
Zafia kini melirik smartwatch di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih waktu setempat. Matanya kini kembali fokus pada sistem recovery data yang tadi sempat dia buat.
Ferran bangga mengenal Zafia. Gadis itu memang masih muda, tetapi dia sangat bisa diandalkan. Tak heran jika di usia semuda itu, gadis yang ada di hadapannya itu mampu mendirikan perusahaan sebesar ini.
"Kau tidak masuk kuliah, Fia?" tanya Bella.
"Aku sudah kesiangan. Jadi aku memilih bolos saja," jawab Zafia seperlunya. Sepertinya otaknya sedang bekerja walau tangannya tampak diam.
"Lalu bagaimana dengan data yang bocor tadi, apa sungguh sudah aman?" tanya Bella lagi, kali ini raut wajahnya terlihat oleh Raiden.
"Semoga saja mereka tidak sempat mengcopy datanya. Barusan aku sudah merubah isi data itu menjadi sebuah kode virus. Jadi ketika nanti mereka membuka kembali data yang mereka curi, maka laptop maupun komputer mereka akan rusak," tutur Zafia.
"Jika kau tidak jadi ke kampus, sebaiknya makanlah dulu," kata Raiden yang sedari tadi diam duduk di sofa.
"Aku belum lapar," jawab Zafia cepat tanpa berpikir.
"Tadi kau tidak menghabiskan pizzamu, susunya pun hanya berkurang sedikit."
"Aku beneran sedang malas makan, Ray," jawab Zafia. "Lagian aku juga sedang menunggu recovery data para klienku," kata Zafia sedikit gusar. Saat ini pikirannya benar-benar sedang kacau.
Raiden langsung terdiam, dia melihat Zafia seperti memberi kode pada dirinya untuk diam.
"Ferran, tolong kamu cek di bagian IT apakah ada masalah lainnya."
"Ok." Ferran bergegas keluar menuju lantai 3 dimana tim IT berada.
"Bella, apa bisa aku minta tolong sesuatu padamu?"
"Apa?" tanya Bella, wajahnya tampak resah. Namun, Raiden tidak melihatnya karena pria itu sibuk menatap Zafia.
"Bisakah kamu ke apartemen Miguel dan lihat apa yang dia lakukan."
"Apa kamu tidak bisa menghubunginya saja?" tanya Bella lagi. Dia sepertinya engga pergi dari ruangan Zafia.
"Kau tahu Miguel seperti apa, kan?" ujar Zafia.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Bella. Ia pun akhirnya pergi dari ruangan Zafia.
Setelah memastikan Bella pergi, Zafia menekan tombol di mejanya yang memang hanya bisa diakses memakai sidik jarinya. Dengan sekali tekan, Ruangan mendadak temaram pintu terkunci otomatis. Itu artinya Zafia sedang tidak ingin diganggu, tapi bukankah Raiden ada di dalam ruangan itu?
"Ada apa sebenarnya?" tanya Raiden. Dia tahu betul jika Zafia kini sedang resah dan tidak baik-baik saja.
"Aku merasa ada yang mulai berkhianat padaku."
"Siapa?" wajah Raiden mendadak berubah mengeras. Tatapan matanya begitu menakutkan.
"Entahlah, aku hanya mempercayakan semua kode yang aku buat pada mereka berdua. Alamat IP tadi adalah samaran. Aku berhasil memperoleh alamat IP yang asli dan itu alamat IP dari komputerku sendiri. Data itu sudah diakses, Ray." Zafia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kau tinggal sebut saja siapa? biar aku yang mengurusnya.
"Tapi mereka sahabatku, Ray."
"Sahabat sejati tidak akan mengkhianati, Fia."
"Biarkan aku berpikir dulu. Sepertinya aku perlu memanggil mereka semua. Aku tidak tahu apakah mereka berkomplot atau individu."
Zafia hanya diam sambil berpikir. Dia bisa saja melihat siapa pelakunya dari CCtv tersembunyi yang dia pasang di semua sudut tempat yang menurutnya rahasia, tapi Zafia masih merasa takut menerima kenyataan bahwa ia benar-benar sedang dicurangi oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang telah lama ia percayai.
