Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 12. Lamaran Diterima?


__ADS_3

Esok harinya, Gerry datang bersama Dino, keponakannya. Kemarin memang informasi yang dikabarkan oleh Gerry pada Zafia berasal dari Dino. Pemuda itu mengatakan jika perusahaan Zafia sedang mengalami masalah.


"Papa." Zafia terkejut melihat papanya ada di sana.


"Bagaimana kondisimu, Sayang?"


"Jauh lebih baik."


Saat ini Zafia sendirian, Raiden tadi pamit padanya mau membersihkan diri sekaligus membeli sarapan.


"Kenapa kamu ceroboh begitu, Fia?"


"Aku pikir aku udah kenal mereka lama dan selama ini tidak ada masalah."


"Justru orang-orang seperti itu hanya menunggu kamu lengah. Andai kamu masih tetap memperketat sistem keamanan semua itu pasti tidak akan mungkin terjadi."


"Maaf, Kak." Gerry yang tidak tega melihat putrinya dimarahi langsung melerai.


"Sudah. Sudah. Semoga Fia bisa mengambil pelajaran dari masalah ini," ujar Gerry.


"Sementara aku yang akan pegang pusat."


Zafia hanya mengangguk pasrah. Memang salahnya yang memberi kode akses pada sahabatnya untuk mengelola data klien. Padahal biasanya Zafia sendiri yang menangani.


Ia seperti merasa kecolongan. Hatinya pun sakit karena dihianati oleh sahabat yang paling dia anggap paling mengerti dirinya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah makan, Sayang?"


"Sudah, Pah. Tadi Raiden yang suapin aku. Sekarang dia pulang ganti baju dan cari makan."


"Apa Raiden menjagamu dengan baik?" tanya Gerry sembari duduk di kursi yang sebelumnya Raiden pakai.


"Dia menjagaku sangat baik, Pah. Meskipun kadang aku sampai merasa dia berlebihan."


"Papa senang mendengarnya. Berati dia pria yang menepati janjinya."


"Memang Raiden menjanjikan apa sama papa?"


"Ini janji sesama pria, Sayang. Papa tidak akan membocorkannya padamu." Zafia seketika mengerucutkan bibitnya.


Tak lama terdengar bunyi ketukan pintu dan seorang dokter masuk diikuti dua orang perawat.


Sudah, Dok."


"Pokoknya seperti saran saya kemarin, kuncinya rileks jangan terlalu memaksakan pikiran kalau tidak mau berakibat seperti kemarin."


"Iya, Dok. Apa nanti saya sudah boleh pulang?"


"Tentu, saja."


Dokter itu berpamitan setelah sebelumnya ia memberi tahu Gerry mengenai kondisi Zafia sebenarnya.

__ADS_1


Raiden baru tiba beberapa saat setelah dokter yang memeriksa Zafia pergi. Pemuda itu langsung menyalami Gerry dan Dino.


"Maaf aku lama," kata Raiden sembari mengusap puncak kepala Zafia. Gadis itu hanya mengangguk.


Raiden kini duduk di tepi ranjang. Duduknya berhadapan dengan Papa Gerry.


"Terima kasih kamu sudah menjaga putriku dengan baik."


"Sudah menjadi kewajibanku. Aku mencintainya."


Gerry lalu tersenyum, sebenarnya putrinya masih terlalu kecil menurutnya untuk mengenal kata cinta, tapi berkat ketulusan Cinta Raiden pada putrinya, Gerry pun akhirnya luluh. Ia ijinkan putrinya berada dalam pengawasan Raiden. Bahkan pemuda itu berjanji untuk selalu ada untuk Zafia.


"Ray," tegur Zafia.


"Kenapa? apa kamu malu?" tanya Raiden sembari terkekeh.


"Sayang, Raiden ini, saat kemarin di acara kakakmu, dia secara resmi meminang kamu di hadapan mama dan papa dan kedua orangtuanya," tutur Gerry. Zafia terdiam, dia menggigit bibirnya resah.


"Dia tidak meminta jawaban sekarang. Dia bilang ingin menunggu sampai kamu siap," sambung Gerry.


Zafia melempar tatapannya pada Raiden. Pria itu menatap dirinya dengan tatapan yang begitu teduh.


"Fia akan menerima Raiden," ujar Zafia masih tetap dengan menatap wajah Raiden.


Raiden tersenyum mendengar jawaban Zafia.

__ADS_1


"Berati lamaran Raiden di terima?" tanya papa Gerry memastikan. Zafia mengangguk dengan yakin.


__ADS_2