
Setelah berhasil lolos dari kejaran polisi, dengan panik Raiden kembali ke rumah sakit tempat tadi Zafia di tangani. Pemuda itu langsung menuju ke bagian informasi untuk mencari keberadaan Zafia.
Setelah mendapat info di mana Zafia dirawat, Raiden segera menaiki lift menuju lantai di mana Zafia berada.
Saat tiba di depan ruangan, Raiden melihat Zafa duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaan Fia?"
"Dia sedang istirahat setelah menjalani USG. Tadi setelah membayar administrasi dan saat aku hendak membawa Zafia pulang, dia tiba-tiba muntah, karena aku khawatir aku memaksanya rawat jalan."
"Maaf, Kak. Aku tidak menjaganya dengan benar."
"Jangan salahkan dirimu. Diantara kami berlima memang Fia yang paling istimewa. Dia tidak pandai berkelahi, hatinya terlalu lembut seperti mama. Dia tidak tegaan dan mudah dimanfaatkan. Zafia sebenarnya bukan gadis yang lemah. Hanya saja dia terlalu baik."
"Jadi, kakak tahu apa yang terjadi dengan Fia?"
"Tentu saja. Meski kamu menjaganya dan tetap berada di sekitarnya, aku sesekali juga harus memastikan, bahwa dia harus baik-baik saja."
Raiden terdiam, dia kini ikut duduk di samping Zafa.
"Kenapa kamu malah duduk? masuklah ke dalam dan temani dia." Mendengar ucapan kakak pertama Zafia, Raiden seketika bangkit berdiri dan masuk ke ruang perawatan Zafia.
"Terima kasih, Kak," ucap Raiden sebelum menghilang dibalik pintu.
Raiden mendekati ranjang Zafia. Hatinya kembali berdenyut sakit mengingat air mata Zafia siang tadi saat membuka kedok Bella.
"Apapun yang terjadi aku akan selalu melindungi kamu, Fia." ujar Raiden, pemuda itu lantas mengecup kening Zafia dalam.
__ADS_1
Raiden duduk dengan tenang di samping ranjang Zafia. Tangan kanannya mengenggam jemari Zafia yang terkulai di atas perut Zafia.
Rasa kantuk mulai mendera Raiden. kepalanya ikut terkulai di samping tubuh Zafia.
Sore harinya, Zafia bangun. Ia melihat Raiden tertidur di sampingnya. Entah sejak kapan pemuda itu datang. Zafia jadi merasa kasihan pada Raiden, Raiden seperti menganggap Zafia sebagai tanggung jawab yang memang harus ia jaga.
Saat merasakan ada pergerakan di ranjang, Raiden membuka matanya.
"Kau sudah bangun?" Raiden merenggangkan tubuhnya. Ternyata tidur dalam posisi duduk sangat melelahkan.
"Ray, kenapa kamu di sini? Di mana kak Zafa?"
"Dia di luar jika belum pergi, tapi tadi kakakmu sudah menitipkan kamu padaku."
"Ish, memang aku ini barang yang harus dititipkan," kesal Zafia.
"Tapi bagaimana jika aku mau ke toilet?"
"Aku yang akan menggendongmu, Fia. Apa kamu sekarang mau ke toilet?"
Zafia mengangguk. Raiden membantu Zafia melepas tabung infus dari tiangnya dan lalu dengan sigap, Raiden mengangkat tubuh Zafia dan membawanya ke toilet.
Setelah mendudukkan Zafia di atas kloset dan menggantung infus Zafia, Raiden keluar.
"Kalau sudah selesai panggil aku."
"Hmm, ya."
__ADS_1
Zafia tersenyum selepas Raiden menutup pintu. Dia tidak menyangka Raiden selalu memperlakukan dirinya dengan sangat lembut.
"Padahal aku hanya sakit biasa, tapi dia memperlakukanku seolah-olah aku ini cacat."
Setelah menyelesaikan keperluannya, Zafia berjalan keluar. Saat membuka pintu, ia dikejutkan dengan keberadaan Raiden yang bersandar di dekat pintu.
"Kenapa tidak memanggilku?" tanya Raiden.
"Aku bisa berjalan sendiri, Ray. Aku hanya Gerd bukan lumpuh."
Raiden tidak mau mendengar bantahan Zafia. Tanpa meminta persetujuan ia mengangkat tubuh Zafia lagi dan membawanya di atas ranjang.
"Kalau kamu tidak menurut apa kataku, aku akan menghukummu."
"Kenapa di hukum?"
"Karena kamu bandel, tidak menurut padaku," ujar Raiden, Zafia hanya mendengus kesal mendengar ancaman pria itu.
"Fia, saat umur kita menginjak 19 tahun, ayo menikah."
"Hah, apa kamu serius, Ray?"
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, Fia."
"Kau tidak perlu menungguku, Ray."
"Apa kamu mau aku melamarmu sekarang?"
__ADS_1
"Ti-tidak. Jangan, Ray."