
Setelah berpamitan dengan semua anggota keluarganya, Zafia dan Raiden pada akhirnya harus segera kembali ke Massachusetts, Amerika. Di dalam pesawat Zafia masih meneteskan air matanya. Zafa, Dino dan Alexa yang kebetulan ikut berada di rombongan pesawat itu geleng kepala melihat Zafia.
"Kalau ada kesempatan lagi, aku akan sering-sering mengajakmu pulang, Fia."
"Tapi aku belum apa-apa udah kangen sama mama."
"Nanti kalau kita sampai di sana kita telepon mama, ya. Udah dong jangan sedih begitu."
Zafia menyusut air matanya, Raiden menarik kepala Zafia lembut dan menyandarkan kepala Zafia di bahunya.
"Sudah, sebaiknya sekarang kamu istirahat. Takutnya nanti turun malah kamu pusing," ujar Raiden sembari mengusap kening Zafia. Wanita itu pun kini melingkarkan tangannya di lengan Raiden dan memejamkan mata.
Pesawat yang mereka naiki transit di Dubai. Zafia mengajak Alexa berkeliling mencari makanan di sana. Puas membeli makanan, Zafia duduk di sebuah kafe dan memesan latte. Dia menikmati makanannya sembari bermain tablet.
"Zafia kadang terlihat tersenyum kadang terlihat tertawa. Raiden yang sedang mengobrol dengan Zafa merasa terganggu. Ia lantas meninggalkan kakak pertama Zafia dan mendekati istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan, Baby?"
"Lihat, Ray. Ini lucu sekali."
"Kau mau memeliharanya?" tanya Raiden menatap layar tablet Zafia.
"Mau, tapi hewan ini tidak cocok dengan cuaca Amerika."
"Kita bisa membuatkan kandang khusus untuk mereka."
__ADS_1
"Tapi mereka lucu saat masih kecil saja. Kalau sudah besar aku pasti akan takut berdekatan dengannya."
Raiden kembali menatap ke arah tablet Zafia. Benar juga apa yang istrinya katakan, mereka lucu jika masih bayi saja. Kalau sudah besar mereka terlihat cukup mengerikan karena panda bisa memiliki ukuran 2 kali lebih besar dari manusia.
Zafia menghela napasnya. Dia hanya ingin memiliki kesibukan lainnya, karena papanya sudah berpesan padanya agar tidak datang lagi ke perusahaan. Dia diminta memantau kegiatan perusahaan dari rumah.
Hanya dengan membayangkannya saja Zafia merasa jenuh. Raiden menatap heran ke arah istrinya.
"Ada apa?"
"Entahlah, aku baru membayangkan kerja dari rumah dan tidak melakukan apa-apa pasti sangat membosankan."
"Aku akan menemanimu sepanjang waktu agar kau tidak bosan. Bagaimana?"
Pesawat mereka kini kembali mengudara. Zafia tertidur setelah batrai tabletnya habis dan bagusnya lagi, wanita itu tidak membawa powerbank.
Mereka tiba di Amerika sekitar pukul 12 malam. Mereka berpisah di bandara. Dino rencananya akan memakai apartemen Zafia. Sedangkan mulai malam ini, Zafia dan Raiden akan pulang ke rumah baru mereka.
Raiden di jemput langsung oleh Marco. Zafia masih terlelap walau tadi sudah dibangunkan. Sepertinya cuaca dingin membuatnya betah berlama-lama tidur. Raiden membopong Zafia dan masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
"Kita ke rumah."
"Baik, Tuan."
Setibanya di depan rumah barunya, Raiden membangunkan Zafia. Sejak tadi tangannya sudah terasa kebas karena sejak di pesawat dia terus memangku Zafia.
__ADS_1
"Baby, kita sudah sampai."
"Hng ...." Zafia menggerakkan badannya dan mengucek mata. Akan tetapi, bukannya bangun dia malah mengeratkan pelukannya di leher Raiden. Pemuda itu hanya tertawa dan langsung mengangkat Zafia dengan sangat hati-hati.
Marco membantu Raiden membukakan pintu. Raiden benar-benar membopong Zafia hingga ke kamar mereka di lantai 3 beruntungnya rumah itu memiliki lift, sehingga Raiden tidak perlu memakai tangga.
Saat tiba di kamarnya, Raiden langsung meletakkan Zafia di atas ranjang dan dia pun ikut merebahkan dirinya.
"Ahh, enak sekali," gumam Raiden sembari merentangkan tangannya.
"Lelah, ya?"
Raiden langsung menoleh, ia menatap Zafia yang membuka matanya dan tersenyum manis ke arahnya.
"Capek, ya?"
"Tidak," jawab Raiden.
"Jangan berbohong, Ray. Aku tahu kamu lelah, aku bisa merasakan kau menggerakkan tanganmu tadi."
"Jika begitu, kau?"
"Maaf suamiku, aku hanya sedang mengetes kekuatanmu," ujar Zafia sembari terkekeh. Raiden langsung menahan kedua pipi Zafia dan lalu dia menyematkan ciuman dalam di bibir Zafia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1