Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 43. Mertua


__ADS_3

Wajah Sonya memucat. Saat dirinya hendak pergi, Raiden ternyata melihat dirinya dan memanggil namanya dengan suaranya yang berat.


"Apa yang kau lakukan di sini, Sonya? Bukankah seharusnya kau menjaga istriku?"


Wajah Raiden sudah mengeluarkan aura yang tak mengenakkan. Sonya menelan salivanya dengan susah payah.


"I_itu, Bos. Tadi nona tidak sengaja mendengar Ednan mengatakan jika markas diserang. Sejak bangun tidur, Nona mencari anda. Nona bahkan tidak mau makan dan lalu setelah nona mendengar perkataan Ednan, nona naik mobil sendiri.


Saya sudah berusaha menyusulnya, tapi saya kehilangan jejak nona." Sonya bahkan tak berani menatap mata Raiden walau hanya sekilas.


Raiden yang mendengar hal itu tiba-tiba menghantam lukisan yang ada di sampingnya hingga bingkai kacanya pecah.


Rian yang melihat kemarahan Raiden yang tak terbendung, langsung menyentuh bahu putranya.


"Kendalikan emosimu. Ini bukan sepenuhnya salah Sonya. Sekarang pulanglah! Biar papi yang mengurus di sini."


Raiden menoleh dan hanya diam. Dia mengangguk lalu pergi dari markas. Raiden memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada di otaknya saat ini hanya memikirkan bagaimana Zafia.

__ADS_1


***


Sementara itu, Zafia tanpa rasa bersalah, justru memutar rutenya. Dia ingin mengunjungi ibu mertuanya dan akan meminta makan di sana.


Zafia merasa sangat lapar sekarang. Dia ingin makan sesuatu yang hangat dan berbau Indonesia. Saat memasuki halaman rumah orang tua Raiden, Zafia memarkirkan mobilnya dengan asal.


Zafia disambut oleh kepala pelayan sebelum dia mengetuk pintu.


"Selamat datang, Nona."


"Apa mamy ada?"


"Halo sayang. Apa kau kemari sendirian?" tanya Velia sembari mengedarkan pandangannya mencari putranya.


"Ya, Mom. Aku ingin sesuatu dan ku harap mamy bisa mengabulkan keinginanku ini."


"Apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


"Aku ingin makan soto ayam, Mom. Aku tidak mungkin pulang ke Indonesia hanya untuk makan semangkok soto." Wajah Zafia memelas. Velia tertawa sembari memeluk istri Raiden itu.


"Baiklah, Mommy akan memasak untukmu."


Zafia tersenyum lebar. Keduanya langsung bergegas menuju dapur utama. Beruntung di negara maju seperti Amerika ini sudah ada toko asia. Jadi Velia memiliki cukup banyak stok bahan baku untuk membuat makanan khas negaranya.


"Aku akan membantumu, Mom."


"Tidak usah, Sayang. Kau tunggulah. Mommy hanya sebentar saja."


Velia langsung memasak soto yang diinginkan oleh menantunya. Tangannya sangat terampil menyiapkan bahan pelengkap. Sementara itu, karena tak ingin mengganggu. Zafia masuk ke ruang keluarga. Dia merebahkan tubuhnya di sofa dan tak lama ia tidur lagi.


Zafia sama sekali tidak tahu jika dirinya telah mengakibatkan kekacauan di mansionnya sendiri. Raiden kembali memperlihatkan amarahnya yang mengerikan, saat dia tak menemukan istrinya ada di mansion.


Ednan kepala pelayan sudah mendapatkan pukulan telak di hidungnya hingga berdarah. Kemarahan Raiden sebagai wujud kecemasan nya, apa lagi Zafia pergi sendirian. Raiden berulang kali mencoba menghubungi Zafia. Namun, sayangnya wanita itu meninggalkan tasnya di dalam mobil.


"Kamu dimana, Baby?"

__ADS_1


Raiden akhirnya menghubungi Zafa dan Dino untuk meminta bantuan mereka untuk menemukan Zafia. Dia benar-benar khawatir karena Zafia sedang hamil. Semoga saja Zafia baik-baik saja. Hal itu yang sejak tadi Raiden ucapkan untuk memenangkan hatinya.


...****************...


__ADS_2