
Hari ini Zafia berangkat ke kampus bersama dengan Raiden. Namun, Sonya dan Marco tetap mengikuti di belakang mereka. Raiden lebih dulu mengantar Zafia hingga depan kelasnya. Di saat yang sama, Steven melewati Zafia
Steven sesaat berhenti tepat di hadapan Zafia dan Raiden dan lalu dengan tenangnya ia berucap. "Tawaranku kemarin masih berlaku, Fia. Pikirkanlah lagi."
Steven melempar senyum smirk pada Raiden. Namun, pemuda itu masih tenang dan tak terprovokasi. Setelah Steven berlalu dari hadapan Zafia dan Raiden. Pemuda itu langsung menatap Zafia dalam.
"Apa yang dia tawarkan padamu?" tanya Raiden penasaran, karena kemarin Zafia memang tidak mengatakan apa-apa mengenai apa yang ucapkan Steven padanya.
"Sesuatu yang menjijikkan. Dia menjadikan skripsiku sebagai ancaman. Dia pikir hal itu akan mengintimidasiku."
"Katakan apa yang dia ucapkan?"
"Kenapa? apa kau akan membunuhnya?" tanya Zafia. Raiden mendengus. Namun, tak urung dia mengangguk sembari membelai rambut Zafia.
"Dia memintaku untuk menghabiskan malam dengannya," ujar Zafia. Raut wajah Raiden seketika mengeras. Dia akan segera mencaritahu siapa sebenarnya Steven.
__ADS_1
Zafia masuk ke dalam kelasnya, sedangkan Raiden tidak jadi masuk. Dia kini justru memilih pergi ke markas untuk bertemu Julian, Sudah lama juga dia tidak melihat tawanannya.
Setibanya di markas King Devil. Raiden segera mencari Julian. Biasanya Julian akan ada di tempat dia menawan Bella.
"Julian," panggil Raiden. Julian yang sedang menyuapi Bella langsung menoleh.
"Bos." Wajah Julian tampak datar dan biasa saja, tapi Raiden bisa menangkap raut tegang di wajah anak buahnya itu.
"Ada apa? jangan katakan kalian saling jatuh cinta? aku bisa membunuhnya sewaktu-waktu, Julian."
Bella terdiam dan menunduk. Matanya seketika memanas, tidak ada harapan lagi. Selama ini dia banyak memupuk harapan pada Julian, Pria itu bersedia menjadi tempatnya menceritakan kepahitan dalam hidupnya. Ia berharap masih ada kesempatan untuknya agar bisa merasakan kebebasan.
"Maaf, Bos. A-aku ..."
"Tidak perlu kau jelaskan. Jika kau bisa menjamin wanita ini tidak lagi berani berulah. Aku akan lepaskan dia untukmu."
__ADS_1
Julian mengangkat wajahnya, ia menatap mata Raiden, mencoba mencari kebenaran dari ucapan bosnya itu.
"Apa anda serius?"
"Ya, aku pria yang tak pernah ingkar janji. Asal kau bersedia menjamin dia tidak akan mencurangi kekasihku, maka akan aku lepaskan dia untukmu. Lagipula aku risih, setiap hari didatangi oleh orangtuanya."
"Terima kasih, Bos. Aku berjanji akan menjaganya."
"Jangan senang dulu, mana data yang aku minta kemarin?"
"Ini, Tuan."
Raiden mengambil berkas yang ada di tangan Julian. Raiden langsung membuka berkas itu. Raiden langsung menyeringai tipis. Ternyata memang ada dendam kesumat. Akan tetapi, kenapa yang di serang Zafia bukan dirinya.
Sementara itu, usai menyelesaikan mata kuliahnya, Zafia menuju toilet diikuti oleh Sonya. Keduanya masuk ke toilet. Namun, hanya Zafia yang masuk ke dalam bilik toilet, sementara Sonya berjaga-jaga. Toilet kampus yang sedang meraka datangi memang tidak terlalu ramai. Kebanyakan dari mahasiswi memilih ke toilet Utama.
__ADS_1
Sonya tak menyadari jika sejak tadi ada yang mengintai mereka. Saat Sonya lengah tiba-tiba seseorang memukul tengkuk Sonya dengan balok. Sonya seketika jatuh pingsan.
Zafia yang mendengar suara gaduh langsung menyelesaikan hajatnya. Namun, alangkah kagetnya Zafia saat melihat Sonya terkapar. Belum sempat Zafia menjerit, seseorang membungkam mulut dan hidung Zafia dengan kain yang telah di beri obat bius. Zafia langsung terkulai lemas. Pria itu menyeringai karena akhirnya Zafia jatuh ke tangannya.