
Gerry baru tiba di indonesia. Meskipun letih, tapi Gerry harus mengumpulkan seluruh keluarganya untuk membicarakan masalah Zafia pada semua anggota keluarganya.
Pagi itu Gerry sudah mengirim pesan di grup keluarga. Dia ingin mengadakan pertemuan untuk nanti malam. Dia harap semua keluarganya bisa berkumpul sehingga dia tidak perlu menghabiskan tenaga untuk menjelaskan.
"Mas, kamu sudah pulang." Dian menyambut suaminya dengan senyum termanis seperti biasanya.
"Iya, Sayang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Apa itu, Mas?"
"Kita bicara di kamar saja." Gerry merangkul pundak istrinya. Tinggi Dian hanya sebatas bahu Gerry. sehingga saat berjalan seperti itu Dian tampak sangat kecil.
Saat tiba di kamar, Dian duduk di tepi ranjang. ia menatap suaminya seakan tak sabar menunggu apa yang akan suaminya katanya.
"Mau bilang apa, Mas?"
"Ini mengenai Fia," ucap Gerry.
"Fia kenapa, Mas? dia baik-baik saja, kan?" tanya Dian tak sabaran.
"Tenang dulu, Sayang. Jangan panik. Ini mengenai lamaran Raiden tahun lalu. Saat dia mengatakan ingin menjadikan Zafia sebagai istrinya. kemarin Zafia memberi jawabannya."
"Hah?" Dian tampaknya terlalu terkejut dengan berita ini.
"Maksud kamu, Mas?"
__ADS_1
"Zafia menerima lamaran Raiden."
"Zafia menerima lamaran Raiden? itu artinya mereka akan tunangan?"
"Ini lah yang mau aku bahas sama kamu, Sayang. Aku memutuskan akan menikahkan mereka, tapi ini juga baru wacana. Zafa tidak masalah jika harus di dahului Zafia. Nanti aku akan bertanya pada Zayana apakah dia bersedia didahului oleh Zafia."
"Kasihan Ana, Mas."
"Maka dari itu, aku akan bertanya apa dia bersedia atau tidak."
"Lagian Raiden dan Zafia masih terlalu muda untuk menikah, Mas."
"Usia Zayn dan Judy saat mereka menikah juga sama dengan Zafia dan Raiden saat ini, Dian."
"Mas lebih khawatir hanya menitipkan Zafia pada Zafa. Setidaknya setelah Zafia menikah Raiden bisa sepenuhnya melindungi Zafia. Perusahaan yang Fia bangun itu resikonya besar."
"Sayang, kamu tenang dulu. Jangan panikan seperti ini. Fia baik-baik saja. Aku hanya menjabarkan resiko yang akan dia ambil. Kamu tahu sendiri, putrimu itu sangat keras kepala. Di sana Zafa tidak bisa menjaganya 24 jam penuh. Sedangkan Raiden, dia sangat mampu untuk menjaga putri kita. Meskipun sibuk dia rela melakukan apa pun demi Zafia."
"Tapi, Mas ... "
"Aku hanya ingin memberitahumu, bagaimanapun kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putri kita. Selebihnya kita pasrahkan semuanya pada sang pemilik kehidupan."
Dian terdiam, pikirannya terus tertuju pada putrinya. Tak mau membuang waktu lama, Dian menghubungi putrinya.
Beberapa kali Dian menunggu hingga akhirnya panggilan nya terhubung.
__ADS_1
"Halo."
"Sayang, ini mama. Maaf mama mengganggu istirahatmu."
"Mama sehat, bagaimana kabarmu?"
"Baiklah, selamat beristirahat, Maaf mama menganggu istirahatmu."
Dian mematikan teleponnya. Ia kini sedang bimbang memikirkan putrinya. Gerry yang tadi sempat keluar kamar untuk berbicara pada Sigit asistennya, kembali masuk. Dia mendesah berat saat melihat Dian termenung. Inilah satu sifat Dian yang tidak disukai Gerry. Dian terlalu overthinking.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayangku?" Gerry memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang.
"Banyak, Mas."
"Sayang, ingat kata Arya, kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran."
"Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya sementara Fia itu adalah putriku."
"Sayang, Zafia itu sudah dewasa. Putri kita saat ini telah memimpin ribuan pekerja. Dia bisa mengambil keputusan tanpa campur tangan kita. Jadi aku juga berharap kamu bisa mempercayai nya."
"Kalau untuk itu, aku setuju, tapi pernikahan .... "
"Kamu tahu betul pergaulan di luar sana?" Pernikahan ini menjadi jalan yang terbaik untuk dia."
Dian lagi-lagi terdiam. Gerry masih tetap memeluk sang istri dengan erat. Berat memang, tapi Gerry hanya ingin putrinya ada yang melindungi di sana. Setidaknya jika terjadi sesuatu ada yang bisa dimintai keterangan.
__ADS_1
"Percayalah, Sayang. Raiden sangat mencintai putrimu, dia akan menjaganya dengan sungguh-sungguh."