Zafia menghela napas panjang. Dia lagi-lagi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya sudah memerah. Rasanya dia ingin menangis, tapi dia khawatir Raiden akan berbuat nekat.
Raiden berdiri dari duduknya dan mendekat ke kursi kebesaran Zafia.
"Aku tidak suka melihatmu seperti ini, Fia. Aku benar-benar akan menghabisi mereka semua," ujar Raiden dengan tatapan mata yang berubah tajam seketika. Zafia membuka tangannya, dia menengadah menatap Raiden dan lalu memeluk pinggang pria itu.
Tangan Raiden terkepal, dia benci melihat Zafia seperti ini. Raiden bisa melihat mata Zafia yang berkaca-kaca, gadis itu pastilah berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia akan memberi perhitungan pada siapapun nanti yang ketahuan mengkhianati kepercayaan Zafia.
"Buka rekaman CCTV di seluruh gedung ini," perintah Raiden tak mau ditolak. Dengan ragu Zafia mulai menyalakan salah satu CCTV dari dalam ruangannya.
***
Sementara itu, Ferran yang sudah mengetahui ruangan Zafia terkunci langsung berbalik arah menuju ruangannya. Ia mengepalkan tangannya dan dari matanya terlihat kekecewaan yang begitu dalam.
__ADS_1
Zafia sudah lama tidak pernah mengunci ruangannya. Ferran tahu apa artinya jika pintu itu terkunci. Zafia sedang tidak mau diganggu, tetapi bukankah Raiden juga ada di dalam ruangan itu. Tangan Ferran seketika terkepal erat, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.
"Ayo makan?"
"Aku sedang tidak berselera makan."
"Bagaimana jika aku memakanmu saja," kata Raiden. Zafia menengadahkan wajahnya lagi, seketika itu Raiden menyambar bibir merah muda milik Zafia.
Zafia menggenggam erat kedua sisi baju Raiden. Matanya perlahan terpejam dan dia mulai membalas ciuman pemuda itu. CCTV dari komputer Zafia masih menampilkan gambar dari ruangan itu, tapi sepertinya Raiden ingin mengalihkan perhatian Zafia. Dia tak mau Zafia semakin terluka.
Keduanya kini seakan tak menghiraukan dimana kini mereka berada. Zafia melenguh saat ciuman Raiden turun berpindah di lehernya.
"Ray."
Raiden sekilas mengurai ciumannya, ekor matanya sempat melirik ke arah komputer Zafia. Namun, saat menatap mata sayu Zafia, Raiden kembali membenamkan bibirnya di bibir Zafia. Rasanya benar-benar manis.
"Zafia, maukah kau menikah denganku?"
"Raiden, kita masih terlalu kecil untuk memasuki jenjang rumah tangga. Lagi pula aku masih ingin meraih cita-citaku."
"Aku akan membantumu meraih mimpi mu, Fia," ujar Raiden. Tangannya hampir menyusup ke baju Zafia, tetapi gadis itu menahannya.
"Jangan, Ray. Kita ini saudara."
Raiden tersenyum tipis. "Saudara?" desis Raiden.
"Kau barusan membalas ciumanku dan sekarang kau membahas masalah saudara."
"Ray, aku .... "
"Aku tidak peduli dengan hubungan yang rumit itu. Bagiku asal kau dan aku tidak sedarah itu sudah lebih dari pada cukup untuk memperjuangkanmu, Fia."
Zafia menengadah menatap Raiden, sorot matanya tampak ragu, tapi Zafia juga tidak bisa menyembunyikan binar cintanya.
"Aku mencintaimu, Zafia." Raiden kembali mengangkat dagu Zafia dan mulai mengecup bibir gadis yang dipujanya hampir 2 tahun ini. Raiden bahkan rela bersabar menunggu kepastian. Meski berulang kali dia juga menerima penolakan dari Zafia, tapi Dia akan tetap menunggu hingga Zafia siap menikah dengan dirinya. Raiden yang arogan kini menjelma menjadi Raiden yang penyabar.
__ADS_1