Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 17. Amplop Coklat


__ADS_3

"Ma-maaf mengganggu. Aku mau bertemu Zafia. ada Hal penting yang ingin aku katakan padanya."


Raiden hanya diam. Namun, Zafia tiba-tiba muncul dibalik pintu.


"Masuklah."


"Ada apa Louis?"


"Ehm, orang tua Bella mencari Bella ke perusahaan. Sesaat Louis melirik Raiden dengan takut-takut. ia takut akan bernasib sama dengan Bella jika berani menyinggung pria di sampingnya itu.


Mendengar ucapan Louis tentang orang tua Bella. Zafia melirik Raiden. Akan tetapi, Raiden malah justru melenggang pergi.


"Fia, kekasihmu menakutkan sekali. Baru ditatap seperti itu saja kakiku lemas begini."


"Memang orang tua Bella bilang apa?"


"Mereka hanya menanyakan, apakah Bella mendapat tugas di luar negeri? kenapa ponselnya susah dihubungi dan kenapa tidak ada kabar sama sekali.


Dari kami berempat hanya Ferran yang mau menjawab pertanyaan orang tua Bella. Dia bilang kalau Bella memang sedang ditugaskan oleh dirimu ke Milan."


"Ok, tidak apa-apa nanti aku akan bicara pada Raiden," kata Zafia sembari tersenyum tipis. Louis langsung pulang. Setelah Louis pergi, Raiden keluar dari kamarnya.


"Jika kau berharap aku akan melepaskan wanita itu, kau salah besar," kata Raiden. Pria itu membuka laptopnya dan membuka berkas yang tadi dia bawa.


"Ray, please."


"Tidak. Sekali tidak tetap tidak. Kau boleh membenciku, tapi semua aku lakukan demi menjaga keselamatanmu."


Raiden masih sibuk dengan laptopnya. Sedang Zafia berpikir keras, bagaimana caranya agar Raiden mau menuruti keinginannya. Zafia hanya merasa kasihan pada orang tua Bella.


Mengingat orangtua Bella membuat Zafia ingin menghubungi mamanya. Dia meraih ponselnya dan mencari nomor mamanya.


Beberapa saat menunggu, panggilan video call Zafia akhirnya diangkat oleh mamanya. Bibir Zafia seketika melengkungkan senyuman.


"Halo, Mah. Mama bagaimana kabarnya?"


("Mama baik-baik saja, Sayang. Bagaimana denganmu?")


"Aku juga baik, Mah."


("Fia kata papa kamu sudah menerima lamaran Raiden? tadi papa mengumpulkan semua keluarga untuk membahas hal ini.")


Zafia menggigit bibir bawahnya, dia lantas bangkit dari posisinya dan hendak masuk ke kamar, tapi langkah kakinya dihentikan oleh Raiden.


"Di sini saja," ucap Raiden tanpa suara. Zafia dengan ragu akhirnya duduk lagi.


"I-iya, Mah."


("Apa kamu sudah pikirkan masak-masak mengenai hal ini. Pernikahan itu untuk selamanya. Mama takut kamu salah memilih pasangan.")

__ADS_1


Zafia melirik Raiden, tapi pria itu diam dan tetap tenang menatap layar laptopnya.


"Raiden baik kok sama aku, dia jagain aku banget, Mah. Mama tenang saja."


("Papa kamu juga bilang begitu, tapi kan ... ")


("Sayang, jangan mengatakan apa-apa mengenai Raiden. Yang tahu bagaimana Raiden itu ya, Fia. Kamu jangan karena bapaknya buaya terus anaknya juga kamu kira sama kaya pendahulunya," suara Gerry menimpali ucapan istrinya, tapi wajah pria berkharisma itu tak nampak.)


Zafia melipat bibirnya dalam-dalam. Tawanya hampir menyembur saat mendengar suara papanya. Raiden mendengus. Dia bisa dengan jelas mendengar apa yang baru saja disampaikan calon ibu mertuanya yang mana merupakan istri pertama papanya. Hubungan mereka begitu rumit, tapi soal hati memang tidak bisa dipaksakan. Dia terlanjur mencintai Zafia. Bahkan sepertinya cintanya untuk Zafia sudah mengakar begitu dalam di hatinya.


("Aku hanya ingin mengingatkan Fia, Mas. Biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," sanggah Dian.)


("Siapa bilang? jika buahnya jatuh di sungai dan terbawa arus, sudah pasti buah itu akan jauh dari pohonnya," sahut Gerry. Zafia tertawa mendengar orangtuanya justru berdebat soal Raiden. Sementara si obyek pembicaraan kedua orangtuanya kini memasang wajah masam.)


