakukan ini padaku, Bella?"
"Aku membencimu. Apa kau tahu? aku sangat membencimu. Aku benci dirimu yang sok jual mahal, pada klien, aku juga benci kamu yang selalu mendapatkan cinta dari orang-orang."
"Kau iri padaku?" tanya Zafia terbata. Keempat sahabat Zafia lainnya tampak syok dengan ucapan Bella.
"Bella, apa yang kamu katakan?" tanya Ferran.
"Apa yang aku katakan adalah sebuah kenyataan. Kamu juga bahkan tidak pernah melirikku atau menganggap aku ada. Kalian semua selalu mengagung-agungkan Zafia."
Berulang kali Zafia mengatur napasnya. Air matanya mengalir deras mendengar setiap penuturan Bella. Entah mengapa ulu hatinya terasa sangat sakit dan dadanya mulai sesak.
"Ray, aku mau pulang." Raiden menajamkan tatapannya. Karena posisinya ada di belakang Zafia Ia tidak melihat wajah Zafia yang memucat. Raiden seketika mendekati kursi Zafia dan berjongkok di samping kursi kebesaran Zafia. Raiden baru bisa menangkap wajah pucat gadis itu.
"Apa yang sakit?" tanya Raiden cemas.
Zafia mencengkeram pergelangan tangan Raiden. Napas gadis itu mulai tersengal-sengal. Raiden langsung mengangkat Zafia.
"Kalian berdua, bawa gadis itu! Jangan biarkan dia kabur! Aku sendiri yang akan menghukumnya karena telah membuat kekasihku seperti ini."
keempat sahabat Zafia yang lain menatap Bella penuh dengan kekecewaan.
"Kenapa kamu lakukan semua ini, Bell?" tanya Pinot, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.
Ramon dan Marco langsung meringkus Bella. Gadis itu tampak tak memberikan perlawanan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan raut bersalah maupun penyesalan. Namun, penyesalan pun sepertinya percuma tidak ada artinya.
__ADS_1
Sementara itu Raiden keluar dari ruang meeting dengaan panik, ia berlari sembari membopong tubuh Zafia. Beberapa karyawan sedikit kaget melihat atasnya digendong dalam keadaan tak sadarkan diri.
Raiden membawa Zafia ke rumah sakit terdekat. wajah Raiden tampak kelam. Dia merasa gagal menjaga Zafia.