Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 7. Penghianat Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Raiden terdiam setelah usai berciuman dengan Zafia. Gadis itu masih menolak ajakannya untuk menikah. Mungkin dia salah strategi.


Baiklah, sekarang yang harus dia lakukan adalah membantu menyingkirkan penghianat di perusahaan Zafia. Setelah itu ia akan kembali mengutarakan keinginannya untuk menikahi Zafia. Jika perlu dia akan mendatangi kedua orang tua Zafia lagi.


"Ayo, kita makan, aku lapar," ujar Raiden kemudian, Zafia menengadah menatap Raiden. Hatinya terketuk menatap sorot mata sayur milik pemuda itu. Zafia akhirnya mengangguk setuju dengan permintaan Raiden untuk mengisi perut.


Zafia pergi meninggalkan ruangannya dia mengaktifkan mode kunci otomatis dari tablet nya.


"Mau makan apa?" tanya Raiden.


"Memangnya di sekitar sini ada restoran apa?" tanya Zafia. Dia yang memang jarang keluar dari apartemen tidak tahu di sekitar perusahaannya ada tempat makan apa. Sekalinya dia ke perusahaan juga jarang keluar dari ruangannya.


"Banyak pilihan, kau tinggal sebutkan saja mau apa."


"Pasta saja."


"Pasta, ya?" beo Raiden. Dia pun membelokkan mobilnya dan berhenti di sebuah resto yang lumayan sepi karena ini masih jam kerja.


"Ayo, turun."


Zafia mengangguk dan turun dari mobil Riaden. Wajahnya masih terlihat murung, meskipun sejak tadi ia terus berpura-pura terlihat baik-baik, tapi Raiden tahu bagaimana Zafia.


Raiden menarik sebuah kursi dan meminta Zafia duduk. Raiden juga akhirnya duduk di depan Zafia. Dia melihat buku menu dan melihat beberapa pilihan.


"Kau mau makan pasta apa?"


"Aku mau Fettucini dan Ravioli saja kalau ada."


"Ada, semua yang kamu suka ada di sini. Di sini chefnya asli dari Italia."


"Benarkah, kenapa kamu baru sekarang mengajakku kemari? Apa kau pernah kemari dengan gadis lain?" tanya Zafia.


Raiden seketika menyentil kening Zafia. Gadis itu langsung menunduk dan memegangi keningnya.


"Auh," desis Zafia. Dia menatap Raiden tajam. "Sakit tahu," protes gadis itu.


"Makanya sebelum bicara itu dikira-kira."


Raiden memanggil pelayan dan mulai menyebutkan pesanannya. Setelah pelayan pergi, Raiden meraih tangan Zafia. Senyumnya mengembang dan hanya Zafia itulah, satu-satunya gadis yang bisa membuat Raiden bertingkah seperti itu.

__ADS_1


"Jangan merusak pikiranmu dengan pikiran buruk tentangku. Sampai kapan pun hanya kau yang ada di hati dan pikiranku."


Wajah Zafia merona, Raiden memang paling bisa membuat moodnya membaik. Pesanan keduanya akhirnya tiba. Zafia tampak sangat senang melihat hidangan yang tersaji di depannya. Dia meraih piring Raviolinya. Air liur gadis itu hampir-hampir menetes. Zafia menyalakan ponselnya dan mengambil gambar Ravioli miliknya.


"Ini sepertinya sangat enak," ujar Zafia bersemangat. Raiden tersenyum tipis karena perlahan mood Zafia membaik.


"Jika begitu makanlah yang banyak," ujar Raiden sembari mengusap puncak kepala Zafia.


Segala perlakuan manis Raiden tentu saja membuat Zafia senang. Raiden pun kini makan dengan tenang. Dia sesekali melirik Zafia yang tampak memejamkan matanya saat mencicipi Ravioli di depannya.


Saat keduanya sedang makan, Zafia melihat Bella baru keluar dari mobilnya dia bersalaman dengan seorang pria di depan kafe seberang tempatnya makan. Raiden ikut menoleh menatap ke arah pandang Zafia. Raiden mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di ponselnya. Tak lama Raiden kembali menyimpan ponselnya.


Raiden tersenyum tipis sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan makannya. Lain halnya dengan Zafia. Gadis itu kini justru tertegun menatap keluar jendela.


"Habiskan makananmu, Aku sudah meminta Ramon untuk mengikuti Bella. Jangan terlalu dipikirkan. Jika dia benar-benar menghianatimu, aku sendiri yang akan menghukumnya."


Zafia hanya menunduk dan mengaduk Ravioli yang baru berkurang setengahnya. Selera makannya menguap. Tadi di meminta Bella menemui Miguel di apartemen Miguel, tapi kenapa Bella malah justru bertemu seseorang yang Zafia tidak ketahui siapa.


