Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 29. Memakan atau Dimakan?


__ADS_3

Di kamar luas nan eksotik, Zafia sedang duduk membaca satu per satu pekerjaannya. Dia merasa puas dan bangga dengan pencapaian yang diperoleh kakak sepupunya Dino dalam waktu singkat.


"Kau sedang berkirim pesan dengan siapa? kenapa kamu senyum-senyum terus sejak tadi?" tanya Raiden mendekati Zafia. Kali ini pemuda itu bertindak lebih berani dengan tidak memakai baju bhanya memakai ****** ***** yang membungkus ketat inti tubuhnya.


"Aku hanya sedang membaca agenda."


"Oh, ya?"


"Ray, berhenti mondar-mandir dan segera pakai bajumu!"


"It's honeymoon, Fia."


"So what?"


"Don't you wanna try?" (tidakkah kamu ingin mencobanya?)


Wajah Zafia sudah semerah kepiting rebus. Raiden tersenyum dan duduk di samping Zafia.


"Ayo, kita coba apa itu honeymoon?"


"Apa ini tidak terlalu cepat?"


"Kau mau memakan atau dimakan?"


"Tapi ini terlalu cepat, Ray."

__ADS_1


"Di Amerika anak baru masuk SMA sudah melakukannya. Kau mahasiswi tingkat akhir dan masih bertanya terlalu cepat?"


"Oh, ayolah, Ray. Aku gugup sekali."


"Fia, kita ini pasangan sah. Apa yang kau takutkan? Kalau kau hamil, aku akan bertanggungjawab."


Zafia terbahak mendengar ucapan Raiden yang terakhir. Tentu saja dia akan meminta pertanggungjawaban Raiden jika dirinya benar-benar hamil.


"Kau berani menertawakanku?" tanya Raiden. Tak lama dirinya sudah menghimpit tubuh Zafia. Raiden menyingkirkan tablet kesayangan Zafia dan meletakkannya di atas nakas.


"Ray," panggil Zafia dengan suara bergetar. Raiden sesaat mengangkat wajahnya dan menatap Zafia teduh.


"Apa?"


Kini giliran Raiden yang tertawa. Namun, pria itu menyembunyikan tawanya di ceruk leher Zafia. Hingga Zafia meremang.


"Ouh, kau benar-benar membuat bulu kuduk ku merinding, Ray."


Raiden menghis*p leher Zafia dan membuat gadis itu mengerang. Zafia berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh Raiden. Namun, usahanya sia-sia. Raiden lebih tangguh darinya. Bahkan tubuhnya bergeming ketika Zafia mendorongnya.


"Raay, aah, geli."


Zafia tak kuasa untuk tak bersuara saat suaminya mulai beraksi. Semua yang melekat di tubuhnya kini telah berpindah tepat. Zafia hanya bisa pasrah dan meringis menahan sakit yang teramat sangat di bagian inti tubuhnya. Dia benar-benar tidak di beri kesempatan untuk melawan.


Memakan atau dimakan rupanya bukan sebuah pilihan untuk Zafia, melainkan hal yang harus Zafia terima dan lakukan disatu waktu. Dalam sekejap kedua pasangan itu telah berhasil mereguk manisnya madu pernikahan.

__ADS_1


Zafia dan Raiden terlelap masih dalam keadaan polos. Keduanya sama-sama kelelahan. Bahkan ketika pagi menjelang, Baik Zafia maupun Raiden belum ada yang bangun.


Tepat pukul 9 pagi, Zafia membuka mata, yang pertama dia lihat adalah wajah tampan suaminya. Zafia benar-benar terpesona pada Raiden. Tangannya terulur untuk menyentuh alis dan bulu mata Raiden yang lentik.


Raiden mencekal tangan Zafia dengan lembut dan lalu menciumnya. Perbuatan Raiden yang sederhana itu mampu membuat hati Zafia menghangat.


"Ray, katanya mau mengajakku kenoantaijR


Jk


"Nanti sore aja gimana?"


"Lalu apa yang kita lakukan sekarang?"


"Kita ulangi pelajaran semalam. Agar kau tidak perlu belajar lagi saat praktek."


Zafia mencibir. Suaminya ternyata pria yang mesum.


"Tapi aku lapar, Ray. Kita melewatkan sarapan hari ini."


"Baiklah, kalau begitu ayo kita mandi lalu makan."


"Tapi gendong aku. Kakiku lemas seperti tak ada tenaga."


"Baiklah, nona manja,"

__ADS_1


__ADS_2