Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 48. Enrique Ardan Al Fares


__ADS_3

Zafia tersenyum memandangi putra pertamanya. Kulitnya putih, hidung mancung, pipinya merah bulat dan rambut hitam lebat.


Bayi itu baru saja selesai menyusu. Zafia dibantu Dian dalam proses menyusui tadi, karena Zafia merasa canggung harus menyusui di depan keluarganya. Meski itu hanya ada Raiden, Mama Dian, Amanda dan si kecil Prince.


"Dia tampan sekali, Sayang."


"Ya, dia adalah bayi tertampan yang pernah aku lihat dan beruntungnya lagi, bayi ini terlahir dari rahimku."


"Kamu benar-benar beruntung, Sayang."


Zafia tersenyum lembut. Dia mengusap pipi bayinya dengan sangat hati-hati.


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?"


"Aku sudah menyiapkannya, Mah. Karena ini anak laki-laki jadi ini saatnya aku yang memilihkan nama," kata Zafia.


"Siapa namanya?" tanya mama Dian yang memang tidak tahu siapa nama bayi Zafia itu.


"Namanya Enrique Ardan Al Fares. Meski sedikit aneh, tapi aku mau ada penggabungan dua nama keluarga kita. Biar orang-orang nantinya tahu jika pendahulunya adalah orang yang hebat di masanya."


"Oh, Sayang. Kau manis sekali." Dian menyeka sudut matanya karena terharu.


"Kapan papa akan ke sini, Mah?" tanya Zafia.


"Mungkin sebentar lagi."


Ruangan Zafia adalah ruangan terbaik di rumah sakit itu. Dia sekarang hanya ditemani oleh Raiden, Mamanya dan juga kedua anak Zafrina. Rencananya Zafrina dan Zicco akan menyusul ke rumah sakit bersama mama Velia dan papa Rian. Sedang Papa Gerry sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.


*

__ADS_1


*


*


Menjelang malam ruangan Zafia yang semula sepi kini riuh dengan suara keluarganya yang sedang berkumpul.


"King, aku jadi ingin memiliki bayi lagi," kata Zafrina sembari menggendong Enrique.


"Aku selalu siap sedia untuk membuahimu, Sayang."


"KAKAK!!" Pekik Zafia kesal mendengar kemesuman kedua pasangan itu.


"Kenapa? Kau bukan anak perawan lagi, Fia. Kau sudah menjadi seorang wanita sekaligus seorang ibu. Pembahasan ini wajar 'kan?" kata Zicco dengan wajah menyebalkan.


"Tapi kalian harus menyaring ucapan kalian, Kak. Kalian seperti tidak menghormati para orang tua yang ada di sini."


"Terserah kalian." Zafia membuang wajahnya kesal. Dian dan yang lainnya yang ada di ruangan itu hanya tertawa. Sedangkan Zafa memilih cuek sembari berbaring dan kepalanya ada di pangkuan Dian sekarang.


"Kau tidak mau menikah juga, Kak?" tanya Zafrina pada Zafa.


"Aku tidak mau memperumit hidupku. Aku nyaman seperti ini."


"Oh ayolah, tidak semua wanita buruk."


"Aku tidak terburu-buru untuk menikah. Aku sangat menikmati hidupku saat ini."


Dian hanya tersenyum tipis sembari mengusap rambut Zafa. Zafrina menggelengkan kepala melihat tingkah manja Zafa pada ibunya.


"Jika ada gadis yang melihatmu begitu, mereka akan mengira kau anak mami."

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan penilaian orang terhadapku, Inna." Zafa tetap cuek sembari memainkan ponselnya.


"Kau akan jadi perjaka tua." Zafrina masih terus mengejek kakaknya.


"Kalian ini bertengkar terus seperti anak kecil saja," kata Dian, "Sebaiknya kalian pulang. Kasihan prince dan Amanda. Sejak siang ada di sini."


"Ck, mama selalu saja membela kakak." Meskipun dengan mengomel tetapi Zafrina tetap mengambil Prince dari gendongan mama Velia, sementara Zicco mengangkat Amanda yang tidur di ranjang untuk penunggu.


"Kami pulang dulu." Pamit Zafrina pada semuanya.


Setelah Zafrina pergi, Dian kini menatap putra pertamanya dengan serius.


"Zafa, apa kau benar tidak mau menikah?"


"Aku masih tidak berminat, Mah. Jangan memaksaku."


"Mama tidak akan memaksa karena usiamu saat ini masih muda. Tapi kau harus ingat, jika sampai usiamu 30 tahun kau belum menemukan gadis yang cocok denganmu. Mama yang akan menncarikan jodoh untukmu."


"Terserah mama saja."


...End...


...Solo, 19 Januari 2023...


...****************...


Dengan ini aku menyatakan karya ini tamat,


Nanti akan ada Extra part sekaligus spill rumah baru Zafa.

__ADS_1


__ADS_2