"Jika kau tidak menghabiskan pesananmu, aku akan membawamu menikah malam ini juga," ujar Raiden pada Zafia. Gadis itu pun seketika langsung menyendok makanannya, dia benci ancaman Raiden itu. Jujur Zafia belum ada niatan untuk menikah.


Bella keluar dari kafe seberang. Dari gerak geriknya Bella menoleh ke kiri dan ke kanan semakin membuat Zafia semakin murung. Zafia seketika berdiri, tapi Raiden berhasil menahan tangan Zafia.


"Biar Ramon yang bekerja. Kau cukup mendengar semua laporannya nanti. Sekarang habiskan makananmu atau kau memang memilih pilihan kedua. Zafia menggerucutkan bibirnya. Raiden tersenyum puas.


"Ayo, aku antar pulang. Setelah ini aku harus ke perusahaan."


"Aku ikut, aku tidak mau di apartemen sendirian."


"Baiklah, ayo."


Setelah membayar pesanannya, Raiden membawa Zafia ke perusahaan milik papinya yang kini juga harus dia urus.


Semua karyawan yang ada di lantai satu menunduk hormat pada Raiden dan Zafia. Raiden menggandeng tangan Zafia dengan erat seolah takut jika terlepas.


Raiden dan Zafia naik ke lantai 5. Setibanya di lantai itu, Raiden di sapa oleh seorang sekertaris yang penampilannya sangat seksi menurut Zafia.


Sekertaris itu tersenyum hangat pada Raiden dan juga Zafia. Tiba-tiba saja Zafia merasa kesal. Begitu masuk di ruangan Raiden, Zafia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di sudut ruangan itu.


"Apa kamu capek?" tanya Raiden.

__ADS_1


"Apa sekertaris itu harus berpenampilan se-seksi itu?" tanya Zafia balik tanpa ada niatan menjawab pertanyaan Raiden.


"Hah? maksudnya?"


"Itu tadi, apa dia harus berpenampilan seksi seperti itu?" tanya Zafia. Raiden merapatkan bibirnya menahan senyum, jangan bilang gadis itu kini sedang cemburu. Jika benar, maka dia akan sangat senang.


"Kau cemburu?"


"Tidak, hanya saja aku risih melihatnya."


"Aku tidak setiap hari ada di sini. Lagi pula seleraku adalah kamu, jadi kamu tidak usah berpikiran yang macam-macam."


"Siapa juga yang begitu?"


"Kenapa masih malu-malu mengakui," Cecar Raiden sembari mengulum senyum. Dia membuka berkas yang ada di hadapannya sambil sesekali melirik reaksi Zafia. Gadis itu kini malah mengerucutkan bibir menggemaskan."


Entah sampai jam berapa Raiden menyelesaikan pekerjaannya, Zafia tertidur selesai berdebat dengan Raiden tadi dan Raiden memindahkan Zafia kedalam kamar pribadi yang ada di perusahaannya.


Ramon telah kembali dari misinya. Dia tampak berjalan dengan cepat menuju ruangan Raiden. Ramon mengetuk pintu sesaat. Terdengar suara Raiden mempersilahkan Ramon masuk.


"Bagaimana?" tanya Raiden begitu Ramon ada di hadapannya.


"Dugaan anda benar, Bos. Dia adalah penghianat. Aku melihat dia menyerahkan sebuah amplop pada pria tadi yang dia temui, Ini hasil rekaman pembicaraan wanita itu.


" *Bagaimana kau dapatkan copyannya?"


"Tentu tuan Gustaf."


"Hahahaha, selain cantik kau juga cerdas."


"Tentu saja, Tuan. Lain kali kau boleh meminta bantuan apapun padaku. Dia sangat mempercayaiku."


"Tapi kenapa kau mau menghianatinya?"


"Karena aku benci dengannya. Dia selalu mendapat perhatian dan cinta, tapi ia selalu bersikap seolah tak peduli. Dia terlalu sombong. Banyak klien yang hanya ingin bertemu dan mengajaknya makan malam, tapi dia selalu jual mahal seolah dirinya paling suci*."


Mendengar rekaman itu, hati Raiden seketika memanas. Beraninya wanita itu menghina gadisnya. Sementara itu tanpa Raiden tahu, Zafia rupanya sudah menguping rekaman Video itu. Hatinya mendadak kelu. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir membasahi pipinya.


"Kau menangis?" tiba-tiba suara Raiden mengejutkan Zafia. Zafia mengusap air matanya. Dia menggeleng lemah.

__ADS_1


"Apa kau mendengar rekaman tadi?"


Zafia akhirnya mengangguk, dia menutup wajahnya dan terisak. Tak pernah terbayangkan sebelumnya dia akan dihianati sahabatnya sendiri.


__ADS_2