
Raiden kini sedang mengumpulkan orang-orangnya. Karena akhir-akhir ini markasnya sering mendapat serangan. Raiden meminta pada semua anggotanya untuk berjaga lebih ketat lagi.
Dia meminta beberapa orang untuk meningkatkan pengawasan di perbatasan dari arah kota Massachusetts. Karena letaknya Markas mereka berada di tepian hutan.
Raiden masuk ke ruang kesehatan. Ruangan itu di bangun karena memang keseharian mereka seperti sedang berjudi dengan nyawa. Jadi tempat itu sangat di perlukan.
"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Raiden pada salah satu dokter yang menangani ke 6 anak buahnya yang terluka.
"5 orang Luka bakar ringan, tapi Erdogan terkena sabetan pisau dan mendapatkan 7 jahitan."
"Aku akan cari orang itu, orang yang telah mengadu domba penyusup tadi, gara-gara orang itu istriku bersedih tadi."
Dokter itu mengangguk meski sebenarnya dia kurang paham dengan apa yang terjadi. Dia hanya tahu markas sedang diserang, tapi dia tidak tahu apa yang terjadi.
Ponsel Raiden berdering. Dia segera mengangkat panggilan dari papinya.
"Ya, Dad."
"Apa yang terjadi di Markas?"
"Hanya seorang pengacau."
"Kau membawa Zafia ke markas dan tiba-tiba ada pengacau? apa kau yakin itu hanya kebetulan saja?"
"Maksudmu ada yang sengaja menyerangku?"
"Ya, begitulah. Berhati-hatilah. Nama baik keluarga kita bergantung pada bagaimana kau memperlakukan Zafia."
__ADS_1
"Kau berlebihan, Dad."
"Tapi aku serius, Son. Waspadalah. Orang itu mengincar istrimu."
"Dari mana daddy tahu?"
"Hei, daddy juga pernah muda."
"Baiklah, aku akan menjaga Zafia."
Raiden memijat pelipisnya, ternyata masalah ini tidak sesimpel yang dia kira. Raiden merasa perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Setelah dari ruang kesehatan, Raiden memutuskan kembali ke kamar. Dia kembali masuk ke ruang rahasia. Zafia masih meringkuk di balik selimut, Raiden mendekati Zafia dan duduk di tepian ranjang itu.
"Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku." Raiden mengusap wajah Zafia dan mengecupnya dengan lembut.
Tidak akan dia biarkan satu orang pun menyakiti istrinya. Jika sampai dia tahu ada yang ingin merusak kebahagiaan Zafia, maka mereka akan menerima akibatnya.
"Aku sedang memeriksa kondisi anak buahku tadi."
"Kapan kita pulang, Ray? aku sudah lapar."
"Oh, aku hampir lupa kau belum makan."
"Mandilah, setelah ini kita pulang. Aku akan memesan pada kepala pelayan untuk membuat makanan kesukaanmu."
"Oh, benarkah?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja." Zafia bangkit dan langsung ke kamar mandi. Raiden tersenyum melihat istrinya berjalan tanpa busana masuk ke kamar mandi.
Usai memakai pakaiannya, Zafia dan Raiden akhirnya pergi meninggalkan markas King Devil. Selama dalam perjalanan Zafia tidak banyak bicara. Dia hanya sedang terus memperhatikan ponselnya sejak tadi.
"Apa ponsel itu lebih menawan dariku?"
"Oh, Rey. Apa kau cemburu pada ponsel?"
"Tentu saja. Kau sejak tadi terus memandangi ponselmu dan tidak acuh padaku."
"Pekerjaanku semua ada di ponsel ini, tapi percayalah cintaku hanya untukmu seorang, Ray."
"Kau mulai pandai berkata-kata manis."
"Tentu saja. Kau kan guruku."
Zafia dan Raiden terkekeh. Tak terasa mobil mereka telah tiba di rumah Raiden. Raiden tersenyum saat Zafia buru-buru keluar dari mobil tanpa menunggunya membukakan pintu.
"Ayo Ray, cacing di perutku sudah berdemo."
"Dasar, selalu tidak sabaran."
Raiden mengacak rambut istrinya. Keduanya masuk ke dalam rumah dan langsung bergegas menuju ruang makan.
"Wah, ini pasti enak." Zafia menyomot kentang dan memakannya.
"Baby, Wash your hand."
__ADS_1
"Hihihi, sorry Ray."
...****************...