Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 36. Rahasia Berdua


__ADS_3

"Ray, apa dia orang jahat?"


"Tentu saja. Dia sudah menodongkan senjata padaku, tentu dia orang jahat."


"Tapi kenapa dia bilang jika kamu membuat adiknya bunuh diri?"


"Adiknya mati karena dibunuh sahabatnya sendiri. Dan dia menjadikan aku kambing hitam."


"Berati pria tadi hanya korban adu domba saja?"


"Ya, tapi dia seharusnya bisa berpikir lebih jernih atau kalau tidak setidaknya dia harus mencari bukti terlebih dahulu sebelum menuduhku yang bukan-bukan. Aku menganggapnya orang jahat karena dia sudah melukai anak buahku."


"Ray, bagaimana perasaanmu saat menghabisi seseorang?"


Raiden tersenyum dan mengusap puncak kepala istrinya. "Aku biasa saja. Karena aku juga tidak sembarangan menghabisi nyawa orang. Aku menghabisi mereka yang sudah menyakiti keluargaku dan orang-orang yang sudah berani mencurangi aku."


"Mencurangi? seperti apa?"


"Korupsi, penghianat dan sebagainya."


"Bagaimana jika aku mencurangimu juga? apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan habisi pria yang berani menyambutmu."

__ADS_1


Zafia terkekeh. Dia memeluk leher Raiden dengan erat. "Mana mungkin aku curang, kau adalah segalanya. Kau pria pertama untukku dalam semua hal."


"Kau juga adalah wanita pertama dalam semua hal dan yang mampu membuat seorang Raiden khawatir setengah mati."


"Apa kau sudah tidak ketakutan lagi?" tanya Raiden menatap lembut wajah istrinya.


"Tidak. Jika dia memang orang jahat, berati dia memang pantas untuk mati."


"Lalu kenapa kau menangis tadi?"


"Aku takut orang tuaku tahu dan mereka akan kecewa padaku."


"Maka ini akan menjadi rahasia kita berdua sampai kita mati," bisik Raiden sembari mengendus ceruk leher Zafia.


Raiden menghisap leher Zafia hingga wanita itu merintih kecil. Tangannya semakin kuat menekan kepala belakang Raiden agar semakin dalam menghisap lehernya. Raiden sedang mencoba mengalihkan pikiran Zafia. Kini keduanya semakin berhasrat untuk menuntaskan apa yang sudah Raiden mulai. Raiden mulai membantu Zafia menanggalkan semua yang menempel di tubuhnya dan begitu juga sebaliknya. Keduanya mulai memacu dan berpadu dalam gerakan yang sangat er*tis.


Zafia terlelap setelah lelah dihajar habis-habisan oleh Raiden. Stamina pemuda itu seperti tidak ada habisnya. Raiden menatap wajah Zafia lembut dan lalu kembali menyematkan ciuman mesra di bibir sang istri. Raiden bangun dan masuk ke kamar mandi. Dia harus melihat kondisi anak buahnya yang tadi sempat terkena serangan penyusup tadi.


Raiden keluar dari ruang rahasianya, dia segera turun dan memastikan sendiri bagaimana anak buahnya sekarang. Setelah itu dia akan mengutus beberapa orang untuk mencari si pengadu domba itu. Dia otak dari segala kekacauan ini. Dan dia yakin si pengadu domba itu bukan orang sembarangan karena penyusup tadi bisa menemukan markasnya. Raiden yakin jika si pengadu domba itu yang memberi tahu mengenai tempat ini.


***


Sementara itu, Di ruang tempat Bella di sekap. Wajah Bella pucat pasi saat mendengar suara ledakan. Julian meninggalkannya. Dia sendirian di sana dengan perasaan takut yang teramat sangat.

__ADS_1


Julian kembali menemui Bella setelah membereskan mayat penyusup tadi. Saat dia membuka pintu, Bella langsung memeluk Julian.


"Ku pikir kau meninggalkanku, Julian."


"Tidak akan. Aku hanya sedang memastikan keamanan saja. Tadi ada penyusup masuk ke ruangan Tuan Raiden dan kebetulan nona sedang berada di sana. Beruntung penyusup itu bisa langsung dilumpuhkan."


"Siapa yang melumpuhkanny apakah Raiden? Apa Raiden biasa membunuh?" tanya Bella dengan bulu kuduk yang merinding. Julian mengurai pelukan Bella dan tersenyum tipis.


"Itu rahasia. Yang jelas kau termasuk salah satu yang beruntung karena tidak dihabisi."


"Julian, kapan aku bisa keluar dari tempat ini? aku rindu orang tuaku."


"Kau akan segera keluar. Aku sedang mengupayakannya. Aku harap kau benar-benar berubah dan menepati janjimu. Karena jika tidak aku benar-benar harus menghabisimu."


"Apa kau tega?"


"Tentu, Karena bagiku loyalitas harga mati. Kami laki-laki sejati pantang ingkar janji."


"Julian."


"Hmm."


"I love you." Bella kembali memeluk Julian. Mafia baik yang tidak sengaja ia jumpai. Dia berjanji dalam hari akan selalu menurut apa kata Julian.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2