Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 25. Bicara


__ADS_3

Selama di dalam mobil wajah Raiden berubah seperti kucing manja di depan maminya. Rian mendengus kesal. Putranya memang aktor handal.


"Kamu benar-benar mempermalukan mami, Ray," ujar Velia sembari menarik telinga putranya.


"Aww, Mom. Aku sudah besar. Jangan perlakukan aku seperti itu?" gerutu Raiden.


"Lalu kamu mau diperlakukan seperti apa?"


"Aku lebih pantas disayang-sayang, dimanja-manja."


"Siapa yang memberimu ijin tidur di apartemen Zafia?"


"Calon papa mertua dan calon kakak ipar yang mengijinkan," kata Raiden.


"Bagus, pantas saja sejak tadi dia tidak mengatakan apa-apa. Karena dia turut andil berbuat salah," ujar Rian kesal.


"Calon papa mertua dan calon kakak ipar memberiku ijin tinggal di sana, karena Zafia sudah menerima lamaranku dulu, Dad."


"Baiklah, jika begitu kita bersiap pulang ke Indonesia. Aku tidak meminta banyak darimu, tapi sebagai seorang laki-laki yang bertanggungjawab kau harus bisa menjaga Zafia dengan segenap jiwa dan ragamu.


"Itu pasti, Dad."

__ADS_1


Velia dan Rian hanya saling melempar tatapan. Senyum tipis tersungging di bibir Velia. Dia merasa semakin tua melihat putra pertamanya akan menikah sebentar lagi.


***


Sementara itu, setelah keluarga Rian pulang. Dian menyandarkan kepalanya di sofa. Zafia masih duduk bersimpuh di bawah kaki Dian.


"Ma, Fia minta maaf."


"Mama pikir kamu bisa menjaga diri kamu di sini, tapi engga tahunya malah kamu yang mancing-mancing Raiden."


"Ma, aku itu sama Raiden dekat juga baru-baru ini. Lagi pula tadi itu aku cuma mau berterima kasih sama Raiden, karena selama ini Raiden selalu menjagaku."


"Kamu jangan ikuti arus perkembangan jaman, Fia. Berterima kasih itu ada banyak caranya. Tidak seperti kamu tadi."


"Ya sudah, kamu istirahat sana. Mama sama papa juga mau istirahat," kata Dian.


Zafia masuk ke kamarnya, sesaat dia menatap ke sofa tempatnya dan Raiden hampir memulai keintiman tadi sebelum kepergok oleh mama Dian.


Gadis tersenyum sendiri mengingat kelakuannya itu. Benar apa kata mamanya, dia sudah berlebihan dalam hal itu, tapi entah mengapa, setelah kejadian kemarin, perasaan Zafia pada Raiden yang semula anyep saja kini menjadi tak terbendung. Dia sangat menyukai Raiden dan tak rela Raiden jauh darinya.


Zafia membuka aplikasi pesannya dan mengetikkan beberapa kata.

__ADS_1


"Aku lolos dari interogasi. Bagaimana denganmu?"


Tak lama ponsel Zafia bergetar panjang. Zafia yang semula sudah siap untuk tidur, langsung terduduk. Ia merapikan surai rambutnya sesaat sebelum mengangkat panggilan video call dari Raiden.


"Apa kamu dimarahi oleh aunty Dian?"


"Tidak, mama hanya memberi beberapa petuah padaku."


"Mengenai apa?"


"Ya tentang mengikuti arus perkembangan jaman. Jangan sampai kita terseret."


"Kau sedang dimana?" tanya Zafia. Raiden memutarkan kamera ponselnya, memperlihatkan suasana kamar Raiden.


"Aku ada di kamar. Mama melarangku keluar rumah."


"Bagus lah, jadi kau bisa banyak beristirahat. Beberapa hari ini kau selalu sibuk mengurusku dan melupakan dirimu sendiri."


"Kau adalah prioritasku, Fia," desis Raiden. Zafia tersenyum lebar.


"Baiklah, aku matika dulu ponselnya. Kau harus istirahat, Ray."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Baby. Kau yang harusnya banyak istirahat," jawab Raiden. Zafia mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya kembali dan mengganjal ponselnya dengan bantal. Keduanya berbicara menceritakan apa yang dikatakan oleh orang tua mereka. Hingga Zafia akhirnya terlelap, Raiden masih enggan mematika ponselnya.


__ADS_2