Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 40. Kabar


__ADS_3

Kesabaran Raiden benar-benar telah habis saat mendapat laporan dari anak buahnya yang memata-matai Zafia. Mereka mendapat beberapa foto di mana istri atasannya sedang diawasi oleh beberapa orang di tempat yang berbeda.


"Tangkap mereka satu per satu. Jangan sampai istriku tahu mengenai masalah ini. Aku tidak mau membuatnya sedih."


"Baik, Bos." Serentak semua anak buah Raiden menjawab. Saat ini Raiden akan meningkatkan penjagaan dan pengawasan pada Zafia. Dia tidak mau kejadian yang sudah-sudah terulang lagi.


Saat ini Raiden ada di markas King devil. Tadinya dia hanya ingin menemui Julian untuk membebaskan Bella. Namun laporan dari anak buahnya membuat Raiden tertahan di sana.


Saat sedang berbicara dengan Ramon, ponsel milik Raiden bergetar. Dia segera menjawab panggilan dari kepala pelayan di mansion miliknya.


"Halo, ada apa?"


("Maaf tuan. Ini darurat. Nona pingsan.")


"Hah, pingsan?" Raiden segera bangkit dan menyambar kunci mobilnya. Dia langsung mengantongi ponselnya dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan pikirannya terus tak tenang, ada apa sebenarnya? apakah Zafia sakit? Tapi pagi tadi seingatnya Zafia baik-baik saja.


"Ada apa denganmu, Baby?" gumam Raiden. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak sabar ingin melihat kondisi Zafia.


Setibanya di depan kediamannya, Raiden langsung masuk ke dalam begitu saja. Dia segera menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Tiba di depan kamarnya, Raiden sejenak mengatur napasnya. Dia mendorong pintu kamarnya yang setengah terbuka.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan istriku? tanya Raiden pada Ednan. Kepala pelayan Raiden itu mengangguk sesaat lalu mulai menjelaskan awal mula saat Zafia ditemukan pingsan.


"Lalu apa kata dokter?"


"Dokter bilang, Nona perlu istirahat karena sedang hamil muda. Tekanan darahnya cukup rendah."


"Hamil?"


"Iya, Tuan. Dokter mengatakan nona sedang mengandung."


"Oh, God. Kau serius?" tanya Raiden. Raut wajah cemasnya berubah menjadi raut bahagia. Setelah menjelaskan apa kata dokter. Ednan berpamitan pada Raiden. Raiden mendekat ke ranjang dan menciumi wajah Zafia bertubi-tubi. Dia sangat bahagia mendengar kabar ini.


Zafia perlahan membuka matanya. Dia menatap Raiden heran. "Ray, ada apa?"


"Oh my baby, kau membuatku khawatir. Kenapa tiba-tiba pingsan?"


"Sejak kemarin kepalaku terasa pusing dan hari ini rasanya benar-benar tidak tahan."


"Lain kali aku akan meminta sonya untuk mengurus segala keperluanmu, jika aku sedang tidak ada di rumah."


"No, kenapa harus begitu. Aku tidak mau."

__ADS_1


"Baby, kamu sedang hamil. Jadi sebaiknya kamu nurut ya?"


"A_aku kenapa, Ray?" tanya Zafia setengah tak percaya. Dia pikir ada yang salah dengan pendengarannya.


"Kau hamil, Baby. Jadi demi kebaikanmu, mulai sekarang biar aku yang mengatur segala urusanmu, Ok! Aku tidak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa."


Zafia terdiam, dia menunduk menatap perutnya yang rata. "Aku hamil?" gumamnya.


"Ya, Baby."


Zafia perlahan mengusap perutnya. "Aku hamil."


Raiden terus memandangi Zafia yang masih tak percaya dengan kondisinya sendiri. Raiden masih menerka bagaimana reaksi Zafia.


Zafia mengangkat wajahnya dan menatap Raiden dengan tatapan sayu. Wajah Zafia masih terlihat pucat. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Raiden. Dia melihat istrinya meneteskan air matanya.


"Fia, apa kamu tidak suka dengan kabar ini?"


"Mana mungkin, Ray. Aku sangat bahagia dengan kabar ini."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2