Zafia mengusap baju Raiden. Pria itu menangkap tangan Zafia dan mengecupnya.


"Kenapa papa dan mama malah berdebat. Aku senang mama dan papa sehat. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Kapan-kapan lagi aku akan menghubungi mama."


("Ya, Sayang. Hati-hati menjaga diri di sana.")


"Tentu, Mah."


Setelah sambungan telepon Zafia terputus, Raiden mendengus kesal.


"Sepertinya bukan keluargaku yang tidak memberikan restu, tapi keluargamu," ujar Raiden. Zafia hanya meringis saat mendengar ucapan pria itu


"Maafin mama, ya. Mungkin mama masih trauma dengan papimu."


"Hahaha, papaku memang pria terbaik."


Sejenak keduanya melupakan pembicaraan tentang Bella. Zafia tidak mau memburu Raiden soal melepaskan Bella karena dia juga paham, apa yang telah Bella lakukan adalah kesalahan besar.


"Ray, aku lapar."


"Mau makan apa?"


"Bagaimana kalau kau masak?" kata Zafia.


"Kau mau makan apa?"


"Nasi goreng."


"Kita tidak punya nasi, Sayang. kita beli saja di restoran Indonesia."


"Rasanya tidak enak."


"Lalu bagaimana?" tanya Raiden.


"Pesan pasta saja," jawab Zafia.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Raiden. Pria itu seketika mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya. Raiden malas jika memesan lewat layanan online.


Satu jam kemudian pesanan Raiden datang. Marco menjinjing pesanan Raiden sembari membawa sebuah amplop coklat.


"Bos, ada paket. No name, tapi ditujukan untuk nona Fia."


"Berikan padaku." Raiden langsung memasukkan amplop itu ke dalam bajunya. Jangan sampai Zafia melihatnya. Dia khawatir isinya akan mempengaruhi kesehatan Zafia lagi.


"Apa sebaiknya saya bawa saja dulu, Bos."


Raiden menatap Marco sesaat sebelum akhirnya mengangguk dan menyerahkan kembali amplop itu pada Marco.


"Baiklah, tolong simpan ini untukku. Nanti setelah ini aku akan melihat apa isinya."


Raiden masuk ke dalam apartemen dan lalu meletakkan pesanan pasta Zafia di atas meja.


"Ini pastanya, Segeralah makan."


"Hmm, ya."


Zafia membuka satu persatu box makanannya. Matanya langsung berbinar saat melihat beberapa pasta yang berbeda-beda.


"Aku minta Marco membeli semua menu agar kamu bisa mencicipinya."


"Kamu memang yang terbaik, Ray."


"Tentu saja, Sweetie."


Zafia makan dengan ditemani Raiden yang sibuk dengan laptopnya. Ia memeriksa satu per satu pekerjaan Zafia tadi.


Merasa tak mungkin menghabiskan semua makanan itu sendirian, Zafia menyuapi Raiden sesekali."


"Enak, kan?" tanya Zafia. Raiden hanya mengangguk-angguk tanpa bersuara.


Zafia hanya mampu menghabiskan 3 jenis pasta, sementara masih ada 8 box pasta lagi yang tersisa. Raiden membawa 8 box itu untuk dimasukkan ke dalam kulkas.


Zafia memperhatikan semua yang Raiden lakukan. Entah mimpi apa dia dulu bisa mendapatkan pria sebaik dan sebucin Raiden.


"Apa sudah mulai terpesona denganku?" tanya Raiden. Zafia menganggukkan kepalanya.


"Kau memang selalu mempesona," ujar Zafia.


Raiden tersenyum dan lalu mengecup bibir Zafia sekilas. Zafia memejamkan mata saat mendapat kecupan dari Raiden.


"Aku harus pergi sebentar. Jangan bukakan pintu untuk siapapun, terutama orang asing."


"Tentu saja."


Zafia mengangguk. Raiden kembali membenamkan bibirnya di bibir tipis Zafia. Setelah itu, Raiden segera keluar dari apartemen. Ia penasaran dengan isi amplop coklat yang dibawa Marco tadi.

__ADS_1


Setelah Raiden keluar dari apartemen, Zafia bersandar di sofa dan memegangi dadanya yang berdebar tak karuan.


"Ah, bisa diabetes aku lama-lama kalau diperlakukan semanis ini setiap hari," gumam Zafia.


__ADS_2