Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 38. Karena Aku Cantik


__ADS_3

Hari-hari Zafia kembali seperti semula. Sonya dan Marco tetap menjadi bodyguardnya dan mengikuti kemana pun Zafia pergi.


Kali ini Zafia pergi ke kampus untuk mengurus beberapa keperluan sebelum wisudanya nanti. Dia sudah dinyatakan lulus skripsi 5 hari yang lalu. Zafia sudah menghubungi keluarganya, tapi sayang papanya bilang jika mereka tidak bisa datang karena kondisi nenek Arimbi sedang memburuk.


Meski sempat merasa sedih. Namun, Zafia tidak sekalipun menunjukkan kesedihannya. Dia selalu terlihat seperti biasanya, ceria di depan semua orang.


"Nona, bukankah itu Miguel?" Sonya menatap jauh, dia melihat teman Zafia sedang mengawasi Zafia dari balik pohon. Zafia menoleh, tapi dirinya tidak mendapati siapapun.


"Dimana?"


"Orangnya bersembunyi, Nona."


"Oh, Sial. Aku benci memiliki teman sekarang. Ku pikir hanya 1 penghianat, tapi ternyata aku memelihara banyak penghianat," gerutu Zafia.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Tetap tenang, Nona. Saya yakin para penghianat itu ada pemimpinnya."


"Maksudmu ada orang lain yang juga membenciku?"

__ADS_1


"Setiap orang yang sukses pasti selalu memiliki musuh," jawab Sonya.


"Jika begitu ayo pulang," ajak Zafia. Sejenak Zafia menoleh ke arah Marco. "Sebelum pergi minta beberapa orang untuk mengikuti kita. Aku khawatir mereka merencanakan sesuatu padaku."


"Baik, Nona."


Zafia dan Sonya menunggu sesaat sebelum 2 iring-iringan mobil mendekat ke arah mereka. Setelah Marco memberi instruksi, Mobil mereka perlahan meninggalkan area universitas.


Dalam perjalanan, Raiden yang mendapat laporan dari Marco langsung menghubungi istrinya. Raiden merasa khawatir dengan kondisi Zafia.


"Ada apa menghubungiku, Ray?"


"Ya, maklumi saja. Istrimu ini cantik dan menggemaskan jadi wajar selalu diikuti."


(Aku sedang mencemaskan dirimu dan sempat-sempatnya kau bercanda seperti itu.)


Zafia terkekek. Dia senang jika Raiden uring-uringan padanya. "Tidak perlu khawatir, Ray. Aku masih bisa mengatasinya. Aku tidak akan lemah. Aku akan buktikan aku bukan Zafia yang dulu lagi."


(Baiklah, tapi tetap waspada dan berhati-hatilah. Sebentar lagi aku masih harus mengikuti rapat. Ku harap kau bisa segera sampai di sini.)

__ADS_1


"Tentu saja. Tunggu kedatanganku."


Setelah keduanya mengakhiri pembicaraannya, Zafia menghela napas panjang. Dia semakin merasa sedih karena ulah teman-temannya membuat Raiden sekarang sering mencemaskan dirinya.


"Aku kasihan pada suamiku. Dia sekarang jadi mudah sekali cemas," ujar Zafia pada Sonya.


"Itu karena anda sangat berharga untuk tuan muda," jawab bodyguard cantik itu.


"Tapi aku sedih jika membuat dia sampai terganggu kerjanya hanya karena cemas dengan keadaanku."


"Anda harus percaya pada Tuan Muda. Dia pasti bisa mengatasi masalah ini."


Zafia mengangguk. Ya, dia percaya pada suaminya. Hanya saja, entah mengapa rasanya dia belum bisa tenang.


Setibanya di perusahaan milik suaminya, Zafia langsung turun dan masuk ke dalam lift. Sesaat tadi dia sempat melirik ke belakang. Entah mengapa semakin hari dia merasa jika dirinya selalu diawasi hingga membuat dirinya merasa tak nyaman.


Zafia memasuki ruangan suaminya. Dia duduk bersandar di sofa dan lalu memejamkan matanya. Sungguh hari yang sangat melelahkan. Zafia terlelap begitu saja. Dia tak menyadari sejak tadi ada sepasang mata yang sedang menatap kearahnya dengan tatapan memuja.


"Semakin aku melihatmu, aku semakin jatuh terperosok semakin dalam pada pesonamu. Mungkin bagi orang lain kau adalah gadis lemah dan manja. Akan tetapi di mataku kau begitu sempurna."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2